KTT Paris, Manuver Eropa Respons Negosiasi AS-Rusia Soal Ukraina
POROS PERLAWANAN – Sementara negosiasi antara Washington dan Moskow mengenai akhir perang Ukraina berlangsung di Riyadh Saudi Arabia pada Selasa 18 Februari tanpa partisipasi negara-negara Eropa, para pemimpin Benua Biru merespons dengan mengadakan pertemuan darurat di Paris pada hari yang sama untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Ukraina.
Eropa Menegaskan Peran dalam Keamanan Regional
Dalam pertemuan darurat yang diinisiasi oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, para pemimpin Eropa menegaskan perlunya peningkatan investasi dalam keamanan serta peran aktif mereka dalam proses perdamaian Ukraina. Langkah ini merupakan reaksi terhadap ketidakhadiran Eropa dalam negosiasi perdamaian yang digelar oleh Amerika Serikat dan Rusia, sebuah keputusan yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Uni Eropa.
Menurut laporan Reuters, pertemuan ini bertujuan untuk menegaskan posisi Eropa dalam menjaga stabilitas Kawasan serta merespons kebijakan luar negeri AS yang cenderung mengabaikan keterlibatan negara-negara Eropa.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, melalui unggahan di media sosial X (sebelumnya Twitter), menegaskan bahwa Eropa “siap dan bersedia” untuk mengambil peran utama dalam “menyediakan jaminan keamanan bagi Ukraina” serta meningkatkan investasi dalam sistem pertahanannya sendiri.
Perdana Menteri Belanda itu juga menambahkan, “Kami semua merasakan urgensi yang tinggi. Di momen krusial bagi keamanan Eropa ini, kita harus terus memberikan dukungan kepada Ukraina.”
Kritik AS, Namun Tetap Membangun Kerja Sama
Meskipun mengkritik kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang mengecualikan Eropa dari negosiasi perdamaian, para pemimpin Eropa tetap menegaskan pentingnya kerja sama dengan Washington dalam menangani konflik Ukraina.
Seorang pejabat Uni Eropa yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa dalam KTT Paris, para pemimpin Eropa sepakat dengan pendekatan “perdamaian melalui kekuatan” yang diusung oleh Pemerintahan AS.
Perdana Menteri Belanda menekankan bahwa “Eropa harus berpartisipasi dalam implementasi setiap kesepakatan yang mungkin dicapai. Kerja sama dengan Amerika Serikat tetap menjadi kunci.”
Namun, dengan dikesampingkannya Eropa dari negosiasi utama oleh AS, masih belum jelas bagaimana para pemimpin Eropa akan menyesuaikan hubungan mereka dengan Trump dalam konflik Ukraina serta merespons kemungkinan kesepakatan damai yang dicapai tanpa keterlibatan mereka. Keputusan AS ini juga semakin mendorong Eropa untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan keamanan secara mandiri, tanpa ketergantungan penuh pada Washington.
Komitmen Eropa terhadap Keamanan Ukraina
Sebelum pertemuan Paris, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyatakan kesiapan negaranya untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina, namun dengan syarat AS harus memberikan jaminan keamanan kepada negara-negara Eropa.
Swedia juga mengumumkan kemungkinan pengiriman pasukan militernya guna menjaga stabilitas pascaperang di Ukraina. Sementara itu, menurut laporan Financial Times, Pemerintah Prancis telah mengusulkan langkah-langkah serupa untuk memperkuat keamanan di kawasan tersebut.
Negosiasi AS-Rusia di Arab Saudi
Di tengah langkah-langkah yang diambil oleh Eropa, para pejabat tinggi Rusia dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu hari ini di Arab Saudi. Pertemuan yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri kedua negara ini merupakan salah satu dialog tingkat tinggi pertama antara Rusia dan AS dalam beberapa tahun terakhir.
Pertemuan tersebut diperkirakan dapat membuka jalan bagi diskusi lebih lanjut antara Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump dalam upaya mencapai solusi diplomatik untuk konflik Ukraina.
Menanggapi pertemuan ini, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan pernah mengakui perjanjian damai yang dibuat tanpa partisipasi aktif Kiev.
Namun, menurut kantor berita RIA Novosti, Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin menyatakan, “Kami siap untuk bernegosiasi dengan mitra Amerika kami,” sekaligus menegaskan bahwa tidak akan ada negosiasi tiga pihak yang melibatkan Ukraina di Riyadh.
