Dua Sahabat Ini Selalu Memperhatikan Sayyid Hassan Nasrallah
POROS PERLAWANAN – Selama enam belas tahun, ia tidak bertemu dengan Imad-nya dan selama lima tahun tidak bertemu dengan Haj Qasim-nya—dua sosok yang masing-masing mampu melumpuhkan pasukan musuh, dan bersama-sama, mereka dapat membuat dunia bertekuk lutut.
“Sudah lama ia tidak mengunjungi rumah sahabatnya. Anak-anaknya pun merindukannya, dan ia sendiri merasakan kerinduan akan rumah dan keluarga Imad. Imad Mughniyah, yang telah tiada selama dua belas tahun. Mungkin karena hatinya merasa bahwa tiga hari lagi ia akan gugur Syahid di bandara Baghdad, ia memutuskan untuk pergi dan menunaikan salat terakhir di rumah sahabatnya.” Demikianlah kisah keluarga Imad Mughniyah tentang tujuh puluh dua jam sebelum kesyahidan Komandan Qasim Soleimani.
Sembilan belas tahun yang lalu, ketika Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran menunjuk Qasim Soleimani sebagai Komandan Pasukan Quds, Haj Qasim pergi ke Lebanon untuk bertemu langsung dengan Sayyid Hassan Nasrallah. Sayyid Hassan sendiri pernah mengatakan, “Kami pertama kali bertemu dengan Haj Qasim saat perkenalan resmi di Lebanon. Sebelumnya, ia selalu berada di medan perang atau bertugas di provinsi Kerman, Sistan, dan Baluchestan.”
Seolah-olah pada pertemuan pertama itu, Haj Qasim menemukan sosok yang selama ini ia cari: Imad Fayez Mughniyah. Seorang komandan yang mirip dengannya—rendah hati, cerdas, memahami strategi militer, keamanan, dan politik. Yang terpenting, keduanya tidak pernah peduli bahwa agen-agen CIA, Mossad, dan lainnya terus memburu mereka dari negara ke negara. Mereka hadir di berbagai tempat, tetapi tak seorang pun mampu melacak jejak mereka. Seperti yang pernah dikatakan Robert Baer, agen CIA yang bertugas memburu Imad: “Dia seperti bayangan; ada di mana-mana dan sekaligus tidak ada di mana pun.”
Tak lama setelah Haj Qasim diangkat menjadi Komandan Pasukan Quds, Imad pun ditunjuk sebagai Wakil Komandan Jihad Hizbullah. Kini, keduanya memikul banyak tanggung jawab, tetapi salah satu tugas terpenting mereka adalah melindungi Sayyid Hassan Nasrallah.
Setiap kali Imad dan Haj Qasim merasa ada ancaman yang mengintai Sayyid Hassan, mereka segera menghentikan semua aktivitas mereka. Kadang-kadang, Imad yang memimpin dan Haj Qasim mendukungnya, atau sebaliknya. Sayyid Hassan sendiri pernah mengatakan bahwa salah satu dari mereka lebih ahli dalam taktik militer, sedangkan yang lainnya lebih unggul dalam urusan keamanan.
Mengenai hubungan kedua sahabat ini, Sayyid Hassan berkata, “Hubungan Haj Qasim dan Haj Imad jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang lain. Kasih sayang dan cinta di antara mereka luar biasa besar—seperti dua saudara atau sahabat yang telah saling mengenal selama puluhan tahun. Mereka bahkan saling berkunjung bersama keluarga: Haj Qasim sering datang ke rumah Haj Imad, duduk bersama keluarganya, dan menanyakan kabar anak-anaknya.”
Selama kedua sosok ini masih ada, hati Sayyid Hassan selalu tenang dan punggungnya terasa sekuat gunung. Namun, pada tahun 2008, Israel akhirnya berhasil menemukan pria bayangan itu—Imad—dan membunuhnya sebagai syahid.
Haj Qasim tidak bisa melupakan sahabatnya. Ia melepas baju berdarah milik Imad, membingkainya, dan meletakkannya di atas tripod di samping sofa rumahnya.
Selama dua belas tahun berikutnya, Haj Qasim hidup tanpa Imad. Namun, sebagaimana dikatakan keluarga Imad, ia sesekali tetap mengunjungi keluarga sahabatnya. Menjelang hari-hari terakhirnya, ia merasa tak dapat menahan rindu. Ia pun pergi ke rumah Imad, bercengkerama dengan anak-anaknya, mengamati setiap sudut rumah untuk terakhir kalinya, menunaikan salat terakhir di sana, lalu mengucapkan salam perpisahan.
Tiga malam kemudian, dari bandara Baghdad, ia terbang menuju keabadian—bertemu kembali dengan Imad-nya.
Sumber: Farsnews agency
