Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Yaman Berduka atas Syahidnya Pemimpin Jihad dan Arsitek Pertempuran Badai Al-Aqsa

POROS PERLAWANAN — Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan duka mendalam atas syahidnya Mayor Jenderal Mohammed Abdul Karim Al-Ghamari, salah satu Komandan Tertinggi dalam pertempuran Badai Al-Aqsa. Al-Ghamari syahid bersama sejumlah rekan dan putranya, Hussein (13 tahun), dalam serangan udara agresi Amerika–Zionis terhadap Yaman yang telah berlangsung selama dua tahun.

Dalam pernyataan resminya, Militer Yaman menyebut syahidnya Al-Ghamari sebagai “kehilangan besar bagi bangsa dan medan jihad”, namun menegaskan bahwa operasi militer dan dukungan terhadap perjuangan Palestina akan terus berlanjut dengan kekuatan yang lebih besar.

“Darah para pemimpin kami tidak akan menghentikan perlawanan. Setiap syahid melahirkan generasi baru yang lebih kuat dan beriman”, demikian isi pernyataan Militer yang dikeluarkan pada Kamis 16 Oktober, seperti dilaporkan Sabanews.

Dua Tahun Pertempuran, 758 Operasi Dilancarkan

Angkatan Bersenjata Yaman melaporkan telah melancarkan 758 operasi militer selama dua tahun pertempuran, dengan 1.835 serangan melibatkan rudal balistik, jelajah, hipersonik, drone, dan kapal perang. Operasi laut, yang disebut paling luas dalam sejarah Militer Yaman, menargetkan lebih dari 228 kapal di wilayah Laut Merah, Bab al-Mandab, Teluk Aden, Laut Arab, dan Samudra Hindia, sebagai bagian dari blokade terhadap navigasi Israel.

Selain itu, Pertahanan UDARA Yaman menembak jatuh 22 pesawat pengintai MQ-9 buatan Amerika dan melancarkan 40 operasi menghadapi pesawat tempur musuh, termasuk pengebom strategis, dengan lebih dari 57 rudal diluncurkan.

Pemimpin Gugur, Tekad Tak Surut

Dalam pernyataan teologisnya, Militer menegaskan bahwa perjuangan mereka “berakar pada iman dan jihad suci” untuk membela rakyat Palestina dan menegakkan martabat bangsa. Gugurnya para pemimpin dianggap sebagai “syahid yang memuliakan bangsa, bukan kehilangan yang melemahkan”.

“Mayor Jenderal Al-Ghamari gugur dalam keadaan berjihad, menjalankan tugasnya dengan kesetiaan hingga akhir. Ia bergabung dengan kafilah para syuhada besar yang telah menumpahkan darahnya demi pembebasan Al-Quds”, lanjut pernyataan tersebut.

Keyakinan akan Kemenangan dan Keberlanjutan Misi

Militer menegaskan bahwa kematian para komandan tidak menghentikan pertempuran, melainkan memperkuat semangat jihad dan keberanian di antara barisan baru.

“Operasi militer tidak berhenti, rudal tidak mereda, dan sistem pertahanan tidak terguncang”, tulis pernyataan itu, seraya menegaskan tekad untuk melanjutkan perjuangan hingga pembebasan Yerusalem dan lenyapnya entitas Zionis.

Refleksi Ideologis dan Doa Penutup

Menutup pernyataan, Angkatan Bersenjata Yaman menyerukan pembaruan janji kesetiaan kepada para syuhada, menegaskan bahwa pengorbanan mereka menjadi “mercusuar jihad” yang menuntun perjuangan generasi berikutnya.

“Kemuliaan bagi para syuhada, kesembuhan bagi yang terluka, pembebasan bagi tawanan, dan kemenangan bagi rakyat kami di Palestina dan Yaman”, pungkas pernyataan tersebut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *