Syekh Qasim: Kami Mampu Isi Kekosongan Pimpinan dalam Waktu Singkat
POROS PERLAWANAN – Sekjen Hizbullah, Syekh Naim Qasim dalam pidatonya pada Senin malam 27 Januari membahas perkembangan terbaru di Lebanon dan Kawasan.
Diberitakan Fars, Syekh Qasim di awal pidatonya mengucapkan selamat atas implementasi kesepakatan gencatan senjata kepada rakyat Palestina.
“Kami masih menyelidiki pembunuhan Syekh Muhammad Hamadi. Kemungkinan dia diteror oleh Israel,” kata Syekh Qasim.
Syekh Hamadi adalah salah satu petinggi Hizbullah. Dia gugur diteror beberapa hari lalu di depan rumahnya di Masgharah di kawasan Bekaa Barat.
Ia mengapresiasi Yaman, Irak, dan Lebanon yang telah membantu bangsa Palestina, lalu menambahkan,”Tujuan Operasi Badai al-Aqsa telah terwujud. Israel gagal dalam ujian kemuliaan dan kemanusiaan.”
Menurutnya, Badai al-Aqsa menunjukkan bahwa orang-orang Zionis adalah sebuah sindikat penjahat yang melakukan genosida.
“Kembalinya isu Palestina menjadi pusat perhatian di kancah internasional adalah salah satu tujuan Badai al-Aqsa yang telah terwujud.”
“Serangan Rezim Zionis ke Lebanon dilakukan dengan dukungan AS dan Barat; dukungan yang tidak berada di bawah pengawasan konstitusional mana pun.”
“Kami kuat karena memiliki iman. Meski AS dan Israel berusaha mengakhiri Perlawanan, namun Perlawanan menghadapi mereka dengan keteguhan legendaris, keberanian luar biasa, dan operasi-operasi berani syahid di lapangan.”
“Seluruh pintu (di Lebanon) tertutup untuk Israel. Mereka tidak bisa merangsek maju. Israel juga gagal menciptakan kerusuhan domestik di Lebanon demi melenyapkan Perlawanan.”
“Kekuatan prevensi yang kami wujudkan membuat rakyat meyakini bahwa kekuatan militer kami sanggup menangkal Israel. Rakyat Lebanon tidak menyangka bahwa kami kehilangan sejumlah besar komandan dan pimpinan dalam waktu singkat. Namun kami telah mengatasinya.”
“Hanya dalam tempo 10 hari, kami telah mengisi kekosongan para komandan. Sebab itu, Hizbullah meningkatkan operasinya sehingga Israel gagal merangsek maju.”
Syekh Qasim menegaskan, data intelijen dan akses musuh terhadap koneksi Hizbullah, kecerdasan buatan, dan Angkatan Udaranya adalah faktor terpenting yang merugikan Hizbullah.
“Kami telah mengambil pelajaran dari serangan-serangan ini. Alhasil, keteguhan kami menyebabkan musuh menerima gencatan senjata dan menghentikan agresinya sesuai syarat-syarat kami.”
“Pada suatu waktu, kami sempat berpikir untuk membalas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel. Namun kami diberi tahu bahwa hal ini akan meningkatkan pelanggaran gencatan senjata. Alhasil, Israel telah melanggar gencatan senjata hingga 1.350 kali,” tandas Syekh Qasim.
