Rahasia di Balik Sikap Hati-Hati Turki Tanggapi Ulah Rezim Israel di Suriah
POROS PERLAWANAN – Sikap hati-hati Turki terhadap agresi militer rezim Israel di Suriah mencerminkan kalkulasi strategis Ankara, terutama dalam konteks dinamika Kawasan dan ambisi tersembunyi yang berkaitan dengan proyek pendirian pangkalan militer di wilayah Suriah. Pernyataan Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, memperlihatkan bahwa Ankara memilih berhati-hati dalam menyikapi provokasi Israel demi menghindari keterlibatan langsung dalam konflik terbuka.
Serangan udara terbaru Israel yang menghantam instalasi militer dan bandara di Daraa menegaskan bahwa rezim Tel Aviv bukan hanya mempertahankan pendudukannya di Dataran Tinggi Golan, melainkan juga memiliki agenda permusuhan yang lebih luas. Namun demikian, baik Pemerintahan transisi Suriah di bawah Ahmed al-Sharaa, maupun Pemerintah Turki, sejauh ini belum mengambil sikap apapun atas agresi tersebut.
Fidan: Turki Tidak Ingin Terlibat dalam Konflik
Dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri NATO di Brussels, Fidan menyatakan, “Turki tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan Israel di wilayah Suriah.” Ia menegaskan bahwa Ankara terus menghindari tindakan yang dapat memicu eskalasi dan bahwa fokus Turki adalah memulihkan stabilitas di Suriah.
“Serangan Israel terhadap target militer di Suriah tidak hanya melanggar kedaulatan negara tersebut, tetapi juga merusak stabilitas Kawasan,” kata Fidan. Ia juga menambahkan bahwa aksi Israel di Gaza merupakan bentuk genosida, dan bahwa Turki telah mengambil langkah hukum dengan mengajukan intervensi dalam kasus yang sedang berjalan di Mahkamah Internasional, sekaligus memutus semua hubungan dagang dengan Tel Aviv.
Lebih lanjut, Fidan memperingatkan bahwa ketegangan Kawasan berisiko semakin memburuk. Ia mengatakan, “Operasi militer Israel di Suriah melemahkan kapasitas Damaskus untuk menghadapi terorisme dan merusak proses pembentukan struktur pemerintahan baru. Ini mengganggu keseimbangan strategis di wilayah tersebut.”
Mengenai kemungkinan perjanjian antara Suriah dan Israel, Fidan menyatakan bahwa keputusan semacam itu berada di tangan pihak-pihak terkait, namun Ankara tetap menolak segala bentuk peningkatan ketegangan. Sikap ini mencerminkan kesediaan Turki untuk memainkan peran sebagai mediator di balik layar—termasuk dalam potensi dialog antara rezim Tel Aviv dan kelompok transisi Suriah yang disokong Ankara.
Reaksi Terbatas terhadap Ancaman Israel
Sementara sejumlah kalangan media dan pengamat politik di Turki menilai serangan Israel sebagai sinyal langsung ke Ankara, Pemerintah tetap menahan diri. Surat kabar Aydınlık dalam laporan utamanya menyebutkan bahwa pengeboman Israel di Suriah adalah “pesan terbuka” kepada Turki. Laporan itu juga membongkar adanya kesepakatan rahasia antara Kepala Badan Intelijen Turki (MIT), Ibrahim Kalın, dan Ahmed al-Sharaa yang mencakup rencana pendirian beberapa pangkalan militer Turki di Suriah—termasuk di wilayah Palmyra.
Setelah laporan itu beredar, Kementerian Pertahanan Turki buru-buru merespons dan menyatakan bahwa “Israel bukan menargetkan Turki” dan meminta agar publik tidak menganggap serangan tersebut sebagai pesan terselubung kepada Ankara. Pernyataan ini, ditambah dengan sikap pasif dari pihak Damaskus, memperkuat asumsi bahwa terdapat perjanjian tidak tertulis antara berbagai aktor untuk menghindari respons terbuka terhadap Israel.
Beberapa analis menilai sikap diam Ankara disebabkan oleh keinginan Pemerintahan Erdogan untuk memperoleh “persetujuan diam-diam” dari Israel atas keberadaan militernya di wilayah Suriah. Hal ini menjelaskan sikap diplomatik Fidan yang terkesan netral, namun tetap mempertahankan posisi kritis terhadap Tel Aviv di forum-forum internasional.
Ambiguitas Kebijakan Ankara di Suriah
Turki termasuk negara pertama yang mengambil langkah agresif di Suriah pascapecahnya konflik. Hubungan antara Ankara dan kelompok oposisi Suriah yang didukung Ahmed al-Sharaa telah terjalin lama. Bahkan, laporan menyebut bahwa pemilihan Kepala Badan Intelijen baru Suriah dilakukan dengan restu langsung dari pihak Turki.
Fidan dan Kalın telah melakukan beberapa kunjungan ke Suriah dan melakukan pembicaraan strategis dengan al-Sharaa, termasuk terkait penguasaan Bandara Damaskus dan rekonstruksi Bandara Aleppo, yang ditafsirkan sebagai bagian dari agenda militer Ankara.
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai pembangunan pangkalan militer Turki di utara dan timur Suriah. Di sisi lain, Israel tampaknya ingin memastikan bahwa kehadiran permanen Turki di Suriah tidak berlangsung tanpa “kontribusi politik atau strategis” kepada Tel Aviv.
Pertanyaan yang tersisa adalah: apakah Ankara akan melanjutkan kebijakan hati-hatinya atau mengambil langkah lebih terbuka terhadap skema dominasi Israel di Kawasan? Jawaban atas pertanyaan ini akan mengungkap rahasia di balik kehati-hatian Hakan Fidan dan diamnya Ahmed al-Sharaa atau Mohammed al-Jolani. [PP/MT]
Referensi:
1. Reuters. (2025). Turkey Wants No Confrontation with Israel in Syria, Foreign Minister Says
2. AP News. (2025). Israel Strikes Syrian Military Targets, Killing at least 9
3. The Times. (2025). Israel Airstrikes in Syria Seen as Warning to New Government
4. Reuters. (2025). Israel Hit Syrian Bases Scoped by Turkey, Hinting Regional Showdown
5. Aydinlık. (2025). Israel’s Message to Turkey through Syrian Bombings
