Media Ibrani: Ekonomi Israel Diguncang Badai Ketidakpercayaan Investor
POROS PERLAWANAN – Sebuah surat kabar berbahasa Ibrani melaporkan bahwa rendahnya kepercayaan investor, penurunan perdagangan luar negeri, serta defisit anggaran yang tetap tinggi meskipun telah diberlakukannya gencatan senjata di Gaza, telah menyebabkan perekonomian Israel mengalami stagnasi.
Ketidakstabilan Ekonomi Akibat Konflik
Menurut laporan yang diterbitkan oleh surat kabar ekonomi Israel Calcalist pada Selasa (11/3), setiap eskalasi keamanan baru berpotensi memperburuk resesi ekonomi dan meningkatkan ketidakstabilan keuangan di Israel.
Laporan tersebut menyoroti bahwa perang Israel melawan Jalur Gaza sejak Oktober 2023, serta ketegangan militer yang meningkat dengan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan, telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Israel. Lonjakan anggaran belanja militer dan keamanan telah menciptakan situasi yang ditandai oleh ketidakpercayaan dan ketidakpastian ekonomi yang berkelanjutan.
Gencatan senjata di Gaza mulai diberlakukan pada 19 Januari 2025, disusul dengan kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah pada 27 November 2024. Namun, dampak ekonomi dari perang tersebut masih terus dirasakan, memengaruhi pertumbuhan ekonomi Israel serta menambah beban anggaran akibat tingginya pengeluaran militer pada tahun lalu.
Penurunan Investasi dan Perpindahan Modal ke Luar Negeri
Konflik yang berkepanjangan telah menyebabkan gangguan signifikan dalam investasi:
– Investasi di sektor startup mengalami penurunan sebesar 6%.
– Investasi asing di Israel anjlok hingga 30%.
Sejak dimulainya perang, aliran modal keluar dari Israel meningkat secara signifikan, terutama oleh pelaku industri teknologi dan kalangan muda yang memindahkan investasi serta tabungan mereka ke pasar keuangan Amerika Serikat.
Dalam laporannya, Calcalist menyatakan bahwa meskipun kondisi ekonomi yang penuh tantangan, Badan Pusat Statistik Israel masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2025 akan mencapai sekitar 4%. Namun, pencapaian target ini bergantung pada beberapa faktor utama, antara lain:
1. Kemampuan pemerintah dalam menyeimbangkan keuangan negara.
2. Stimulasi pertumbuhan ekonomi.
3. Pengurangan defisit fiskal yang terus meningkat.
Namun, prospek ini dihadapkan pada tantangan besar, terutama karena rendahnya kepercayaan investor, penurunan perdagangan luar negeri, serta tekanan berkelanjutan terhadap sektor bisnis, yang dapat menghambat realisasi target ekonomi pemerintah.
Defisit Anggaran Tetap Tinggi
Data terbaru dari Kementerian Keuangan Israel, yang dirilis pada Senin lalu, menunjukkan bahwa defisit fiskal Israel pada Februari 2025 mencapai 5,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedikit turun dari 5,8% pada Januari. Meskipun demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan oleh pemerintahan Netanyahu, yakni 5% dari PDB dalam anggaran tahun 2025, yang hingga kini belum sepenuhnya disahkan.
Selama 12 bulan terakhir, defisit anggaran kumulatif Israel telah mencapai 108 miliar syikal (setara 29,5 miliar dolar AS), turun dari 115 miliar syikal (31,4 miliar dolar AS) pada Januari.
Pelemahan Pertumbuhan dan Penurunan Pendapatan Pajak
Ekonomi Israel menghadapi pertumbuhan yang lambat, disertai dengan menurunnya penerimaan negara:
– Defisit bulanan pemerintahan Netanyahu pada Februari 2025 tercatat sebesar 6,1 miliar syikal (1,67 miliar dolar AS), yang merupakan separuh dari defisit yang tercatat pada periode yang sama di tahun 2024. Defisit yang tinggi pada 2024 terjadi akibat lonjakan pengeluaran di tengah perang.
– Pendapatan pajak pada Februari 2025 mengalami penurunan 38% dibandingkan Januari, hanya mencapai 39 miliar syikal (10,6 miliar dolar AS). Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan sebelumnya, yakni 40 miliar syikal (10,9 miliar dolar AS).
Kementerian Keuangan Israel mengaitkan penurunan ini dengan:
1. Turunnya pajak tidak langsung sebesar 6%.
2. Lonjakan penerimaan pajak yang tidak biasa pada Januari 2025, yang mencapai 63 miliar syikal (17,2 miliar dolar AS). Kenaikan ini dipicu oleh perubahan kebijakan pajak yang mencakup peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak kendaraan.
Belanja Pemerintah Masih Tinggi
Laporan Calcalist mencatat bahwa pengeluaran pemerintahan Netanyahu pada Februari mencapai 46 miliar syikal (12,5 miliar dolar AS). Jika dihitung sejak awal tahun, total pengeluaran pemerintah telah mencapai 86 miliar syikal (23,4 miliar dolar AS), mendekati batas anggaran sementara yang ditetapkan, yaitu 87,3 miliar syikal (23,7 miliar dolar AS).
Angka ini menunjukkan adanya penurunan pengeluaran sebesar 5% dibandingkan Februari 2024, ketika pemerintah menerapkan anggaran ekspansif.
Namun, meskipun terjadi pengurangan dalam beberapa sektor, pengeluaran pemerintah pada Februari 2025 meningkat 14% dibandingkan Januari, terutama untuk pembayaran utang sebesar 9 miliar syikal (2,45 miliar dolar AS).
Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi 2024
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Israel, ekonomi Israel mencatat pertumbuhan yang lebih rendah dari perkiraan awal:
– Pertumbuhan ekonomi tahun 2024 hanya mencapai 0,9%, di bawah proyeksi awal sebesar 1%.
– Pertumbuhan PDB kuartal IV direvisi turun dari 2,5% menjadi 2%.
– Pertumbuhan kuartal III juga direvisi turun dari 5,3% menjadi 5%.
Selain itu, PDB per kapita Israel mengalami kontraksi sebesar 0,4% sepanjang 2024, menandakan kinerja ekonomi yang lemah secara keseluruhan.
