Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Detail Proses Gencatan Senjata di Lebanon Ungkap Pengaruh Besar Kekuatan Hizbullah dalam Negosiasi

POROS PERLAWANAN – Sumber-sumber tepercaya yang mengikuti perkembangan negosiasi Amos Hochstein di Beirut menyebutkan bahwa kekuatan militer Perlawanan memainkan peran signifikan dalam pembicaraan politik. Bahkan, pihak Amerika Serikat sendiri mengakui bahwa tuntutan Lebanon masuk akal, sehingga jika Israel menolak atau menghalangi kesepakatan, tanggung jawab atas kegagalan negosiasi sepenuhnya berada di tangan Israel.

Hochstein Tinggalkan Beirut, Spekulasi Dimulai

Utusan khusus Amerika Serikat, Amos Hochstein, yang mengunjungi Lebanon untuk menyelesaikan konsultasi terkait gencatan senjata, meninggalkan Beirut menuju Tel Aviv kemarin. Kepergiannya memicu spekulasi terkait isi pembicaraannya dengan pejabat Lebanon, yang diduga mencakup implementasi Resolusi 1701 serta mekanisme pengawasan situasi di perbatasan setelah perang berhenti.

Isi Negosiasi Gencatan Senjata dan Tuntutan Lebanon

Hochstein mengadakan dua pertemuan dengan Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon, diikuti dengan diskusi intensif sepanjang malam di Kedutaan Besar AS. Pembicaraan ini melibatkan Penasihat Nabih Berri, Ali Hamdan, serta tim Amerika. Menurut sumber terkait, selama pembahasan, terdapat komunikasi telepon dengan pihak Israel dan tim Amerika yang mewakili Pemerintahan Presiden Joe Biden.

Setelah pertemuan kedua, Hochstein menyatakan bahwa ia akan kembali ke Tel Aviv untuk menyelesaikan pembahasan gencatan senjata. Ia menyebut adanya kemajuan, meski enggan membeberkan rincian kontroversial secara publik.

Namun, harian Al-Akhbar pada Kamis 21 November melaporkan bahwa draf kesepakatan gencatan senjata mencakup poin-poin penting yang diajukan Lebanon, termasuk penetapan Garis Biru sebagai perbatasan resmi, penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah yang disepakati, dan pengembalian status quo seperti sebelum perang 6 Oktober 2023. Lebanon juga menginginkan jaminan Israel untuk penarikan penuh secara serentak, pembebasan tahanan, dan pengembalian jenazah pejuang Perlawanan.

Lebanon menekankan bahwa semua tuntutan ini harus tercantum dalam dokumen resmi, dan jika Israel menolak, maka mereka bertanggung jawab atas gagalnya upaya AS untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Manuver Israel dan Kekhawatiran Lebanon

Meski optimisme terlihat dalam pernyataan resmi Lebanon, ada kekhawatiran terhadap manuver Israel yang didukung Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, diprediksi akan mencoba menggagalkan kesepakatan melalui berbagai cara. Hal ini diperkuat dengan sikap AS yang kemarin memblokir resolusi gencatan senjata di Gaza di Dewan Keamanan PBB.

Poin-Poin Kontroversial dalam Negosiasi

Menurut sumber Lebanon, dua isu utama masih menjadi ganjalan: kebebasan operasi militer Israel di Lebanon dan masalah pengawasan perbatasan. Meski demikian, Lebanon tetap berupaya mencari solusi yang tidak merugikan kedaulatannya sesuai Resolusi 1701. Upaya ini berhasil memindahkan tekanan diplomatik ke pihak Israel.

Sinyal Optimisme dan Peran Negara Lain

Media Israel mulai mengungkap detail tambahan terkait kemungkinan waktu pelaksanaan gencatan senjata. Beberapa sumber optimistis bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat, sementara yang lain bersikap skeptis. Amerika Serikat juga disebutkan menawarkan jaminan keamanan kepada Israel, termasuk hak untuk mengambil tindakan tegas jika Lebanon melanggar kesepakatan.

Selain itu, peran Mesir, Uni Emirat Arab, dan Yordania disebut signifikan dalam mendukung penguatan militer Lebanon sebagai bagian dari stabilisasi Kawasan.

Pengaruh Kekuatan Militer Hizbullah

Menurut laporan, operasi yang dilakukan Hizbullah baru-baru ini terhadap Tel Aviv, sebagai respons atas serangan Israel, memiliki dampak besar dalam negosiasi. Hizbullah menunjukkan bahwa Israel tidak mampu mendikte syarat-syaratnya. Laporan The New York Times bahkan mengonfirmasi bahwa Israel gagal menghancurkan ancaman rudal jarak pendek Hizbullah, yang terus memberikan tekanan pada Kabinet Israel untuk menerima gencatan senjata sebagai jalan keluar sementara.

Negosiasi ini menggambarkan keseimbangan kekuatan di Kawasan, dengan Lebanon memanfaatkan tekanan militer Hizbullah untuk memperjuangkan kedaulatannya di meja perundingan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *