Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Pertemuan Menteri Luar Negeri Arab Bersama Turki dan AS di Yordania

POROS PERLAWANAN – Para menteri luar negeri dari sejumlah negara Arab dan non-Arab hari ini mengadakan pertemuan di ibu kota Yordania, yang katanya untuk membahas perkembangan terbaru di Suriah.

Berdasarkan laporan Fars News Agency, pada Sabtu 14 Desember, para menteri luar negeri dari beberapa negara Arab, bersama perwakilan negara lain, berkumpul di Yordania untuk berdiskusi mengenai “masa depan Suriah”, sebagaimana diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Yordania. Namun, surat kabar Al-Quds Al-Arabi melaporkan, tidak ada perwakilan dari Suriah yang hadir dalam pertemuan ini.

Kementerian Luar Negeri Yordania menyatakan tujuan pertemuan tersebut adalah “membahas cara mendukung Suriah dalam fase transisi pasca-jatuhnya Bashar al-Assad”. Menurut kementerian itu, diskusi ini bertujuan untuk “memastikan proses politik yang inklusif di bawah kepemimpinan Suriah, mencakup seluruh kelompok di negara yang terpecah belah ini”.

Dalam kaitannya, sumber-sumber Yordania melaporkan, menteri luar negeri dari Yordania, Arab Saudi, Irak, Lebanon, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar dipastikan hadir dalam pertemuan tersebut. Pertemuan ini diadakan di kota Aqaba, dengan kehadiran Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Turki, dan Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS.

Selain itu, Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, dan Geir Pedersen, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, juga dijadwalkan menghadiri acara ini.

Koordinasi Reaksi Internasional terhadap Suriah

Khaled Shanikat, Ketua Asosiasi Ilmu Politik Yordania, mengatakan kepada Al-Arabi Al-Jadeed bahwa tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk mengoordinasikan respons regional, Amerika, dan Eropa terhadap perkembangan di Suriah. Menurutnya, negara-negara tersebut mengamati dengan cermat situasi di Suriah, termasuk proses transisi politik, isu keadilan, dan pandangan pemerintahan transisi serta kelompok oposisi terhadap hubungan luar negeri, khususnya dengan Amerika Serikat.

Shanikat juga menyebutkan, AS khawatir kelompok teroris Suriah dapat menjadi ancaman nyata bagi Israel. Karena itu, Washington memberikan lampu hijau kepada Israel untuk menguasai wilayah Jabal Al-Sheikh, sekaligus menghancurkan persenjataan udara, rudal balistik, dan sistem pertahanan udara Suriah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan AS memiliki kehadiran militer dan pangkalan di timur Suriah. Washington ingin mempertahankan keberadaan dan kepentingannya, termasuk hubungannya dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Shanikat juga menyinggung negara-negara seperti AS mungkin mendukung otonomi Kurdi, sebuah gagasan yang sebelumnya juga diangkat oleh Yisrael Katz, Menteri Luar Negeri Israel, terkait pentingnya otonomi atau kemerdekaan Kurdi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *