Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Menimbang Ulang Gagasan Pembentukan ‘Negara Israel’ di Amerika

Menimbang Ulang Gagasan Pembentukan ‘Negara Israel’ di Amerika

POROS PERLAWANAN – Sejak berdirinya “negara haram” Israel di tanah Palestina pada 1948, dukungan pemerintah Amerika Serikat terhadap Israel berlangsung tanpa syarat dan tampaknya tak mengenal batas. Berbagai kalangan sering mempertanyakan apakah kepentingan Israel lebih utama daripada kepentingan Amerika sendiri. Bahkan, tak sedikit yang mempertanyakan — mengapa Israel tidak didirikan saja di wilayah Amerika, yang luasnya lebih dari cukup?

Loyalitas total Amerika kepada Israel, yang bertahan selama lebih dari tujuh dekade, menimbulkan pertanyaan mendalam di kalangan akademisi, aktivis, dan masyarakat umum. Salah satu alasannya terkuak dari sebuah penelitian mendalam tentang hubungan AS-Israel ini dalam buku “The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy” karya John Mearsheimer dan Stephen Walt. Buku ini mengungkapkan bagaimana lobi-lobi pro-Israel mempengaruhi begitu kuat, sampai pada posisi penentuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk miliaran dolar bantuan militer yang diberikan setiap tahunnya ke Israel, yang melampaui bantuan kepada negara-negara sekutu lain. Hal ini kemudian mendorong kita bertanya: apa yang membuat hubungan ini begitu intim dan istimewa?

Beberapa pengamat bahkan menyebut Israel sebagai “negara bagian ke-51” Amerika Serikat. Di tengah statment ini, pertanyaan lebih mendasar muncul: jika memang bangsa Yahudi membutuhkan tanah air yang aman, mengapa Amerika Serikat yang tanahnya sangat luas itu tidak dipertimbangkan sebagai tempat berdirinya “negara” Israel? Mengapa Palestina yang harus menanggung dampak dari pendirian “negara” palsu itu?

Menghidupkan Kembali Gagasan “Ararat”

Ide untuk mendirikan negara Yahudi di Amerika, sejatinya, bukanlah hal baru. Pada abad ke-19, seorang tokoh bernama Mordecai Manuel Noah, seorang diplomat Amerika keturunan Yahudi, mencetuskan gagasan untuk mendirikan tanah air bagi orang Yahudi di Amerika. Dalam karyanya yang berjudul “Discourse on the Restoration of the Jews”, Noah mengusulkan pembentukan sebuah negara Yahudi di Pulau Grand di New York, yang ia beri nama “Ararat.” Ia memandang Amerika sebagai tanah yang aman dan bebas dari prasangka yang menimpa kaum Yahudi di Eropa.

Pada tahun 1813, Noah menjabat sebagai konsul Amerika Serikat di Tunisia. Lima tahun kemudian, dalam peresmian sinagoge di New York, ia menyampaikan visinya untuk menciptakan tanah air bagi kaum Yahudi di Amerika. Pulau Grand di Sungai Niagara dipilihnya sebagai lokasi ideal, dengan rencana membeli lahan seluas 70 kilometer persegi untuk proyek ini. Pada tahun 1830, ia bahkan memperoleh izin untuk membeli sebagian besar pulau tersebut, dengan harapan menjadikannya ibu kota abadi bagi bangsa Yahudi.

Dalam deklarasinya, Noah mengundang semua orang Yahudi dari seluruh dunia untuk berimigrasi ke Amerika dan menemukan kehidupan bebas dari penindasan. Di pintu gerbang masuk kota Ararat yang baru dibangunnya, ia menulis sebuah prasasti atas nama dirinya dan Yahudi: “Saya, Mordecai Manuel Noah, warga Amerika dan mantan konsul Amerika Serikat di Tunisia, dengan berkat Tuhan, menawarkan tempat perlindungan bagi kaum Yahudi di seluruh dunia, tempat di mana mereka dapat hidup damai dan bahagia, jauh dari prasangka.

Noah bahkan mengusulkan pengumpulan pajak satu dolar Spanyol dari setiap sinagoge Yahudi di dunia untuk mendukung pembangunan kota Ararat itu. Ia kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai “hakim dan penguasa” dengan masa jabatan empat tahun, yang nanti akan dipilih melalui pemilihan. Namun sayang, setelah kematiannya, gagasan ini perlahan menghilang, dan beberapa wilayah alternatif mulai dipertimbangkan, termasuk Uganda, dan akhirnya pilihan jatuh pada Palestina.

Mengapa Amerika Tidak Menjadi Pilihan?

Meskipun ide ini telah terkubur lama dalam sejarah, wacana mengenai pendirian “negara” Israel di tanah Amerika masih hidup dalam benak disebagian aktivis anti-Zionisme. Mereka kembali mempertanyakan, jika Amerika yang memiliki wilayah 444 kali lebih luas dari wilayah Palestina, mengapa Amerika tidak menyediakan ruang bagi Israel di sana?

Banyak yang berpendapat bahwa Amerika, terutama di bagian barat yang luas dan jarang dihuni oleh penduduk, memiliki cukup ruang untuk menyediakan wilayah otonom bagi bangsa Yahudi. Ide ini mungkin terdengar konyol dan kontroversial, tetapi pertanyaan di baliknya itu benar-benar sahih: apakah penempatan Israel di Palestina adalah satu-satunya solusi yang tersedia? Bagaimana jika ada pilihan lain yang lebih damai dan tidak mengorbankan satu kelompok bangsa?

Meningkatnya Kesadaran Publik Amerika dan Eropa

Di tengah meningkatnya konflik dan genosida di Gaza, kesadaran masyarakat Amerika mengenai isu Israel-Palestina semakin tinggi, terutama di kalangan para pemuda dan mahasiswa. Banyak dari mereka mulai mempertanyakan, apa manfaat dari bantuan besar-besaran yang Amerika berikan kepada Israel, yang bahkan mencapai sekitar 3,8 miliar dolar per tahun dalam bentuk bantuan militer. Apakah bantuan ini benar-benar sejalan dengan kepentingan nasional Amerika?

Gelombang protes yang semakin masif di Eropa dan Amerika menunjukkan bahwa publik dunia, juga di Amerika kini lebih vokal dalam mempertanyakan hubungan antara kedua negara itu. Media sosial kini menjadi platform penting untuk membangun wacana ini, dengan beberapa pengguna X misalnya, mengangkat ide-ide alternatif untuk mengatasi konflik. Salah seorang pengguna bahkan mengunggah gambar-gambar peta “Ararat” dan memunculkan pernyataan-pernyataan menggelitik: “Berikan mereka ruang di tanah luas ini, dan biarkan dunia menyaksikan apakah Amerika benar-benar akan menerima atau menolak.

Dampak Politik dari Wacana Alternatif

Tentu, gagasan untuk memindahkan Israel ke wilayah Amerika bukanlah hal yang mudah atau realistis untuk diwujudkan saat ini. Namun, wacana ini sangat menyentuh inti dari hubungan kompleks dan intim antara Amerika dan Israel. Gagasan ini mungkin tak akan terwujud, tetapi ia memiliki nilai penting sebagai cerminan dari perubahan kesadaran publik di Amerika dan Eropa yang mulai mempertanyakan status quo.

Jika gagasan ini berhasil membuka diskusi yang lebih luas, mungkin dunia akan mulai mencari solusi baru dalam menghadapi konflik Israel-Palestina. Alternatif seperti ini bisa jadi dapat membantu mengurangi ketegangan dan memberikan kesempatan bagi para pihak untuk memikirkan pendekatan baru yang lebih damai dan berkeadilan. Realistis bukan? [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *