Baptisan Barat untuk Al-Jolani: Skema Kolonial AS di Balik Penataan Militer Suriah
POROS PERLAWANAN – Di balik keputusan Amerika Serikat untuk menarik sebagian pasukannya dari Suriah, tersimpan sebuah skema geopolitik yang jauh lebih besar daripada sekadar rasionalisasi militer. Langkah ini menandai dimulainya babak baru operasi “soft-colonization” Washington di jantung Levant: sebuah kombinasi antara tekanan militer, diplomasi minyak, dan upaya kooptasi rezim transisi yang kini dipimpin oleh tokoh kontroversial, Abu Muhammad Al-Jolani, yang kini menamai dirinya Ahmad al-Shara.
Penataan Ulang Bukan Penarikan: Narasi Tipuan Pentagon
Pada 23 April, media Farsnews mengabarkan bahwa AS telah memulai proses penarikan sebagian pasukan dari Suriah dalam tiga tahap. Namun, langkah ini tidak lain adalah rekalibrasi kekuatan, bukan pengunduran. Dalam waktu 60 hari, Pentagon akan mengevaluasi ulang dan berencana menyisakan sekitar 500 personel dan sejumlah pangkalan aktif.
Meskipun digambarkan sebagai bentuk pelaksanaan keinginan Presiden AS untuk “mengakhiri perang tanpa akhir”, rencana ini sesungguhnya dirancang bahkan sebelum Donald Trump menjejakkan kaki di Gedung Putih. Inilah pola lama Amerika: menciptakan ilusi penarikan, sembari meneguhkan kembali kontrol melalui proksi lokal dan legitimasi baru.
Tel Aviv Gerah, Al-Jolani Mendapat Tawaran
Keputusan ini menciptakan gesekan nyata antara Washington dan Tel Aviv. Israel, menurut Al-Arabi Al-Jadid, secara terang-terangan menolak rencana tersebut, khawatir akan meningkatnya peran Turki di Kawasan dan merosotnya kontrol atas kelompok bersenjata Kurdi.
Namun, motif Washington bukanlah pelepasan dominasi, melainkan penyesuaian. Melalui jalur politik dan pengaruh finansial, AS kini melirik figur baru: Al-Jolani. Bukan tanpa alasan. Dalam lanskap pasca-Assad, pria ini adalah figur yang mulai dikanonisasi oleh Washington sebagai “wajah moderat” dari kekuasaan baru.
Proposal Tersembunyi: Minyak untuk Loyalitas
Dua pangkalan yang dikosongkan: Al-Omar dan Pabrik Gas Conoco, berada di wilayah terkaya sumber daya energi Suriah. Ini bukan kebetulan. Dengan “menyerahkan” dua aset minyak ini ke Damaskus, AS menawarkan barter beracun: minyak untuk loyalitas politik. Washington bersedia menyerahkan sebagian kendali ladang minyak, asalkan rezim baru bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel dan memutus garis pasokan Perlawanan Iran serta kelompok Palestina di Suriah.
Bersamaan dengan itu, proposal AS mencantumkan permintaan eksplisit: memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris Suriah, serta menutup pintu bagi Hizbullah dan Hamas. Ini bukan hanya syarat damai, melainkan penyerahan sepihak kedaulatan kepada arsitek proyek Abraham Accords.
Pangkalan AS: Lebih Sedikit, Tapi Lebih Strategis
Meski berkurang jumlahnya, pasukan AS tidak pergi sepenuhnya. Pangkalan utama di Qasrak dan Al-Shaddadi tetap aktif. Bahkan satu pangkalan baru tengah direncanakan di dekat Bendungan Tishrin, timur Aleppo. Fokusnya kini bergeser: dari perang langsung ke “pembinaan struktur transisi”. AS ingin menjadikan SDF sebagai bagian resmi dari aparatus keamanan rezim baru Suriah. Semua ini dikemas dalam narasi “memerangi sisa-sisa ISIS”; Sebuah narasi yang sudah terlalu usang untuk menutupi proyek dominasi neo-imperialis.
Poros Perlawanan di Persimpangan
Langkah terbaru ini menyimpan konsekuensi besar bagi front Poros Perlawanan. Bukan hanya karena tekanan diplomatik dan militer, Melain juga karena simbolisme: Amerika ingin membalik Suriah menjadi batu loncatan baru untuk menekan Iran dan sekutu-sekutunya. Dengan menggandeng Al-Jolani; mantan Emir Jabhat al-Nusra yang dahulu digelari teroris, kini Washington ingin membaptis ulang Perlawanan menjadi alat taktis mereka sendiri.
Oposisi Lama, Topeng Baru
Amerika Serikat tidak sedang meninggalkan Suriah. Ia sedang mengganti seragam. Dari tentara di lapangan ke agen diplomatik di Istana Damaskus, dan dari peluru ke proposal. Namun esensinya tetap sama: menciptakan Suriah yang tunduk, bukan merdeka.
Sementara rezim transisi mungkin sedang menikmati aroma legitimasi Barat, satu hal pasti; Perlawanan sejati akan tetap teruji dalam gelombang kolonialisme gaya baru ini.
