Media Pemerintah Gaza: Bencana Kelaparan dan Penderitaan Rakyat Kami sudah Mencapai Tingkat Kritis dan Mengkhawatirkan
POROS PERLAWANAN – Kantor Media Pemerintah di Gaza sebagaimana dinukil oleh SABA, pada Jumat 30 November memperingatkan situasi kritis yang dialami rakyat Palestina. Mereka menyatakan bahwa kondisi kelaparan dan penderitaan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan akibat serangan dan blokade yang diberlakukan oleh zionis.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Kantor tersebut mendesak World Food Programme (WFP) untuk segera mengambil tindakan nyata dengan mendistribusikan tepung kepada warga Palestina. Langkah ini diperlukan untuk mengatasi krisis pangan yang terus memburuk dan menghentikan antrean panjang yang terjadi di depan toko roti.
Dijelaskan bahwa selama lebih dari 420 hari berturut-turut, Militer Israel telah menerapkan kebijakan pengepungan yang menutup akses masuk dan keluar dari Jalur Gaza. Kebijakan ini secara khusus berdampak pada anak-anak dan perempuan, yang menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini.
“Kami sangat kecewa dengan ketidakmampuan organisasi internasional yang beroperasi di Gaza untuk memberikan solusi nyata,” ungkap pernyataan itu. “Dalam beberapa hari mendatang, kami akan mengungkapkan detail kegagalan ini.”
Mereka menambahkan bahwa sejumlah lembaga internasional diduga telah berkolaborasi dengan kebijakan represif Israel, yang menargetkan warga sipil dan kelompok rentan di Gaza. Kebijakan ini dianggap semakin memperburuk situasi kemanusiaan, terutama bagi anak-anak, perempuan, dan pasien.
Kantor tersebut juga menyoroti penolakan WFP untuk mendistribusikan stok tepung dalam jumlah besar yang tersedia di gudangnya. Penolakan ini dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan blokade yang memperburuk kelangkaan pangan.
“Kami menerima kabar duka tentang tiga korban jiwa akibat desak-desakan di depan toko roti. Mereka kehilangan nyawa saat berusaha mendapatkan roti bagi keluarga mereka,” ungkapnya. “Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi, yang telah kami peringatkan sejak lama.”
Lebih lanjut, mereka mengecam kebijakan sistematis yang diterapkan militer Israel untuk memperburuk kondisi rakyat Palestina. Kebijakan ini secara langsung menyerang kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan, dan warga sipil, yang merupakan pelanggaran hukum internasional. Mereka meminta dunia internasional untuk mengutuk tindakan ini sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kantor Media juga menuntut WFP bertanggung jawab atas dampak kebijakannya di Gaza, termasuk tragedi yang terjadi akibat kegagalan dalam pengelolaan bantuan. WFP didesak segera mendistribusikan tepung untuk mencegah semakin parahnya krisis pangan dan mengurangi antrean panjang di depan toko roti. Selain itu, lembaga ini diminta bertanggung jawab atas kerugian yang dialami keluarga para korban, yang menjadi korban dari kebijakan mereka.
Organisasi internasional lainnya juga diperingatkan untuk tidak mendukung kebijakan Pendudukan Israel secara langsung maupun tidak langsung. Kebijakan seperti memperketat blokade atau menghambat kinerja lembaga kemanusiaan akan semakin memperburuk situasi di Gaza.
Kantor ini menyerukan negara-negara Arab dan Muslim untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina dan menolak segala bentuk kolaborasi dengan kebijakan yang menindas. Selain itu, komunitas internasional dan lembaga-lembaga PBB diminta bertindak tegas menghentikan pelanggaran serius yang dilakukan oleh militer Israel, yang telah menyebabkan lebih dari 160.000 korban, termasuk korban meninggal, terluka, hilang, dan ditahan.
Mengakhiri pernyataannya, Kantor tersebut menegaskan bahwa rakyat Palestina telah memasuki fase krisis yang sangat mengkhawatirkan. Tanpa tindakan nyata, bencana kemanusiaan yang lebih besar hanya tinggal menunggu waktu.
