Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Hadiah Minyak Arab Saudi untuk Trump

POROS PERLAWANAN – Di tengah anjloknya harga minyak global dan tekanan fiskal dalam negeri, Arab Saudi justru mengambil langkah mengejutkan: menurunkan harga resmi minyaknya secara signifikan; penurunan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir. Keputusan ini memicu spekulasi bahwa langkah tersebut lebih bersifat politis daripada ekonomis, terutama sebagai bentuk “hadiah” kepada Presiden AS, Donald Trump.

Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa 8 April, meskipun Riyadh membutuhkan harga minyak di atas $90 per barel untuk menutup anggaran negaranya, Kerajaan justru memangkas harga jual resmi (OSP) minyak mentahnya, terutama untuk pasar Asia. Untuk pengiriman pada Mei, harga minyak ringan Arab Saudi diturunkan sebesar $2,30 per barel, dan kini dijual hanya $1,20 di atas indeks acuan Dubai/Oman.

Penurunan serupa juga diberlakukan untuk pasar lain: sekitar $0,50 per barel untuk ekspor ke Eropa, dan $0,20 untuk ekspor ke Amerika Serikat. Ini merupakan bulan kedua berturut-turut Riyadh menurunkan harga resmi minyak mentahnya.

Langkah ini dilakukan di tengah situasi pasar yang tertekan, menyusul pengumuman tarif impor oleh Presiden AS terhadap sejumlah negara mitra dagang, terutama China, yang merupakan importir minyak terbesar dunia. Sebagai respons, Beijing menjatuhkan tarif pada seluruh produk impor dari AS, termasuk minyak dan gas, yang menyebabkan harga minyak global semakin tertekan.

Di sisi lain, OPEC+ juga memainkan peran besar dalam dinamika ini. Sehari setelah pengumuman tarif dari AS, OPEC+ mengejutkan pasar dengan mengumumkan peningkatan produksi yang jauh melampaui rencana awal. Alih-alih menambah 135 ribu barel per hari pada Mei, kelompok ini mengumumkan lonjakan produksi sebesar 411 ribu barel per hari. Langkah tersebut dibenarkan dengan dalih “fondasi pasar yang stabil dan prospek positif”, meski banyak analis menilai keputusan itu justru akan memperburuk kelebihan pasokan.

Akibat gabungan faktor-faktor ini, harga minyak dunia kini berada pada titik terendah sejak masa pandemi Covid-19.

Namun, di balik semua narasi ekonomi, terselip kalkulasi politik. Banyak pengamat menilai penurunan harga ini tidak semata karena dinamika pasar, melainkan sebagai upaya Arab Saudi untuk kembali mengonsolidasikan hubungan dengan Trump lebih akrab lagi.

Pernyataan Trump saat pertama kali menjabat pada 2017 kini kembali relevan: “Saya akan menjadikan Arab Saudi sebagai tujuan pertama kunjungan luar negeri saya, dengan satu syarat: mereka setuju membeli produk-produk AS senilai $450 miliar.” Ia bahkan menyebut Saudi sebagai “sapi perah” yang tak segan ia peras demi kepentingan ekonomi domestik AS.

Selama masa jabatannya, Trump kerap memanfaatkan relasi dengan Riyadh untuk mendongkrak industri pertahanan dan energi AS. Sebaliknya, negara-negara Teluk pun membuka keran devisanya lebar-lebar demi menjaga dukungan politik Washington.

Kini, dengan penurunan harga minyak yang tajam meski merugikan anggaran domestik, tampaknya Arab Saudi kembali memainkan peran lamanya: menjadi lumbung minyak politik bagi Washington, terutama bagi Presiden AS yang berjiwa pedagang dan tahu persis bagaimana menyedot Dolar dari sekutunya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *