Loading

Ketik untuk mencari

Opini

‘Tangan Merah’, Simbol Perdamaian yang Menimbulkan Ketakutan Anasir Pro-Israel di Hollywood

POROS PERLAWANAN – Ketegangan politik global kembali mencuat di Hollywood setelah kelompok aktivis Artists for Ceasefire mengajukan seruan terbuka kepada peserta Oscar ke-97 pada 20 Februari 2025. Mereka meminta para seniman mengenakan simbol “Tangan Merah” sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Gaza. Namun, seruan ini mendapat perlawanan sengit dari kelompok pro-Israel The Brigade, yang berupaya menggagalkan kampanye tersebut.

Perlawanan Simbolis di Panggung Oscar

Di tengah agresi militer Israel di Gaza yang telah merenggut lebih dari 48.500 nyawa warga Palestina serta meninggalkan ribuan korban lainnya terkubur di bawah reruntuhan, kampanye ini menjadi sorotan tajam. Artists for Ceasefire, yang mewakili sekitar 700 pekerja industri film, mengusulkan penggunaan simbol “Tangan Merah” sebagai tanda mendesaknya kebutuhan untuk menyelamatkan nyawa. Simbol ini terdiri dari latar belakang merah serta gambar tangan berwarna oranye yang melambangkan persatuan kemanusiaan lintas golongan.

Namun, kelompok The Brigade mengecam penggunaan simbol ini. Dalam pernyataan resminya, mereka menuduh bahwa lambang “Tangan Merah” bukanlah representasi perdamaian, melainkan sebuah serangan terselubung terhadap komunitas Yahudi. “Apakah kalian tidak merasa malu?” demikian pertanyaan yang mereka ajukan kepada para seniman pendukung Palestina.

Hollywood dan Sikap Terbuka terhadap Palestina

Dukungan bagi rakyat Palestina di dunia hiburan bukanlah hal baru. Pada Oscar 2024, beberapa artis ternama seperti Billie Eilish, Finneas O’Connell, Rami Youssef, Ava DuVernay, dan Mark Ruffalo secara terbuka mengenakan simbol “Tangan Merah” di karpet merah. Kini, ancaman dari The Brigade semakin meningkatkan ketegangan menjelang Oscar 2025. Mereka bahkan menyatakan siap mengambil tindakan jika simbol tersebut kembali digunakan di ajang penghargaan bergengsi itu.

Sejak dimulainya serangan tanpa henti terhadap Gaza, berbagai seniman di seluruh dunia berani angkat suara untuk mengutuk tindakan Israel. Kendati menghadapi ancaman pembungkaman, pemboikotan, dan sanksi dari para pemegang kekuasaan, banyak di antara mereka tetap berpartisipasi dalam demonstrasi, siaran televisi, serta festival internasional guna menyuarakan dukungan terhadap Palestina.

Namun, upaya kelompok pro-Israel untuk membungkam para seniman juga semakin agresif. Sebelumnya, sebuah organisasi lobi pro-Israel di AS berhasil menggagalkan film dokumenter Palestina From the Ruins agar tidak masuk dalam daftar nominasi akhir Oscar ke-97. Organisasi Christians United for Israel (CUFI) menuding film ini sebagai “propaganda populis” dan menekan akademi agar menghapusnya dari seleksi penghargaan. Bahkan, upaya mereka tidak hanya terbatas pada Oscar, tetapi juga berusaha mencegah pemutarannya di bioskop-bioskop AS.

Mark Ruffalo dan Kritik terhadap Donald Trump

Mark Ruffalo, salah satu aktor Hollywood yang sejak awal secara konsisten mendukung Palestina, kembali menyuarakan kritik tajamnya. Kali ini, ia mengutuk rencana mantan Presiden AS Donald Trump, yang ingin mengambil kendali penuh atas Gaza dan memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka.

“Kita harus jujur soal rencana Trump di Gaza. Dia sedang menyerukan pembersihan etnis,” ujar Ruffalo. Ia juga mendesak Kongres AS untuk menolak kebijakan yang mengarah pada kejahatan perang tersebut.

Bintang film Zodiac dan waralaba The Avengers itu menegaskan bahwa Palestina berhak atas kebebasan dan kesetaraan di tanah mereka sendiri. Pernyataan ini semakin memperkuat solidaritas global terhadap warga Palestina, yang hingga kini masih harus bertahan di tengah reruntuhan akibat serangan udara dan darat yang terus berlanjut.

Panggung Oscar 2025 tampaknya akan menjadi medan pertarungan simbolis antara dua kubu yang berseberangan: di satu sisi, para seniman yang memperjuangkan perdamaian dan hak-hak kemanusiaan di Gaza; di sisi lain, kelompok yang berupaya membungkam narasi tersebut.

Apakah simbol “Tangan Merah” akan kembali muncul di Oscar? Bagaimana reaksi kelompok pro-Israel terhadapnya?

Dunia kini menantikan apakah Hollywood benar-benar menjadi tempat bagi kebebasan berekspresi atau justru tunduk pada tekanan politik dan kekuatan lobi yang berusaha mengendalikan suara-suara perlawanan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *