Yaman Bidik Jantung Energi Saudi, Pasokan Minyak Global Terancam
POROS PERLAWANAN – Konflik Yaman dan Arab Saudi kembali memasuki fase paling berbahaya sejak gencatan senjata 2022. Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke fasilitas minyak Aramco di Jizan dan Yanbu sebagai balasan atas serangan udara Saudi terhadap Hodeidah. Eskalasi yang kini menyasar jantung sektor energi Saudi itu memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia dan melonjaknya harga energi global.
Blokade Lama, Konflik Kembali Membara
Eskalasi terbaru merupakan kelanjutan dari konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Pada 2015, koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi melancarkan operasi besar-besaran ke Yaman dengan dalih mengembalikan pemerintahan Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi. Operasi tersebut melibatkan ribuan serangan udara, blokade pelabuhan dan bandara, serta dukungan terhadap pasukan darat.
Namun, harapan Riyadh untuk mengakhiri perang dalam waktu singkat tidak terwujud. Ansarullah bersama komite-komite rakyat berhasil mempertahankan kendali atas Sana’a dan sebagian besar wilayah utara Yaman. Dalam perkembangannya, kelompok ini membangun kemampuan rudal balistik, pesawat nirawak, dan operasi maritim yang memungkinkan mereka menyerang sasaran di wilayah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, bahkan pada periode tertentu kapal-kapal perang Amerika Serikat.
Setelah tujuh tahun peperangan, koalisi Saudi menerima gencatan senjata pada 2022. Meski sempat meredakan konflik, ketegangan kembali meningkat pada Juli 2026.
Menurut laporan ini, pemicu eskalasi terbaru bermula ketika sebuah pesawat Iran yang berupaya menembus blokade udara menuju Bandara Sana’a gagal mendarat setelah landasan pacu dibombardir. Pesawat tersebut kemudian mendarat di Hodeidah.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Yaman menyerang Bandara Abha di Arab Saudi menggunakan rudal dan drone. Beberapa hari kemudian, Sana’a mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal Saudi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab sebagai bentuk “blokade dibalas dengan blokade”, disertai serangan terhadap kapal tanker yang disebut melanggar blokade.
Aramco Jadi Sasaran, Yaman Tingkatkan Eskalasi
Ketegangan semakin meningkat ketika jet tempur Saudi membombardir sejumlah sasaran militer dan infrastruktur di Provinsi Hodeidah serta Pulau Kamaran. Serangan tersebut menargetkan pangkalan angkatan laut, kamp militer, dan fasilitas telekomunikasi, serta mengakibatkan sedikitnya dua warga sipil terluka.
Beberapa jam kemudian, Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah sasaran strategis di Arab Saudi. Fasilitas minyak Aramco di Jizan dan Yanbu menjadi target utama, disusul kawasan industri Jizan serta sejumlah instalasi militer. Laporan juga menyebut Pangkalan Udara Khamis Mushait ikut menjadi sasaran operasi.
Pemerintah Saudi mengklaim sebagian rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara. Namun, peringatan darurat yang dikeluarkan otoritas sipil di Jizan dan Yanbu menunjukkan ancaman tersebut dinilai serius.
Serangan terhadap infrastruktur energi Saudi dipandang berpotensi memengaruhi pasar minyak internasional mengingat Kerajaan merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia.
Di sisi lain, koalisi Saudi kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah posisi Ansarullah di Provinsi Ma’rib dan Al-Jawf. Sasaran operasi meliputi peluncur rudal, posisi artileri, dan gudang senjata. Riyadh mengklaim sejumlah personel Yaman tewas dalam serangan tersebut.
Ansarullah: Blokade Maritim Tetap Berlanjut
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa operasi terhadap fasilitas Aramco merupakan respons atas serangan Saudi terhadap Hodeidah dan Pulau Kamaran.
Ia mengatakan pasukannya melaksanakan dua operasi militer terpisah. Operasi pertama menyasar fasilitas penting Aramco di Jizan menggunakan puluhan rudal balistik dan pesawat nirawak, sedangkan operasi kedua menargetkan instalasi Aramco di Yanbu dengan rudal dan drone.
Saree menegaskan bahwa blokade maritim terhadap kapal-kapal Saudi akan tetap diberlakukan.
Sementara itu, anggota Biro Politik Ansarullah, Mohammed al-Bukhaiti, menyatakan bahwa Sana’a sebenarnya lebih memilih menghadapi Amerika Serikat, Inggris, dan Israel daripada membuka front baru dengan Arab Saudi. Menurutnya, apabila Washington ikut terlibat dalam operasi militer terhadap Yaman, maka respons akan diarahkan kepada Amerika Serikat.
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara resmi Ansarullah, Mohammed Abdulsalam, membantah bahwa Yaman berniat menutup Selat Bab al-Mandab atau mengganggu pelayaran internasional. Ia menegaskan bahwa blokade maritim yang diumumkan Angkatan Bersenjata Yaman hanya ditujukan terhadap kapal-kapal Arab Saudi.
Pernyataan senada disampaikan Sekretaris Jenderal Kataib Sayyid al-Shuhada Irak, Abu Alaa al-Wala’i. Melalui akun X, ia menyatakan bahwa apabila seluruh akses kehidupan rakyat Yaman terus diblokade, maka mereka memiliki hak untuk menutup Selat Bab al-Mandab.
“Akhiri blokade terhadap Yaman agar selat itu tetap terbuka bagi kalian. Jika tekanan terhadap Yaman terus ditingkatkan, maka jalur ini pun akan semakin menyempit bagi kalian,” tulisnya.
