Menyoal Kesiapan Presiden Prabowo Cawe-cawe Evakuasi Gaza: ‘Salah Baca’ Amanah Konstitusi Kita?
POROS PERLAWANAN — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melawat ke lima negara di Timur Tengah, dan di antara agendanya adalah untuk meminta dukungan atas rencana Indonesia mengevakuasi 1.000 warga Gaza ke Tanah Air. Negara-negara yang masuk daftar kunjungan diplomatiknya: Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Qatar, dan Jordania, yang sebagian besarnya notabene “sekutu dekat” rezim penjajah Israel.
Prabowo menyatakan bahwa evakuasi akan dilakukan bila semua pihak memberi restu. Anehnya, mengapa restu yang sama tidak justru diminta dari warga Palestina yang selama ini jelas-jelas menolak diusir -dengan segala cara- dari Tanah Air mereka sendiri?
Lebih lanjut, Prabowo menjanjikan bahwa warga Gaza yang dibawa ke Indonesia akan ditampung sementara, sebelum kelak dipulangkan jika kondisi Gaza “sudah memungkinkan”.
“Syaratnya adalah semua pihak harus menyetujui hal ini. Kedua, mereka di sini hanya sementara sampai pulih kembali, dan pada saat pulih dan sehat kembali, kondisi Gaza sudah memungkinkan, mereka harus kembali ke daerah mereka berasal. Saya kira itu sikap Pemerintah Indonesia. Untuk itu, saya harus konsultasi kepada pemimpin daerah tersebut,” ujar Prabowo seperti disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu dini hari 9 April.
Sungguh menggugah hati. Presiden terpilih Republik Indonesia akhirnya naik panggung dalam medan geopolitik Timur Tengah, bukan sebagai pembela tertindas, melainkan sebagai manajer logistik kemanusiaan strategis untuk proyek pengosongan Gaza. Sebuah inisiatif penuh empati… yang entah kenapa bikin Benyamin Netanyahu tersenyum lega sambil berseru: “Akhirnya, muncul satu lagi negara Muslim yang siap membantu Israel merapikan Gaza!”
Perlu dicatat bahwa dalam dialek Zionis modern, kata “merapikan” berarti: ‘mengosongkan, menghapus, membersihkan jejak kehidupan’.
Karena evakuasi ini bukan penyelamatan. Ini adalah kelanjutan dari Proyek Trump 101: cara halus membuang rakyat Palestina dari tanahnya, tanpa harus terlihat seperti Nakba Kedua. Versi soft power dari kolonialisme genosidal. Sementara Indonesia, dengan konstitusi anti-penjajahan, kini tampak siap menjadi operator regional proyek itu, lengkap dengan pesawat evakuasi, karpet merah diplomatik, dan doa lintas agama.
Apa itu Proyek Trump 101? Bukan teori konspirasi. Ini nyata. Ini properti. Ini kapital. Ini adalah blueprint imperium rasis ala Donald Trump: merebut lahan, menggusur penduduk, mengganti narasi, lalu menjualnya sebagai “revitalisasi”.
Di Lido, Sukabumi, proyek Trump Residences menjulang megah. Sebuah kerja sama antara Trump Organization dan PT MNC Land Tbk milik Hary Tanoe. Hunian elite seluas 350 hektar, berlatar Gunung Salak dan Pangrango. Di masa depan, siapa tahu, Trump Gaza Residences akan menyapa pasar properti global—tentu setelah para penghuninya “dievakuasi” secara beradab.
Padahal, Januari lalu, Kemenlu RI bersuara lantang: segala bentuk relokasi warga Gaza adalah bentuk pelanggaran. Namun tampaknya musim telah berganti. Dulu masa kampanye. Kini masa investasi. Dulu bebas aktif. Kini bebas ikut aktif… dalam proyek properti kolonial berkedok kemanusiaan.
Pemerintah meyakinkan publik: ini hanya sementara, warga Gaza akan kembali bila daerahnya sudah “aman”. Akan tetapi, aman menurut siapa? Jet tempur F-16 buatan AS? Komando drone Mossad? Atau Donald Trump, yang sejak dulu melihat warga Palestina sebagai penghalang utama prosperity Timur Tengah?
Kami di POROS PERLAWANAN tentu paham, ini zaman pragmatis. Pemimpin tak lagi dituntut memilih antara benar dan salah, cukup memilih antara tarif AS atau investasi Arab. Terlebih menjelang kunjungan Prabowo ke negara-negara Teluk, tempat proyek normalisasi bersalin rupa menjadi program “rekonstruksi Gaza”, lengkap dengan brosur properti, gambar stadion sepak bola, dan peta investasi post-genocide.
Evakuasi tanpa jaminan hak kembali bukanlah solusi. Ia adalah kolusi. Setiap keluarga yang dikeluarkan dari Gaza adalah satu blok tambahan dalam konstruksi Nakba versi 2.0. Lebih dari itu, satu hal yang patut diingat: setiap negara yang memfasilitasi konstruksi semacam itu akan tercatat dalam sejarah sebagai mitra kejahatan tanpa peluru.
Mungkin saja, Prabowo bukan Zionis. Beliau hanyalah Purnawirawan Jenderal dan seorang patriot Indonesia yang merasa sedang menjalankan misi “kemanusiaan yang adil dan beradab”, tanpa sepenuhnya sadar bahwa versi yang dipilihnya tersebut adalah versi yang mendapat stempel halal dari Washington-Tel Aviv dan Abu Dhabi.
Selanjutnya, jika kita tak berani menyebut ini sebagai kolaborasi dengan proyek kolonial, maka selamat datang di Republik baru: Indonesia, mitra resmi Proyek Trump 101, cabang Asia Tenggara.
Kelak, saat dunia menyaksikan reruntuhan kamp pengungsi di Rafah, kami hanya berharap: Indonesia tidak sedang sibuk memotong pita peresmian resor baru, atau menyiapkan unit Trump Residences Gaza; Tipe Eksodus, harga Perdamaian.[]
Catatan POROS PERLAWANAN:
– Proyek Trump 101 = Trump Residences Lido
– Lokasi: Lido, Sukabumi, Jawa Barat
– Luas Area: ±350 hektar
– Pemandangan: Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango
Trump Residences Lido merupakan proyek hunian dan resor mewah yang dikembangkan oleh Trump Organization bekerja sama dengan PT MNC Land Tbk, perusahaan properti milik Hary Tanoesoedibjo. Digadang-gadang menjadi resor terbesar di Asia, proyek ini membentang di atas lanskap strategis yang hijau dan eksklusif.
Selain di Lido, kolaborasi Trump–MNC juga dikembangkan di Bali dengan properti kelas dunia yang menyasar segmen elite global.
Trump Organization sendiri dikenal sebagai korporasi internasional dalam kepemilikan, pengembangan, dan investasi properti: dari hotel mewah, lapangan golf, hingga properti ikonik di Manhattan, New York—yang semuanya berakar pada logika kapitalisme pemutihan tanah dan penggusuran massal yang kini sedang di-franchise ke Gaza.
