Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Mohsen Rezaei Ungkap Potensi Teroris Suriah Binaan AS Serang Irak dalam Waktu Dekat

POROS PERLAWANAN – Sekretaris Dewan Tinggi Koordinasi Ekonomi Iran, Mohsen Rezaei mengungkapkan bahwa terdapat kamp pelatihan di wilayah utara Suriah yang dikelola oleh Amerika Serikat, tempat sekitar 11 ribu anggota ISIS beserta keluarganya telah dilatih selama empat tahun terakhir. Menurut Rezaei, dalam beberapa bulan mendatang, kelompok ini kemungkinan besar akan menyerang Mosul atau Tikrit, Irak.

Berbicara di sela-sela Pameran Dirgantara Internasional di Kish, pada Selasa 10 Desember, Rezaei menyoroti perkembangan terbaru di kawasan tersebut. Ia menyatakan bahwa konflik yang dimulai di Gaza, kemudian meluas ke Lebanon, dan kini memasuki Suriah dalam dua minggu terakhir, menunjukkan ambisi kekuatan internasional untuk menghadapi gerakan kemerdekaan negara-negara regional. Ia memperingatkan rencana serupa mungkin diarahkan ke Irak dan bahkan Iran.

Serangan Infrastruktur di Suriah

Rezaei juga mengungkapkan, dalam 24 jam terakhir, sebanyak 250 titik infrastruktur di Suriah menjadi target serangan Israel, Amerika Serikat, dan kelompok teroris. Dijelaskannya, pusat penelitian militer di Suriah kini hampir hancur sepenuhnya akibat serangan tersebut.

Menurut Rezaei, peristiwa serupa yang terjadi di Lebanon dan Suriah juga dapat terjadi di Irak dalam waktu dekat. Hal ini, menurutnya, mencerminkan ketakutan musuh terhadap upaya negara-negara regional untuk meraih kedaulatan. “Mereka menggunakan segala cara untuk melemahkan bangsa-bangsa di kawasan ini dan menghancurkan semangat kemerdekaan mereka,” ujar Rezaei.

Transformasi Geopolitik Asia Barat

Rezaei menegaskan bahwa kekuatan asing sedang berusaha mengubah wajah geopolitik Asia Barat. “Kejahatan yang dilakukan untuk tujuan ini bahkan lebih buruk daripada kekejaman Hitler,” katanya.

Ia menyerukan agar negara-negara regional bangkit menghadapi ancaman ini, karena setiap penurunan stabilitas keamanan akan membawa dampak yang tak terpulihkan.

Rezaei juga mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan kekuatan Barat tidak segan-segan mengkhianati sekutunya sendiri. “Prioritas utama mereka adalah menjarah sumber daya negara lain,” ujarnya.

Kemandirian Militer Iran

Mengenai kemajuan militer Iran, Rezaei menegaskan bahwa kemampuan produksi dalam negeri adalah bukti kepercayaan diri bangsa. Ia mengingatkan masa lalu, ketika Iran terhina saat harus membeli atau memperbaiki pesawat militer sebelum Revolusi Islam. Kini, Iran memproduksi berbagai peralatan militer secara mandiri dan melanjutkan kemajuan ini dengan penuh percaya diri.

Ia juga mengenang masa sulit selama Perang Iran-Irak, ketika banyak negara yang sebelumnya memiliki kontrak kerja sama militer dengan Iran memilih untuk meninggalkan negara itu. “Namun, kami berhasil bertahan dengan tangan kosong dan semangat yang kuat hingga mencapai posisi seperti saat ini,” tegasnya.

Menghadapi Tantangan Ekonomi dan Sanksi

Di tengah tekanan ekonomi dan sanksi internasional, Rezaei menyatakan bahwa kekuatan asing berusaha melemahkan bangsa Iran yang memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan utama dunia.

Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan industri penerbangan dan luar angkasa di Iran, dengan fokus khusus dalam Rencana Pembangunan Nasional Ketujuh. Dewan Tinggi Koordinasi Ekonomi, menurutnya, mendukung penuh setiap kemajuan dalam sektor militer dan penerbangan nasional.

Laporan ini menggambarkan tantangan strategis yang dihadapi Iran di tengah dinamika politik dan militer Kawasan, serta tekad negara itu untuk mempertahankan kedaulatan dan memperkuat kemampuan militernya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *