Reorientasi Kekuatan Global AS di Bawah Trump: Pergeseran Paradigma Geopolitik
POROS PERLAWANAN – Kebijakan luar negeri Donald Trump menandai pergeseran signifikan dari pendekatan tradisional Amerika Serikat dalam mengelola dinamika geopolitik global. Jika pemerintahan sebelumnya berupaya mempertahankan peran AS sebagai “polisi dunia” melalui intervensi militer dan diplomasi multilateral, Trump justru mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis dan transaksional. Ia skeptis terhadap NATO, menolak konfrontasi langsung dengan Rusia, dan mempertanyakan relevansi kehadiran militer AS di Asia Barat yang selama ini lebih menguntungkan sekutu-sekutu Arab daripada kepentingan nasional AS sendiri.
Namun, perubahan ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah strategi Trump mampu memperkuat posisi AS di dunia, atau justru membuka jalan bagi kekuatan lain seperti China dan Rusia untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan?
Dinamika Baru dalam Strategi Global AS
Elit politik Washington, yang selama beberapa dekade memegang kendali kebijakan luar negeri melalui institusi seperti Pentagon dan Gedung Putih, memiliki visi jangka panjang untuk mempertahankan hegemoni global AS. Strategi ini diwujudkan melalui keberadaan lebih dari 750 pangkalan militer di lebih dari 80 negara, dengan Jerman menampung 123 pangkalan, Italia 49, dan Inggris 23 (AS.com, 2025).
Namun, Trump mengusung pendekatan berbeda. Ia melihat dunia dalam tatanan multipolar, di mana AS tidak lagi berupaya mendikte sistem politik negara lain, melainkan memprioritaskan kepentingan ekonomi domestik. Fokus utamanya adalah membangun aliansi ekonomi yang menguntungkan AS dan mencegah munculnya kekuatan ekonomi alternatif seperti BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) yang dapat mengancam dominasi dolar.
Salah satu bentuk strategi ekonomi ini adalah kebijakan perang dagang dengan China, yang menyebabkan AS mengenakan tarif hingga $550 miliar terhadap produk-produk China. Meskipun kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi manufaktur AS, dampaknya terhadap pasar global masih menjadi perdebatan—apakah benar-benar menguntungkan ekonomi AS atau justru memperlambat pertumbuhan global?
Transformasi Peran Amerika: Dari Soft Power ke Hard Power
Salah satu manifestasi paling mencolok dari pergeseran kebijakan Trump adalah pemangkasan drastis anggaran USAID. Lembaga ini sebelumnya digunakan sebagai instrumen soft power untuk mendukung perubahan rezim dan membentuk opini publik di negara-negara berkembang. Pada tahun 2025, administrasi Trump memangkas 83% dari program-program USAID, mengurangi jumlahnya dari 6.200 menjadi hanya 1.000 program yang kini dikelola oleh Departemen Luar Negeri (Associated Press, 2025).
Langkah ini menghemat miliaran dolar bagi AS, tetapi konsekuensinya adalah melemahnya pengaruh Washington di tingkat akar rumput. China dan Rusia dengan cepat mengisi celah ini dengan investasi besar-besaran melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative, BRI) serta bantuan teknologi dan militer kepada negara-negara berkembang.
Sebagai contoh, di Afrika, China telah menjadi penyumbang infrastruktur terbesar, sementara Rusia memperluas pengaruhnya melalui penjualan senjata dan pelatihan militer. Dengan strategi ini, kedua negara tersebut secara efektif menggantikan peran yang sebelumnya dimainkan oleh USAID dan Departemen Luar Negeri AS.
Ekonomi sebagai Pilar Kekuatan
Trump menilai bahwa stabilitas ekonomi lebih bernilai daripada konfrontasi berkepanjangan. Dalam konteks hubungan AS-Rusia, ia menolak perang jangka panjang dan lebih memilih peluang investasi dibandingkan pembiayaan konflik.
Pendekatan ini juga terlihat dalam responsnya terhadap Ukraina. Alih-alih mengalokasikan $175 miliar untuk mendukung Kiev seperti yang dilakukan pemerintahan sebelumnya, Trump lebih cenderung mengadopsi pendekatan yang lebih transaksional dengan meminta Eropa untuk menanggung beban biaya lebih besar dalam membiayai perang.
Namun, kebijakan ini juga memiliki dampak jangka panjang yang belum sepenuhnya terlihat. Apakah pendekatan berbasis pragmatisme ekonomi akan membuat AS kehilangan pengaruhnya dalam tatanan global?
Trump dan Timur Tengah: Kalkulasi Politik yang Dingin
Sikap Trump terhadap konflik di Timur Tengah mencerminkan strategi yang lebih kalkulatif. Dalam konflik Gaza, misalnya, ia menempatkan dirinya sebagai kekuatan penentu dalam penyelesaian perang, tetapi dengan syarat yang menguntungkan kepentingan AS. Bahkan proposal kontroversialnya terkait depopulasi lebih bersifat taktik negosiasi daripada kebijakan konkret.
Trump juga memandang Asia Barat sebagai kawasan sekunder dalam skala prioritas kebijakan luar negerinya. Ia lebih fokus pada kepentingan strategis di kawasan lain seperti Meksiko, Panama, dan Greenland.
Terhadap Iran, ia mengakui kekuatan negara tersebut dan lebih memilih strategi pembatasan nuklir daripada konfrontasi militer. Pendekatan ini sangat berbeda dengan kebijakan konfrontatif yang diterapkan oleh Israel dan kelompok Hawkish di Washington.
Implikasi Terhadap Israel dan Keamanan Regional
Pendekatan Trump terhadap Israel juga menunjukkan pragmatisme yang kuat. Jika kebijakan tradisional AS cenderung mempertahankan dukungan tanpa syarat terhadap Israel, Trump justru menerapkan pendekatan berbasis keuntungan dan biaya.
Sebagai contoh, dalam kesepakatan Abraham (Abraham Accords), Trump mendorong normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain. Namun, langkah ini bukan semata-mata untuk mendukung kepentingan Israel, melainkan lebih sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan AS terhadap keterlibatan militer langsung di Timur Tengah.
Pendekatan ini berbeda dengan strategi deep state, yang melihat melemahnya Israel sebagai alasan untuk mencari sekutu regional baru. Trump, sebaliknya, menilai hubungan dengan Israel sebagai hubungan transaksional yang dapat dinegosiasikan sesuai dengan kepentingan AS.
Amerika di Bawah Trump, Menuju Era Baru?
Di bawah kepemimpinan Trump, kebijakan luar negeri AS mengalami transformasi signifikan. Alih-alih mempertahankan unipolaritas dengan pendekatan militeristik dan diplomasi multilateral, Trump memilih strategi berbasis keuntungan ekonomi dan stabilitas relatif.
Namun, pendekatan ini membawa implikasi besar bagi keseimbangan kekuatan global. Di satu sisi, AS dapat menghemat sumber daya finansial dan mengurangi keterlibatan militer yang mahal. Di sisi lain, kebijakan ini membuka celah yang memungkinkan negara-negara lain seperti China dan Rusia untuk memperluas pengaruh mereka di kawasan yang sebelumnya berada dalam lingkup kendali AS.
Pertanyaannya kini adalah: Apakah strategi pragmatis Trump benar-benar akan memperkuat posisi AS dalam jangka panjang?. [PP/MT]
Referensi:
1. Associated Press (2025) ‘Trump overstepped his constitutional authority in freezing Congress’ funding for USAID, judge says’. AP News, 12 March
2. Axios (2025) ‘USAID cuts lead to more furloughs in the Triangle’. Axios Raleigh, 11 March.
3. The Guardian (2025) ‘Judge blocks Mahmoud Khalil’s deportation after ICE detained pro-Palestinian activist – as it happened’. The Guardian, 10 March.
4. Reuters (2025) ‘From fighting HIV to interpreters, USAID cuts wide swath of programs’. Reuters, 6 March.
5. AS.com (2025) ‘Cuanta bases militares tiene Estados Unidos y dónde están en España y en Europa?’. AS.com, 5 March.
6. Axios (2025) ‘USAID official warns of toll Trump’s foreign aid cuts will have’. Axios, 3 March.
7. The Times (2025) ‘Scrapping US aid hands rivals an easy win’. The Times, 1 March.
