Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Provokasi Israel di Pemakaman Pemimpin Hizbullah: Strategi Intimidasi atau Ketakutan Terselubung?

Prosesi Pengiringan Jenazah Syahid Nasrallah adalah ‘Badai Perlawanan’

POROS PERLAWANAN – Pemakaman Sayyid Syahid Hassan Nasrallah dan Sayyid Hashim Safiudin di Beirut pada 23 Februari 2025 bukan sekadar momen duka bagi pendukung Hizbullah, tetapi juga ajang unjuk kekuatan bagi berbagai pihak. Di tengah lautan pelayat, manuver mencolok dilakukan Israel: pesawat tempurnya terbang rendah di atas prosesi.

Tindakan ini jelas bukan pengintaian militer biasa, melainkan bentuk perang psikologis yang bertujuan menanamkan rasa takut dan mengintimidasi massa. Namun, apakah strategi ini efektif? Ataukah justru mencerminkan kegelisahan Israel terhadap dampak jangka panjang kemartiran pemimpin Hizbullah?

Upaya Intimidasi yang Gagal

Jika tujuan Israel adalah melemahkan moral para pendukung Hizbullah, mereka justru mendapatkan efek sebaliknya. Kehadiran pesawat tempur memicu gelombang kemarahan dan memperkuat sentimen anti-Israel di tengah massa. Teriakan perlawanan menggema, memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Hizbullah tetap kuat.

Sejarah membuktikan bahwa tindakan represif Israel terhadap Hizbullah selalu gagal meredam perlawanan. Dari serangan militer hingga pembunuhan tokoh-tokohnya, kelompok ini selalu berhasil membalikkan situasi menjadi momentum penguatan dukungan. Pemakaman ini menjadi bukti bahwa, meskipun kehilangan pemimpin utama, semangat perlawanan tetap terjaga.

Tanda Ketakutan Israel?

Provokasi ini juga dapat dibaca sebagai bentuk kepanikan Israel. Mereka sadar bahwa pembunuhan tokoh perlawanan tidak hanya sekadar menghilangkan pemimpin, tetapi juga melahirkan generasi baru yang lebih militan dan ideologis.

Alih-alih menunjukkan kekuatan, aksi ini justru mencerminkan ketidakmampuan Israel mengendalikan dinamika perlawanan di lapangan. Jika Israel yakin dengan superioritasnya, mereka tidak perlu melakukan manuver yang justru semakin menyatukan musuh-musuhnya.

Di sisi lain, tindakan ini bisa memperburuk situasi geopolitik regional. Iran, sebagai sekutu utama Hizbullah, sudah menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap upaya melemahkan perlawanan. Dengan meningkatnya ketegangan Iran-Israel, langkah sembrono ini berpotensi mempercepat eskalasi konflik.

Kesalahan Perhitungan Strategis?

Dalam strategi militer dan politik, setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Jika tujuan Israel adalah intimidasi, mereka telah gagal. Jika tujuannya adalah untuk melemahkan Hizbullah, mereka justru memberi kelompok ini kesempatan memperkuat posisinya di mata pendukungnya.

Lebih jauh, provokasi ini bisa mempererat kerja sama antara Hizbullah, Hamas, Ansharallah dan Jihad Islam, yang telah menyatakan solidaritasnya. Alih-alih meredam ancaman, Israel justru mempercepat konsolidasi kelompok-kelompok Perlawanan di kawasan.

Sejarah menunjukkan bahwa provokasi yang berlebihan sering kali memicu eskalasi yang tidak terkendali. Jika Israel benar-benar ingin menunjukkan kekuatan, mereka seharusnya bertindak lebih strategis, bukan dengan aksi teatrikal yang justru memperkuat lawan mereka.

Apakah Israel benar-benar memahami konsekuensi dari tindakannya ini? Ataukah mereka kembali mengulang kesalahan yang sama—dimana setiap upaya melemahkan perlawanan justru semakin memperkuat musuh yang mereka hadapi?

Jawaban atas pertanyaan ini akan terlihat dalam dinamika konflik Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan. Satu hal yang pasti: aksi provokatif ini tidak akan menghentikan Perlawanan, melainkan semakin membakarnya.[PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *