3 Opsi Utama Hizbullah di Hadapan Israel Usai Berakhirnya Tenggat Gencatan Senjata
POROS PERLAWANAN – Dilansir Tasnim, dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah gencatan senjata ringkih antara Lebanon dan Rezim Zionis, yang terus dilanggar oleh Tel Aviv, banyak pihak di Kawasan dan dunia sibuk menganalisis perkembangan di front utara Tanah Pendudukan, juga kondisi Lebanon dan Hizbullah.
Kita banyak melihat analisis-analisis ini di media-media anti-Perlawanan. Sebagian analis berpendapat bahwa Hizbullah telah mengambil langkah mundur, menyusul kerugian yang dideritanya setelah kehilangan para pemimpin dan komandannya, terutama Sayyid Hasan Nasrallah.
Sebagian dari mereka melangkah lebih jauh dengan mengatakan, ”Hizbullah sudah tidak ada lagi. Di masa depan, Hizbullah akan sangat merosot. Terutama setelah perkembangan cepat Suriah, juga mundurnya kandidat Hizbullah untuk posisi Presiden Lebanon, Suleiman Franjieh, serta kemenangan Joseph Aoun yang didukung AS dan Saudi.”
Saat ini, Hizbullah memilih bungkam di hadapan seluruh analisis dan klaim ini. Hizbullah membiarkan orang-orang bicara sesuka hati mereka. Barangkali orang-orang yang hanya melihat secara lahiriah, juga para analis yang tidak memiliki reputasi profesional di level media dan analisis, hanya dengan sekali pandang akan mengatakan: sikap Hizbullah ini menandakan kegagalan dan langkah mundurnya.
Namun realita di balik layar menunjukkan hal berbeda. Seperti yang dilaporkan sumber-sumber yang mengetahui atmosfer Perlawanan di Lebanon, Hizbullah sudah mulai bekerja di berbagai level dengan kecepatan luar biasa. Di tahap awal, Otoritas Hizbullah mulai mengevaluasi skala kerugian yang diderita Lebanon akibat agresi Israel, untuk kemudian membereskan kerugian-kerugian tersebut.
Di level struktur internal, Hizbullah telah mengisi tempat-tempat kosong para pemimpin dan komandannya di tingkat politik, militer, keamanan, media, dan sosial.
Kurang dari 2 pekan lagi, Hizbullah secara khusus, dan rakyat Lebanon serta seluruh Kawasan secara umum, akan menghadapi kejadian-kejadian penting. Tenggat 60 hari gencatan senjata akan segera berakhir dan Israel harus mundur sepenuhnya dari berbagai kota dan desa selatan Lebanon. Pemerintah Lebanon dan negara-negara penjamin gencatan senjata juga mengemban misi penting untuk mengimplementasikan kesepakatan ini dan mewujudkan stabilitas.
Skenario-skenario Usai Berakhirnya Gencatan Senjata
Siapa pun yang selama 2 pekan terakhir mengikuti pernyataan dan kabar yang bocor dari kubu AS dan Israel, akan mengetahui bahwa fase mendatang bakal dipenuhi dengan kejutan-kejutan yang tidak dikehendaki Lebanon dan negara-negara Kawasan.
Usai berakhirnya gencatan senjata, tiap pelanggaran Israel terhadap butir-butir kesepakatan ini akan memicu reaksi-reaksi dengan berbagai konsekuensi menakutkan. Hal inilah yang memaksa AS dan Prancis bertindak sebelum tenggat ini berakhir, agar situasi tidak lepas dari kendali. Jika kali ini terjad perang antara Lebanon dan Rezim Zionis, seluruh Kawasan serta kepentingan AS dan Barat akan menanggung konsekuensi-konsekuensi berat.
Sejumlah forum di Lebanon meyakini bahwa dengan melihat bukti-bukti yang ada, juga reputasi Israel dalam melanggar tiap kesepakatan, termasuk kesepakatan gencatan senjata terbaru ini, ada kemungkinan Rezim Zionis tidak akan menepati janji-janjinya. Apalagi para petinggi Zionis merasa lebih percaya diri dengan masuknya Donald Trump ke Gedung Putih.
3 Opsi Hizbullah Hadapi Rezim Zionis
Jika Israel melakukan konspirasi militer baru usai berakhirnya gencatan senjata, tidak ada keraguan bahwa Hizbullah, seperti yang ditegaskan berulang kali oleh para wakil dan petingginya, merasa berkewajiban untuk mengambil sejumlah tindakan demi menghadapi agresi dan pendudukan Israel.
Berdasarkan analisis atas reaksi Hizbullah terhadap berlanjutnya agresi Israel usai gencatan senjata, Perlawanan Lebanon memiliki 3 opsi. Hizbullah akan menggunakan salah satunya jika Israel tidak mundur dari Lebanon dan menolak mematuhi butir-butir kesepakatan gencatan senjata.
1. Melempar Bola ke Lapangan Pemerintah Lebanon dan Mediator
Sejumlah negara Kawasan, juga partai-partai pro-Barat Lebanon dan musuh Perlawanan yang dipimpin Gerakan 14 Maret, terutama orang-orang seperti Samir Geagea, sudah sejak lama ingin agar Pemerintah Lebanon mengurus negara minus senjata-senjata Perlawanan. Dengan kata lain, mereka ingin persenjataan Hizbullah dilucuti.
Mereka juga menghendaki penempatan Militer Lebanon di seluruh kawasan selatan negara tersebut. Mereka ingin tak ada lagi pasukan dan persenjataan Hizbullah di selatan Lebanon. Padahal mereka tahu bahwa Pemerintah dan Militer Lebanon tidak punya kekuatan memadai untuk menghadapi israel dan bahwa Rezim Zionis hanya takut kepada pihak-pihak yang kuat.
Kendati Hizbullah lebih tahu dari selainnya bahwa Pemerintah dan Militer Lebanon lemah, juga bahwa banyak pihak asing akan memengaruhi keputusan-keputusan Beirut sesuai kepentingan mereka, namun demi tidak menyisakan peluang untuk berdalih, bisa saja Hizbullah akan melemparkan bola ke lapangan Pemerintah dan Militer Lebanon, termasuk para mediator asing, supaya mereka menunjukkan itikad dan kekuatan mereka untuk menjalankan kesepakatan gencatan senjata dan menghadapi agresi Israel.
2. Kembali Berperang Hanya di Kawasan-kawasan yang Diduduki Israel
Opsi kembali berperang melawan Israel di kawasan-kawasan perbatasan Lebanon yang diduduki Rezim Zionis, memiliki legalitas tinggi di level domestik dan internasional. Sebab, segala bentuk keraguan atau penundaan Israel untuk mundur dari seluruh wilayah Lebanon, atau pemaksaan realita-realita politik dan lapangan baru, sama saja dengan keluar dari kesepakatan gencatan senjata.
Dalam kondisi ini, Hizbullah dan faksi-faksi Perlawanan Lebanon lain, tidak lagi berkewajiban menjalankan kesepakatan gencatan senjata. Mereka bisa kembali ke medan perang kapan pun mereka inginkan, baik di hari setelah berakhirnya gencatan senjata atau di hari-hari lain. Jika opsi ini diambil, kemungkinan pertempuran hanya akan terjadi di kawasan-kawasan yang Israel menolak hengkang darinya.
Hal yang memperkuat opsi ini adalah pernyataan dari Wakil Ketua Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Qamati yang mengatakan, ”Jika Israel tidak mundur dari Lebanon setelah berakhirnya tenggat 60 hari gencatan senjata, itu berarti bahwa pasukan Israel di Lebanon dipandang telah menduduki negara ini. Hizbullah akan menyikapi mereka berdasarkan hal ini.”
3. Kembali Berperang Total
Mengingat bahwa Kabinet radikal Israel berusaha sebisanya memperpanjang perang di Kawasan demi memuluskan proyek ekspansinya dan melayani kepentingan pribadi Netanyahu, ada kemungkinan perang akan meluas jika Hizbullah memilih opsi berperang di kawasan-kawasan yang diduduki musuh.
Bila ini terjadi, Hizbullah akan kembali ke perang besar seperti yang terjadi sebelumnya. Ini berarti bahwa situasi front utara hingga tengah Tanah Pendudukan akan lebih kacau dari sebelum ini. Para pemukim Zionis, yang bahkan setelah berlakunya gencatan senjata tidak berani kembali ke permukiman-permukiman di utara, akan terpaksa kembali menyelamatkan diri. Bahkan penduduk Haifa dan Akko akan terpaksa pergi ke kawasan-kawasan lain seperti Tel Aviv dan sekitarnya.
Kejutan-kejutan Hizbullah untuk Rezim Pendudukan
Berkumandangnya sirene tanda bahaya, berlari menuju bungker-bungker, dan suara gemuruh ledakan adalah mimpi buruk bagi semua orang Zionis yang tidak pernah mengalaminya sebelum terjadinya operasi Badai al-Aqsa. Dalam kondisi apa pun, mereka tidak ingin kembali terjebak dalam situasi semacam ini.
Apa pun opsi yang bakal diambil Hizbullah, jika Israel enggan mematuhi kesepakatan gencatan senjata atau mereka memilih opsi perang atau opsi-opsi berbahaya lainnya, ada kemungkinan perang besar akan terjadi. Apalagi perang di Gaza masih berlanjut dan perundingan gencatan senjata belum membuahkan hasil hingga saat ini.
Jika perang kembali meletus, fakta yang akan menjadi jelas adalah bahwa berlawanan dengan semua bualan dan klaimnya, Israel sama sekali tidak menang. Seluruh klaim yang diumbar Israel siang malam soal berkurangnya kekuatan dan runtuhnya struktur Hizbullah, tidak lebih dari dusta belaka.
Di sini, kita perlu mengungkit salah satu pidato Syahid Sayyid Hasan Nasrallah beberapa tahun lalu, yang merupakan peringatan bagi rezim Zionis. Ia mengatakan, ”Hizbullah memiliki seratus ribu petempur terlatih yang siap berperang dalam kondisi apa pun.” Ini berarti bahwa lebih dari 95 ribu petempur Perlawanan Lebanon belum terjun ke medan sama sekali dan masih menunggu instruksi.
Secara keseluruhan, kita masih harus menanti berakhirnya 60 hari tenggat gencatan senjata, juga skenario-skenario setelahnya dan kejutan-kejutan yang disiapkan Perlawanan jika agresi dan pendudukan Israel masih berlanjut.
