Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Paus Fransiskus Wafat di Usia 88 Tahun: Akhir dari Kepemimpinan Global yang Membelah Barat

POROS PERLAWANAN — Dunia Katolik dan jagat diplomasi global berduka. Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus wafat pada usia 88 tahun setelah menderita sakit berkepanjangan. Ia mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Santa Marta, Vatikan.

Paus, yang sejak beberapa tahun terakhir mengalami penurunan kesehatan serius, sempat dirawat di Rumah Sakit Gemelli selama 38 hari akibat pneumonia akut sebelum dipulangkan pada 23 Maret. Meski sempat tampil sebentar pada Hari Minggu Paskah dan menyampaikan berkat dari balkon Basilika Santo Petrus, tubuhnya tak lagi mampu menampung beban kepausan yang kompleks di era kekacauan global ini.

Dalam pidato terakhirnya yang dibacakan ajudannya karena kondisi fisik yang lemah, Paus kembali menyerukan gencatan senjata segera di Gaza, menyebut situasi di sana sebagai “tragis dan menyedihkan”. Seruan yang melawan arus diam dan munafik para pemimpin Barat terhadap genosida yang dilakukan entitas Zionis.

Sang Paus dari Selatan

Dilahirkan di Buenos Aires pada 1936 dengan nama Jorge Mario Bergoglio, ia mencatat banyak jejak dalam sejarah gereja: Paus pertama dari Amerika Latin, dari luar Eropa sejak Abad Pertengahan, sekaligus Paus Jesuit pertama sepanjang masa.

Kehidupan awalnya sebagai anak imigran Italia, latar belakang Kimia, dan pilihan hidup dalam ordo Jesuit membentuk kepemimpinan yang berbeda dari para pendahulunya. Ia menolak kemewahan Vatikan, tinggal di rumah tamu sederhana, dan menjauhi ornamen kepausan. Ia mengangkat suara bagi kaum miskin, pengungsi, dan korban konflik, meski tak luput dari kritik tajam atas kompromi-kompromi yang dibuat dengan kekuatan imperium Barat.

Paus Fransiskus terpilih pada Maret 2013 usai pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Ia memilih nama “Fransiskus” sebagai penghormatan kepada Santo Fransiskus dari Assisi; ikon asketisme, pembela kaum miskin, dan pembaharu gereja. Namun banyak kalangan menilai bahwa dalam dunia yang dikendalikan oleh algoritma dan korporasi militer, jalan asketik sang Paus terlalu sunyi untuk melawan badai imperium.

Diplomasi Spiritual di Tengah Bara Perang

Selama masa kepemimpinannya, Fransiskus mengunjungi berbagai zona konflik, termasuk Irak (2021), Jazirah Arab (2019), dan Mesir (2017). Di Irak, ia melakukan pertemuan bersejarah dengan Ayatullah Ali al-Sistani, momen langka perjumpaan tertinggi antara pemimpin Katolik dan otoritas spiritual Syiah. Ia juga menandatangani Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan di Abu Dhabi, sebuah gesture simbolik di tengah arogansi geopolitik negara tuan rumah yang terlibat dalam agresi ke Yaman.

Kunjungan-kunjungan ini menggarisbawahi peran Vatikan sebagai aktor diplomatik moral, meski tidak selalu disambut hangat oleh kekuatan neo-imperial yang menjadikan agama sebagai alat propaganda dan perang budaya.

Akhir Sebuah Bab, Awal dari Kekosongan Moral?

Kepergian Paus Fransiskus menyisakan pertanyaan: akankah penggantinya mampu mempertahankan warisan perlawanan moral terhadap ketidakadilan global, atau akan terseret kembali dalam pelukan Pax Americana?

Di dunia yang diguncang oleh perang hibrida, blokade ekonomi, dan penjajahan digital, suara spiritual yang mampu melampaui batas agama, seperti yang coba diwakili Paus Fransiskus, menjadi semakin langka, seperti kian terasingnya kebenaran itu sendiri di tengah kita.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *