Teknik-teknik Operasi Media Hamas: ‘Kamera Dahulu, Senapan Kemudian’
POROS PERLAWANAN – Berbagai video dari para serdadu tawanan Israel yang dirilis oleh Brigade al-Qassam telah membangkitkan amarah Kabinet Rezim Zionis.
Dilansir al-Alam, sebagian dari video-video tersebut, terutama dua serdadu tawanan yang menonton prosesi pembebasan tawanan lain dan memohon agar Tel Aviv membebaskan mereka, menimbulkan dampak besar terhadap para pimpinan Zionis.
Video-video ini begitu berpengaruh besar, sampai-sampai memaksa Kantor PM Israel untuk menunda pembebasan para tawanan Palestina di putaran ke-7 tahap pertama kesepakatan gencatan senjata. Pihak Netanyahu berdalih bahwa “Hamas telah mengadakan perayaan-perayaan menghinakan dan menggunakan para sandera sebagai alat propaganda.”
Para analis Ibrani meyakini bahwa meski berada dalam tekanan militer, Hamas memiliki strategi untuk memengaruhi opini publik di tengah masyarakat Israel dan internasional.
Menurut laporan Kanal 13, Hamas selama 3 dekade terakhir telah mengembangkan kemampuan psy war-nya. Hamas memanfaatkan medsos dan dunia maya untuk menyampaikan pesan-pesannya.
“Sejak awal perang, Hamas sukses memaksakan perang urat syarat terhadap Israel,” lapor Kanal 13.
Pakar diplomasi stategis, Dr. Arja Atid menyatakan, simpati dunia via internet kepada Hamas terus meningkat. Banyak orang yang mempertanyakan: apa sebenarnya yang diinginkan Israel dari Hamas? Atid berpendapat, Hamas masih melanjutkan keberhasilannya menarik simpati publik internasional.
Sejak awal Operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 hingga diberlakukannya kesepakatan gencatan senjata, media-media militer al-Qassam sukses mengaplikasikan slogan “kamera kalian dahulu, senapan kalian kemudian” dalam puluhan video yang dipublikasikannya.
Divisi Media Hamas melalui sebuah strategi menakjubkan telah mempersiapkan instrumen terbaru pengambilan gambar di lapangan sebagai bagian yang lebih penting dari alutsista para pejuangnya.
Publikasi momen-momen awal Operasi Badai al-Aqsa menunjukkan, pekerjaan ini telah direncanakan oleh media-media militer al-Qassam dan sebuah tim media berpengalaman yang tahu apa yang mereka inginkan dari medan tempur. Melalui video-video tersebut, Hamas mampu menyebabkan syok pertama kepada Kabinet Israel dan opini publik masyarakat Zionis.
Otoritas media al-Qassam meyakini, pendokumentasian massif operasi-operasi militer berperan penting dalam perang media dan psy war serta meningkatkan level pengetahuan publik.
Setelah pesan-pesan media al-Qassam dievaluasi dari sisi konten dan teknis oleh para pakar di bidang terkait, video-video itu dinilai kembali dari sisi media dan politik. Para pakar sektor aksi militer, yang menguasai bahasa Ibrani, selalu menelaah dan mengkaji perkembangan terbaru masyarakat Israel serta berbagai detail berita. Hal ini membuat mereka mampu menyampaikan pesan efektif yang sukses mewujudkan tujuannya.
Dalam hal ini, al-Qaassam memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan para mantan tawanan yang pernah dikurung lama di penjara-penjara Israel.
Poin yang lebih penting adalah, para pejuang Hamas sukses mengelabui seluruh teknologi modern Rezim Zionis, yang tujuannya adalah melacak media-media Perlawanan di Gaza.
Penulis dan peneliti masalah Israel, Fayez Abu Shamalah mengatakan,”Publikasi terus menerus berbagai klip dari medan tempur telah membuat kubu Israel kewalahan dan membuktikan kredibilitas informasi yang dibocorkan Perlawanan Palestina.”
