Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Foreign Affairs: Hizbullah, Gerakan Berakar yang Tetap Kuat di Tengah Ancaman dan Kehilangan Pemimpin

POROS PERLAWANAN – Majalah Foreign Affairs, yang diterbitkan oleh Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat, baru-baru ini membahas dampak pembunuhan para pemimpin Hizbullah oleh rezim Zionis terhadap kekuatan Kelompok Perlawanan ini. Dalam laporan pada 11 November berjudul, “Targeted Killings Won’t Destroy Hezbollah: The Sordid History of a Flawed Tactic”, dan ditulis oleh Sarah E. Parkinson dan Jonah Schulhofer-Wohl menegaskan, “Hizbullah adalah gerakan berakar yang justru menjadi lebih kuat saat para pemimpinnya dibunuh.”

Foreign Affairs dalam artikel menyebut bahwa Hizbullah, di bawah kepemimpinan Naim Qasim, terus meningkatkan intensitas serangan terhadap Israel. Kemampuan Kelompok ini dalam perang darat dan gerilya tidak hanya terbukti, tetapi juga berkembang signifikan. Dari sebuah kelompok kecil pejuang gerilya, Hizbullah kini telah bertransformasi menjadi organisasi besar yang terstruktur dengan kokoh. Bahkan, kematian para pemimpinnya tidak menghambat, melainkan semakin memperkuat pergerakan mereka.

Majalah Foreign Affairs juga menyoroti, setiap kali seorang pemimpin Hizbullah dibunuh, organisasi ini merespons dengan serangan yang lebih besar dan intens. Contohnya, pascapembunuhan Abbas Al-Mousawi, mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah, serangan terhadap posisi Israel meningkat secara signifikan, menandai perlawanan yang semakin terorganisasi.

Rezim Zionis dan pendukungnya, termasuk Amerika Serikat, telah menggunakan kebijakan pembunuhan terarah terhadap para pemimpin Hizbullah selama beberapa dekade. Namun, taktik ini terbukti tidak efektif untuk melemahkan organisasi yang memiliki akar kuat di masyarakat Lebanon. Hizbullah tidak hanya menjadi simbol perlawanan militer, tetapi juga partai politik dengan perwakilan di parlemen dan Pemerintahan Lebanon.

Menurut Foreign Affairs, meski pembunuhan pemimpin Hizbullah dapat menciptakan kekosongan sementara, organisasi ini mampu beradaptasi dengan cepat. Kebijakan tersebut, alih-alih menyelesaikan konflik, justru memperpanjangnya dan semakin memperkuat basis sosial Hizbullah. Ini mencerminkan ketangguhan mereka dalam beradaptasi dengan berbagai tantangan dan ketegangan yang terjadi.

Serangkaian serangan baru-baru ini oleh Hizbullah membuktikan ketangguhan Kelompok ini. Dalam waktu 24 jam, Hizbullah meluncurkan lebih dari 30 serangan ke wilayah Pendudukan Israel, termasuk ke markas Brigade 769 di Ramim dan beberapa pangkalan strategis lainnya. Serangan-serangan tersebut tidak hanya menggagalkan upaya maju rezim Zionis di perbatasan Lebanon-Palestina, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, termasuk pemadaman listrik besar-besaran di Nahariya.

Kondisi ini menyebabkan wilayah utara Israel dalam keadaan genting. Kepala Dewan Kota Margaliot, Eitan Davidi mengakui bahwa banyak penduduk di wilayah tersebut telah meninggalkan rumah mereka, dengan kemungkinan kecil untuk kembali.

Kejahatan Perang dan Pelanggaran Hukum Internasional

Serangan Israel di Lebanon tidak hanya menyebabkan ribuan korban jiwa, tetapi juga melanggar hukum internasional dengan penggunaan bom curah yang dilarang. Selain menyebabkan kerusakan fisik, senjata ini menimbulkan risiko besar bagi warga sipil setelah perang berakhir. Pihak internasional mulai mempertanyakan efektivitas strategi ini, sementara rezim Zionis terus melanggar norma-norma hukum yang ada.

Upaya internasional untuk menghentikan kekerasan, termasuk pembicaraan tentang gencatan senjata, sejauh ini menemui jalan buntu. Hizbullah menegaskan tidak akan memberikan konsesi terhadap kebebasan operasi udara Israel di wilayah udara Lebanon.

Secara keseluruhan, catatan Foreign Affairs lebih tegas mengatakan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang ditargetkan, menunjukkan bahwa serangan Israel terhadap Hizbullah tidak mampu menghancurkan organisasi ini.

Israel telah menggunakan berbagai taktik pembunuhan selama beberapa dekade, tetapi hasilnya justru memperlihatkan ketangguhan dan kemampuan adaptasi Hizbullah. Setiap upaya untuk melemahkan kepemimpinan Kelompok ini hanya menghasilkan kekerasan yang lebih besar, ekspansi organisasi, dan meningkatnya pengaruh Hizbullah di Kawasan.

Tidak ada yang memahami dampak serangan Israel lebih baik daripada rakyat Lebanon. Duta besar Lebanon untuk Inggris, Rami Mortada, pada Oktober lalu, menegaskan, “Serangan Israel hanya akan memperkuat Hizbullah. Hal itu akan meningkatkan frustrasi di antara penduduk Lebanon dan memperkuat pesan Hizbullah selama 40 tahun terakhir—bahwa Israel hanya memahami bahasa kekerasan.”

Hizbullah telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar Organisasi Perlawanan, melainkan sebuah gerakan berakar yang terus tumbuh dari jantung masyarakat. Dengan dukungan penuh masyarakat Lebanon dan kemampuan mereka untuk beradaptasi, Hizbullah menjadi salah satu aktor kunci dalam dinamika geopolitik Kawasan, dan selalu menghadirkan tantangan besar, sampai Rezim penjajah Israel benar-benar terhapus dari peta dunia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *