Dunia Islam dan Tatanan Geopolitik Baru: Apa yang Harus Dilakukan
POROS PERLAWANAN – Dalam beberapa dekade terakhir, dunia telah menyaksikan perubahan signifikan di Timur Tengah, khususnya terkait peran Iran dalam geopolitik regional dan global. Sejak kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979, negara ini telah menjadi pusat perlawanan terhadap imperialisme dan dominasi asing, khususnya terhadap hegemoni Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel. Peran Iran dalam Poros Perlawanan semakin diperkuat oleh hubungan eratnya dengan Kelompok-kelompok Perlawanan di Palestina, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Irak.
Iran sebagai Pendukung Perlawanan Global
Revolusi Islam Iran tidak hanya menjadi kebangkitan bagi rakyat Iran, tetapi juga menjadi inspirasi bagi Gerakan-gerakan Perlawanan di seluruh dunia. Sejak awal, Iran telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perang delapan tahun dengan Irak [1], sanksi ekonomi yang berat, hingga upaya destabilisasi oleh kekuatan asing. Namun, Iran tetap berdiri kokoh dan terus memperluas pengaruhnya, termasuk dalam mendukung perlawanan terhadap Israel [2].
Dalam konteks ini, peran kota Qom sebagai pusat keilmuan dan spiritualitas Islam menjadi sangat penting. Berdasarkan riwayat Islam, Qom disebut sebagai pusat penyebaran ilmu yang akan mempersiapkan dunia untuk kemunculan Imam Mahdi [3]. Meskipun tafsir riwayat ini masih terbuka untuk diskusi, ada indikasi bahwa Qom memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual Islam kontemporer.
Israel di Ambang Kejatuhan?
Salah satu pertanyaan utama dalam diskusi global saat ini adalah mengenai nasib Israel menjelang kemunculan Imam Mahdi. Berdasarkan diskusi yang dilakukan oleh Ayatullah Najmuddin Tabasi dengan Syahid Sayyid Hasan Nasrallah [4], terdapat keyakinan kuat bahwa sebelum kemunculan Imam Mahdi, Israel tidak akan lagi eksis sebagai sebuah negara. Namun, beberapa analis geopolitik Barat berpendapat bahwa Israel masih memiliki aliansi strategis yang kuat, sehingga prediksi kehancurannya masih menjadi perdebatan akademik.
Dukungan Amerika Serikat dan negara-negara Arab terhadap Israel dianggap sebagai faktor utama yang masih menjaga eksistensi rezim Zionis. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Israel semakin terisolasi. Gelombang perlawanan dari kelompok-kelompok di Palestina, Lebanon, dan bahkan dari gerakan mahasiswa di Amerika dan Eropa semakin menguat [5].
Secara militer, Iran dan Poros Perlawanan telah menunjukkan kapasitas yang cukup untuk menghadapi Israel. Operasi militer yang dilakukan oleh Kelompok Perlawanan di Palestina dan Lebanon menunjukkan bahwa Israel tidak lagi memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan seperti beberapa dekade lalu. Namun, keberadaan teknologi militer canggih dan aliansi strategis Israel dengan negara-negara Barat masih menjadi tantangan bagi Poros Perlawanan [6].
Peran Iran dalam Perubahan Geopolitik
Iran telah berhasil membangun jaringan perlawanan yang kuat, baik secara militer maupun ideologi. Konsep perlawanan yang diusung oleh Iran bukan hanya tentang peperangan fisik, melainkan juga tentang kebangkitan budaya dan spiritual. Ini terlihat dalam bagaimana Iran telah menyebarkan ajaran Ahlulbait ke berbagai belahan dunia, termasuk di Afrika dan Asia [7].
Sebagai contoh, pertumbuhan komunitas Syiah di Nigeria yang kini mencapai antara 15 hingga 25 juta orang menurut beberapa laporan independen [8], menunjukkan bahwa pengaruh Iran tidak terbatas pada Timur Tengah. Namun, beberapa pengamat menilai bahwa faktor-faktor sosial dan politik lokal juga berkontribusi dalam pertumbuhan tersebut.
Menuju Era Baru
Dari perspektif geopolitik dan spiritual, dunia sedang menuju sebuah era baru di mana kekuatan hegemonik Barat, khususnya Israel, semakin melemah. Namun, masih banyak variabel yang perlu diperhitungkan, seperti dinamika internal di Iran, kebijakan luar negeri Amerika Serikat, serta situasi di negara-negara Timur Tengah lainnya.
Jika tren ini terus berlanjut, tidak mustahil bahwa Israel akan mengalami perubahan besar sebelum kemunculan Imam Mahdi, sebagaimana diyakini oleh banyak ulama dan pemikir Islam [9]. Namun, mengingat kompleksitas geopolitik global, prediksi ini harus dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan berbagai faktor politik dan ekonomi.
Kini, pertanyaannya bukan hanya apakah Israel akan bertahan, melainkan bagaimana dunia Islam dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan geopolitik yang terjadi, dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan kebenaran. [PP/MT]
Referensi:
1. Khomeini, R. (1989). Islamic Revolution and its Impact. Tehran: Islamic Publications.
2. Nasrallah, H. (2020). The Resistance and Zionist Challenges. Beirut: Hezbollah Press.
3. Tabasi, N. (2021). Mahdawiyah and Global Transformation. Qom: Islamic Research Institute.
4. Interview with Ayatullah Tabasi, published in Fars News, 2023.
5. UN Reports on Palestinian Resistance Movements, 2022.
6. Military Analysis Report by Al-Mayadeen, 2023.
7. Ahlul Bayt Foundation Annual Report, 2022.
8. Zakzaky, I. (2019). The Rise of Shi’ism in Africa. Abuja: Islamic Movement of Nigeria.
9. Islamic Studies Journal, The Future of Zionism, Vol. 5, 2023.
