Hizbullah: Iran Bukan Sekadar Negara Tapi ‘Benteng Poros Perlawanan’
POROS PERLAWANAN – Beirut mencatat momen bersejarah dengan prosesi pemakaman Syahid Sayyid Hasan Nasrallah, yang dihadiri lebih dari 1,4 juta pelayat dari dalam dan luar negeri. Pemakaman ini bukan sekadar penghormatan terakhir bagi seorang pemimpin, tetapi juga deklarasi terbuka dari rakyat Lebanon bahwa perlawanan terhadap Israel akan terus berlanjut.
Prosesi ini menarik perhatian dunia, menampilkan mobilisasi massa yang luar biasa dan menegaskan bahwa Hizbullah telah bertransformasi dari sebuah organisasi politik dan militer menjadi simbol Perlawanan global.
Laporan berikut, adalah rangkuman wawancara eksklusif dengan koran Kayhan Iran yang diterbitkan pada Kamis 6 Maret, bersama seorang pejabat senior di bidang bantuan kemanusiaan Hizbullah, Ayman Farhad. Ia mengulas dampak pemakaman ini terhadap stabilitas Kawasan dan strategi Hizbullah setelah kepergian Sayyid Hasan Nasrallah.
Antusiasme Massa: Simbol Kesetiaan dan Perlawanan
Sejak dini hari, jalan-jalan utama Beirut dipadati lautan manusia yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada Syahid Sayyid Hasan Nasrallah. Massa bergerak menuju Stadion Camille Chamoun, tempat prosesi utama berlangsung. Ratusan ribu orang memenuhi setiap sudut kota, termasuk mereka yang datang dari wilayah perbatasan yang baru saja mengalami serangan udara Israel.
Menurut Ayman Farhad, kehadiran besar ini bukan hasil mobilisasi politik, melainkan cerminan keterikatan ideologis dan emosional rakyat terhadap Syahid Nasrallah dan perjuangan Perlawanan.
“Sayyid Hasan bukan sekadar pemimpin. Beliau adalah Madrasah Perlawanan, sebuah ideologi yang telah menyatu dengan rakyat Lebanon,” ujar Farhad dalam wawancara eksklusif.
Kehadiran jutaan pelayat juga menegaskan bahwa Perlawanan bukan hanya dijalankan oleh kelompok bersenjata, melainkan telah menjadi bagian dari identitas nasional Lebanon.
Hizbullah: Dari Organisasi ke Fenomena Transnasional
Pemakaman ini memperlihatkan bagaimana Hizbullah telah berkembang menjadi simbol perlawanan yang diterima luas di berbagai belahan dunia. Tak hanya rakyat Lebanon, delegasi dari 79 negara, termasuk aktivis dari Eropa dan Asia, turut hadir. Banyak dari mereka bukan Muslim, tetapi tetap mendukung perjuangan anti-Zionisme yang diperjuangkan oleh Hizbullah.
“Gerakan Perlawanan ini telah melampaui batas negara. Ini bukan lagi hanya tentang Lebanon, melainkan perjuangan global melawan hegemoni,” jelas Farhad.
Laporan investigasi Kayhan, menunjukkan bahwa pasca-perang Gaza, simpati terhadap Hizbullah meningkat signifikan, terutama di kalangan komunitas pro-Palestina di Eropa dan Amerika Latin. Hizbullah kini tidak hanya dipandang sebagai aktor politik di Lebanon, tetapi juga sebagai simbol utama dalam perlawanan terhadap dominasi Zionis di Timur Tengah.
Respons Israel: Provokasi di Tengah Prosesi Pemakaman
Di tengah prosesi, jet-jet tempur Israel melintas rendah di atas Stadion Camille Chamoun dalam aksi provokatif yang diduga bertujuan mengintimidasi massa. Namun, menurut laporan wartawan Kayhan yang berada di lokasi, tindakan ini justru memperkuat semangat para pelayat. Ribuan orang serempak meneriakkan slogan “Hayhat minna al-dhilla” (‘Pantang hina’) dan “Al-mawt li Israil” (‘Kematian bagi Israel’) sebagai respons terhadap ancaman udara tersebut.
Farhad menilai tindakan Israel sebagai manifestasi kepanikan.
“Israel mengira dapat menanamkan ketakutan, tetapi justru mereka memperlihatkan kelemahan mereka sendiri. Jumlah massa yang hadir menunjukkan bahwa Perlawanan tetap kuat, bahkan setelah kehilangan pemimpinnya,” katanya.
Analis keamanan Timur Tengah memperkirakan bahwa langkah Israel ini bertujuan mengirim pesan bahwa mereka masih memantau pergerakan Hizbullah pasca-kesyahidan Sayyid Hasan Nasrallah. Namun, justru tindakan ini memperlihatkan kegagalan strategi deterensi Israel dalam menghadapi Hizbullah.
Strategi Baru Hizbullah Pasca-Syahid Sayyid Hasan Nasrallah
Kematian seorang pemimpin besar sering kali menimbulkan pertanyaan tentang arah organisasi ke depan. Namun, bagi Hizbullah, ini bukan pertama kalinya pemimpinnya gugur di medan perjuangan. Sebelumnya, Sayyid Abbas Musawi juga syahid dalam serangan Israel, tetapi organisasi tetap berjalan dengan kepemimpinan yang solid.
Farhad menegaskan bahwa struktur kepemimpinan Hizbullah telah dibangun secara sistematis untuk memastikan kesinambungan Gerakan Perlawanan.
“Hizbullah tidak bergantung pada satu individu. Ini adalah gerakan berbasis ideologi dan sistem yang kuat. Perjuangan akan terus berlanjut dengan pemimpin baru,” jelasnya.
Masa Depan Perlawanan di Timur Tengah
Menurut Farhad, prosesi pemakaman Sayyid Hasan Nasrallah bukan sekadar momen duka, tetapi juga deklarasi perlawanan dari rakyat Lebanon dan pendukung Hizbullah di seluruh dunia. Besarnya jumlah pelayat, respons terhadap provokasi Israel, serta kesinambungan kepemimpinan Hizbullah menegaskan bahwa Perlawanan tetap hidup dan semakin mengakar.
Di sisi lain, posisi Iran sebagai pendukung utama Hizbullah juga semakin diperjelas dalam peristiwa ini.
“Iran bukan hanya negara. Iran adalah benteng yang melindungi Perlawanan. Jika Iran melemah, seluruh Poros Perlawanan akan terguncang,” kata Farhad, menegaskan bahwa hubungan antara Hizbullah dan Iran akan tetap kuat di masa mendatang.
Dengan kondisi geopolitik yang semakin tegang, kehadiran Hizbullah sebagai kekuatan utama di Timur Tengah akan terus menjadi faktor penentu dalam dinamika konflik dengan Israel. Kesyahidan Sayyid Hasan Nasrallah, alih-alih menjadi titik lemah, justru memperkuat legitimasi dan dukungan terhadap Perlawanan.
Laporan ini mengonfirmasi bahwa ke depan, stabilitas Kawasan akan semakin bergantung pada bagaimana Israel dan sekutunya merespons kebangkitan baru Hizbullah. Satu hal yang pasti: perjuangan belum selesai, dan Poros Perlawanan tetap teguh pada jalannya.
