Profesor Columbia Sebut Netanyahu ‘Bajingan Kejam yang Ngotot Seret Amerika Perangi Iran’
POROS PERLAWANAN – Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, pada Rabu 8 Januari, membagikan video kontroversial di platform media sosialnya, Truth Social. Video tersebut berisi pernyataan tajam Profesor Jeffrey Sachs dari Universitas Columbia, yang secara terang-terangan mengkritik Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. Sachs menuduh Netanyahu sebagai seorang pemimpin “kejam” yang terus mendorong Amerika Serikat untuk terlibat dalam perang dengan Iran demi kepentingan geopolitik Israel.
Dalam video itu, Sachs mengatakan, “Netanyahu adalah seorang bajingan kejam, karena selama puluhan tahun ia memanipulasi kebijakan Amerika untuk melayani ambisi politiknya sendiri. Ia terus berusaha menyeret Amerika ke konflik seperti di Irak dan Afghanistan.”
Sachs juga mengungkapkan bahwa Netanyahu telah lama mendorong kebijakan militer terhadap negara-negara seperti Iran, Suriah, dan Irak yang dianggap mendukung Kelompok-kelompok Perlawanan Palestina seperti Hamas dan Hizbullah.
Lobi Zionis dan Strategi Israel
Netanyahu, yang dikenal sebagai tokoh utama dalam kebijakan luar negeri Israel, telah berulang kali menekankan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah hanya dapat dicapai dengan melemahkan negara-negara yang mendukung Perlawanan terhadap Israel. Jeffrey Sachs, dalam video tersebut, mengungkapkan strategi ini tidak hanya berisiko tetapi juga membahayakan kepentingan nasional Amerika Serikat.
Menurut Sachs, upaya Netanyahu sejak 1995 untuk mengadvokasi “perubahan rezim” di negara-negara seperti Irak, Suriah, dan Iran hanyalah bagian dari agenda Zionis yang lebih luas untuk mempertahankan dominasi Israel di Kawasan. Hal ini, tambah Sachs, seringkali dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer Amerika sebagai alat eksekusi utama.
Respons Trump: Menolak Perang Baru
Meskipun Trump selama masa kepresidenannya dikenal sebagai pendukung Israel, ia menolak keras gagasan keterlibatan militer Amerika dalam konflik baru di Timur Tengah. Dengan membagikan video ini, Trump secara tidak langsung menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pendekatan Netanyahu.
Trump menyatakan bahwa kebijakan luar negerinya didasarkan pada prinsip “America First”, dan menolak keterlibatan dalam perang asing tanpa kepentingan nasional yang jelas. “Kita sudah cukup melihat dampak perang seperti di Irak dan Afghanistan. Amerika tidak membutuhkan perang baru,” tegas Trump dalam salah satu pidatonya.
Bahaya Kebijakan Perang Baru
Meski Netanyahu terus melobi Amerika untuk menyerang Iran, banyak kalangan analis di Washington menentang gagasan ini. Mereka menyadari bahwa konfrontasi dengan Iran hanya akan menciptakan “lumpur hisap” yang akan membuat AS sulit keluar, serupa dengan pengalaman pahit di Irak dan Afghanistan. Bahkan simulasi militer telah menunjukkan serangan terhadap Iran bukan hanya tidak akan menguntungkan, melainkan juga bakal membawa dampak buruk yang tidak dapat diperbaiki.
Trump, meskipun sangat kontroversial, tampaknya memahami risiko ini. Sebagai presiden terpilih, ia menolak untuk membawa Amerika ke dalam konflik militer baru, meskipun terus mendukung Israel di tingkat politik dan finansial.
Video yang dibagikan Trump di Truth Social tidak hanya mencerminkan pandangannya terhadap Netanyahu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Amerika, meskipun dekat dengan Israel, tidak selalu tunduk pada agendanya. Konflik dengan Iran tetap menjadi garis merah yang dipahami oleh banyak pihak di Washington sebagai langkah yang tidak bijaksana. Namun, ambisi Netanyahu dan lobi Zionis terus menjadi tantangan serius bagi kebijakan luar negeri AS.
Sebagai catatan referensi dan fakta terkait, silahkan kunjungi video pernyataan Jeffrey Sachs yang dapat ditemukan melalui platform Truth Social.
