Sanaa: Menerima Perpanjangan Gencatan Senjata Sama Saja dengan Menerima Blokade dan Agresi
POROS PERLAWANAN – Utusan PBB untuk urusan Yaman, Hans Grundberg pada Rabu 28 September bertemu dengan Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman, Mahdi al-Mashat.
Mengutip dari al-Masirah, al-Alam memberitakan bahwa pertemuan itu juga dihadiri PM Yaman, Abdulaziz bin Habtour. Mereka membicarakan upaya PBB untuk memperpanjang gencatan senjata, padahal negara-negara agresor tidak kunjung memenuhi tuntutan kemanusiaan rakyat Yaman.
“Sehubungan dengan tuntutan sederhana kemanusiaan untuk membayarkan gaji semua pegawai Pemerintah dan pensiunan serta mencabut blokade, rakyat Yaman telah diperlakukan tidak adil. Lebih dari itu, sumber-sumber kekayaan nasional Yaman juga dijarah oleh para agresor dan antek mereka; sumber-sumber yang bisa digunakan untuk membayar gaji selama bertahun-tahun,” kata al-Mashat.
Ia menegaskan, jika negara-negara agresor punya tekad utuk mengakhiri derita rakyat Yaman, masalah ini bisa diatasi dengan mudah.
“Sikap negara-negara agresor yang secara sengaja tidak mengurangi derita rakyat Yaman berarti bahwa rakyat tidak menerima gencatan senjata. Kami mendesak agar tuntutan-tuntutan rakyat Yaman dipenuhi melalui jalan damai yang adil dan menyeluruh,” kata al-Mashat.
“Pembayaran gaji para pegawai Pemerintah dan pensiunan adalah tuntutan utama rakyat Yaman. Jika hal ini tidak diwujudkan dan gencatan senjata tidak menunjukkan fungsinya, kami menolak perpanjangan, sebab menerima gencatan senjata semacam ini sama saja dengan menerima kelanjutan perang dan blokade atas rakyat.”
Al-Mashat menegaskan, Pemerintah Sanaa tidak mengharapkan bantuan dan pemberian pihak lain, tapi menuntut haknya dari aset-aset minyak dan gas serta sumber-sumber alam lain miliknya sendiri. Siapa pun yang menghalangi rakyat Yaman mendapatkan sumber-sumber miliknya, tandas al-Mashat, hendaknya dia tidak berharap memperoleh kalungan bunga.
