Menerka Peluang Perlawanan Lebanon Pascapemilihan Joseph Aoun
POROS PERLAWANAN – Terpilihnya Joseph Khalil Aoun sebagai Presiden baru Lebanon mencerminkan titik balik penting dalam keseimbangan politik dan keamanan negara yang masih rapuh akibat konflik regional dan internasional. Keputusan Hizbullah untuk mendukung Aoun bukan sekadar langkah politik biasa, melainkan strategi yang penuh perhitungan untuk menjaga stabilitas internal dan melindungi kepentingan strategis perlawanan terhadap dominasi asing, terutama dari AS dan sekutunya.
Konteks Politik dan Strategi Hizbullah
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan politik terhadap Lebanon semakin meningkat seiring dengan upaya negara-negara Barat, yang dipimpin oleh AS, untuk mengurangi pengaruh Hizbullah. Upaya ini didorong oleh kekhawatiran terhadap kekuatan militer dan pengaruh politik Hizbullah, yang menurut Paul Salem dari Middle East Institute, merupakan kelompok bersenjata paling kuat di Lebanon, bahkan melampaui kekuatan tentara nasional.
Dukungan Hizbullah terhadap Aoun muncul dari kalkulasi bahwa stabilitas internal lebih penting daripada memperkuat perpecahan sektarian. Pasangan gerakan politik Syiah yang terdiri dari Hizbullah dan Amal Movement, atau sering disebut “Duo Syiah”, memahami bahwa menjaga persatuan nasional adalah kunci untuk menghadapi tekanan internasional.
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Aoun menegaskan komitmennya terhadap pembentukan strategi pertahanan nasional yang akan mengintegrasikan Perlawanan dan Angkatan Bersenjata Lebanon. Strategi ini tidak hanya penting untuk menjaga kedaulatan nasional, tetapi juga untuk menghadapi ancaman ambisi kolonial Israel yang terus meningkat.
Implikasi Regional dan Global
Pemilihan Aoun bukan hanya isu domestik, melainkan juga mencerminkan dinamika geopolitik yang lebih luas. AS, melalui mantan Asisten Menteri Luar Negeri David Schenker, secara terbuka menyatakan keinginan untuk melihat presiden Lebanon yang “berorientasi reformasi” sebagai bagian dari strategi untuk melemahkan Hizbullah. Namun, langkah ini, jika dipaksakan tanpa memperhatikan sensitivitas lokal, hanya akan memperburuk perpecahan internal.
Sementara itu, Israel terus mencari cara untuk memperluas pengaruhnya di Lebanon selatan. Analis Israel, Dror Doron mengusulkan pembentukan zona penyangga keamanan di wilayah ini, seraya menekankan bahwa Pemerintah Lebanon tidak akan berani menentang rencana tersebut karena takut dianggap mendukung Hizbullah. Namun, skenario ini berpotensi memicu konflik internal yang lebih besar, sesuatu yang bahkan Doron akui sebagai “risiko ledakan internal”.
Perlawanan dan Teori Konflik Asimetris
Selama beberapa dekade, Hizbullah telah membuktikan kemampuannya dalam mengadopsi teori konflik asimetris, seperti yang dijelaskan oleh Ivan Arreguin-Toft. Dalam teori ini, pihak yang lemah dapat mengalahkan kekuatan besar melalui strategi non-konvensional. Kemenangan Hizbullah dalam konflik 2006 melawan Israel adalah bukti konkret efektivitas strategi ini.
Meskipun tekanan internasional semakin meningkat, Hizbullah tetap mempertahankan posisi strategisnya. Serangan AS dan sekutunya sejak September hingga November 2024 tidak mampu menggoyahkan tekad Perlawanan Lebanon, yang terus bertahan meski menghadapi superioritas teknologi dan geopolitik musuh.
Tantangan bagi Aoun dan Masa Depan Lebanon
Sebagai Presiden, Aoun menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan kepentingan nasional dengan tekanan internasional. Kegagalannya untuk tetap konsisten pada janji-janji pelantikannya—seperti memperkuat strategi pertahanan nasional—akan mengguncang stabilitas Lebanon.
Namun, Aoun memiliki peluang untuk mengubah tantangan ini menjadi kekuatan jika ia mampu menjembatani perpecahan sektarian melalui dialog nasional yang inklusif. Ketua Parlemen Nabih Berri, yang memulai dialog nasional tentang strategi pertahanan 15 tahun lalu, dapat menjadi mitra strategis dalam upaya ini.
Menuju Kedaulatan Nasional yang Kuat
Lebanon berada pada persimpangan kritis. Keberhasilan negara ini dalam mengelola dinamika internal dan eksternal akan sangat bergantung pada keberanian para pemimpinnya untuk mengambil keputusan yang mendukung kepentingan rakyat, bukan agenda asing.
Dalam situasi ini, Lebanon perlu memperkuat hubungan dengan negara-negara Arab dan Islam yang bersahabat untuk membangun aliansi strategis. Selain itu, diperlukan reformasi institusi nasional untuk memastikan semua kelompok sektarian merasa terwakili dan dilindungi.
Kedaulatan Lebanon bukan hanya soal menghalau intervensi asing, melainkan juga soal menciptakan konsensus nasional yang kokoh untuk menghadapi tantangan masa depan. Dalam kata-kata Aoun sendiri, “Strategi pertahanan yang kuat adalah kunci untuk menjaga kehormatan dan kemerdekaan bangsa kita.” [PP/MT]
