The Jewish Agency for Israel: Eksistensi Israel Terancam
POROS PERLAWANAN – Kepala Jewish Agency, Doron Almog menyoroti tantangan besar yang dihadapi Israel, baik dari dalam maupun luar negeri, dengan memberikan analisis mendalam mengenai situasi “negara” tersebut, terutama di perbatasan utara dan selatan.
“Saya telah mengatakan ini berkali-kali, dan akan terus mengulanginya: ancaman terbesar dan paling nyata bagi Israel datang dari dalam, bukan dari luar. Karena itu, kemenangan sejati adalah menciptakan masyarakat yang memiliki berbagai wacana. Polarisasi dalam masyarakat Israel semakin dalam, dan ini adalah hasil dari perang kita di Jalur Gaza dan Lebanon. Perpecahan ini, serta pendalaman perpecahan tersebut, adalah ancaman terbesar bagi Israel, dan ancaman ini ada di dalam negeri, bukan dari luar,” ujar Almog.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kolonel Cadangan Doron Almog, yang saat ini menjabat sebagai Kepala The Jewish Agency, sebuah organisasi yang berfungsi sebagai sayap eksekutif gerakan Zionisme global untuk Israel. Jewish Agency dimulai pada 1908 di Jaffa, dengan nama “The Palestine Office”, sebagai cabang operasional dari Organisasi Zionis Dunia di Palestina yang masih berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Tugas utama organisasi ini adalah membeli tanah milik warga Palestina melalui Jewish National Fund untuk memfasilitasi imigrasi Yahudi dan permukiman mereka di Palestina.
Karier Militer Almog
Doron Almog memiliki rekam jejak panjang di Militer Israel, termasuk memegang posisi sebagai Komandan Wilayah Selatan dari akhir 2000 hingga 2003, yang bertepatan dengan dimulainya Intifada Kedua Palestina. Pada 2005, pengadilan Inggris mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Almog dengan tuduhan melakukan kejahatan perang yang melanggar Konvensi Jenewa, termasuk keterlibatannya dalam penghancuran 50 rumah milik warga Palestina di Rafah, selatan Jalur Gaza.
Ketika Almog, tanpa mengindahkan surat perintah tersebut, berencana untuk mengunjungi London guna menggalang dana bagi proyek Zionis, Dubes Israel memperingatkannya untuk tidak mendarat di Bandara London karena risiko penangkapan. Almog kemudian kembali ke Tel Aviv untuk menghindari penangkapan. Meskipun surat perintah tersebut akhirnya dicabut oleh Pemerintah Inggris pada masa mendatang, Almog tetap membatasi pergerakannya di wilayah Pendudukan untuk menghindari risiko penangkapan atau pengadilan.
Protes Terhadap Reformasi Sistem Peradilan Israel
Dalam wawancara panjang dengan surat kabar berbahasa Ibrani Calcalist yang diterbitkan pada 28 November 2023, Almog menyatakan keprihatinannya tentang ketidakstabilan di dalam negeri Israel, yang pertama kali terlihat dalam gelombang protes terhadap rencana Reformasi Peradilan yang diajukan oleh rezim Netanyahu. Protes tersebut menyebabkan Jewish Agency memberi peringatan langsung kepada Netanyahu.
“Saya mengatakan kepada Netanyahu bahwa jika Reformasi ini memang harus dilakukan, maka itu harus dilakukan melalui konsensus luas. Ketika saya ditanya apa itu konsensus luas, saya menjawab bahwa itu berarti mendapatkan dukungan dari 80 persen masyarakat Israel terhadap perubahan tersebut,” ujar Almog.
Almog menilai bahwa Reformasi Peradilan yang diusulkan oleh Netanyahu tidak hanya memicu protes di dalam negeri, tetapi juga menimbulkan perlawanan dari kalangan Yahudi di seluruh dunia. Dia mengkritik kebijakan anggota Kabinet dari kalangan kanan ekstrem Netanyahu yang dianggapnya sangat menghina perasaan banyak Yahudi, baik di Israel maupun di luar negeri.
Ancaman dari Dalam Negeri
Almog menjelaskan bahwa masalah terbesar yang dihadapi Israel adalah ketidakpahaman terhadap perbedaan mendasar antara kelompok-kelompok Yahudi, yang menciptakan ketegangan baru serta memperburuk perpecahan lama. Dia juga memperingatkan bahwa kelompok Haredi, yang sering kali menolak untuk berpartisipasi dalam dinas militer, bisa menjadi ancaman besar bagi integritas sosial dan militer Israel, terlebih karena Netanyahu sangat bergantung pada mereka untuk memenuhi kebutuhan pasukan di medan perang.
Menurut Almog, perpecahan terbesar di Israel saat ini bukan antara kelompok-kelompok sosial, tetapi antara kalangan politik dan elite pemerintahan. Dia menekankan pentingnya para petinggi Israel untuk belajar dari sejarah, terutama dari keruntuhan Bait Suci Pertama dan Kedua, untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.
Jalur Gaza dan Pertukaran Tawanan dengan Hamas
Almog juga membahas situasi di Jalur Gaza, terutama terkait kesepakatan pertukaran tawanan dengan Hamas. Menurutnya, kesepakatan tersebut seharusnya sudah tercapai lebih awal, bahkan jika itu berarti penarikan penuh Israel dari Gaza. Almog menambahkan bahwa setelah perang berakhir, tidak ada pihak luar seperti Amerika Serikat, Mesir, Qatar, atau Arab Saudi yang dapat mengendalikan Gaza, karena wilayah tersebut sudah terlalu erat kaitannya dengan Hamas.
Solusi terbaik untuk menghindari Gaza jatuh sepenuhnya ke tangan Hamas, menurut Almog, adalah menyerahkan kendali Gaza kepada Otoritas Palestina, meskipun dengan segala kekurangan yang ada pada struktur organisasi tersebut.
Kegagalan Total Israel dalam Perang 7 Oktober 2023
Almog menyebut serangan yang terjadi pada 7 Oktober 2023 sebagai kegagalan total bagi Israel, yang menyebabkan hilangnya kepercayaan di semua lapisan militer, keamanan, dan politik negara tersebut. Untuk mencegah terulangnya kegagalan serupa, Almog menyarankan agar dibentuk sebuah Komite Penyelidikan Independen, dan bahkan menyarankan pembubaran Kabinet Netanyahu untuk mengadakan pemilihan umum baru.
Krisis Demografi dan Ekonomi Israel
Almog juga menyoroti pentingnya mempertahankan jumlah penduduk di wilayah utara dan selatan Israel. Ia menegaskan bahwa untuk memajukan daerah-daerah tersebut, Israel harus mendatangkan setidaknya 6.000 Yahudi dari seluruh dunia dalam sepuluh tahun mendatang dan menetapkan mereka di wilayah utara dan selatan. Namun, ia mengingatkan bahwa para imigran baru mungkin tidak akan mudah menerima penempatan di permukiman utara tanpa adanya insentif yang menggiurkan, seperti perumahan gratis dan tanah.
Di samping itu, Almog mencatat dampak ekonomi dari perang yang baru saja terjadi, yang telah menyebabkan kerusakan parah pada sektor teknologi tinggi, yang selama ini menjadi pilar utama perekonomian Israel. Saat ini, Israel menghadapi ancaman besar berupa migrasi otak (brain drain) dan modal yang mengancam keberlanjutan ekonomi negara tersebut.[]
