Ayatullah Khamenei Singgung Relevansi Ajaran Ahlulbait dan Perlawanan Kontemporer
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa ajaran para Imam Ahlulbait (a.s) adalah fondasi keteguhan, ketegaran, dan perlawanan terhadap kezaliman. Pernyataan ini disampaikan dalam acara peringatan kesyahidan Imam Ja’far Shadiq (a.s) yang digelar di Tehran, pada Kamis 24 April.
Takdir Ilahi dan Pelajaran Sejarah
Dalam pidatonya, Imam Khamenei menjelaskan bahwa dalam takdir Ilahi, seharusnya terjadi perubahan politik pada tahun 70 Hijriah yang mengembalikan kepemimpinan kepada Ahlulbait (a.s). Namun, tragedi Karbala dan pengkhianatan umat menyebabkan penundaan hingga tahun 140 Hijriah; masa Imam Shadiq (a.s).
“Ketika Imam Hasan (a.s) berdamai dengan Muawiyah, banyak yang protes. Padahal, beliau sudah memberi isyarat bahwa kezaliman Bani Umayyah hanya sementara,” tegasnya. “Tapi setelah syahidnya Imam Husain (a.s), kemurkaan Allah membuat takdir itu tertunda.”
Beliau menekankan bahwa kelalaian dan kesalahan umat, seperti membocorkan rahasia, kurangnya kesabaran, atau analisis politik yang keliru, dapat mengubah jalannya sejarah. “Andai kaum Syiah saat itu lebih disiplin, mungkin hari ini dunia akan berbeda,” ujarnya.
Imam Shadiq (a.s) dan Perlawanan Intelektual
Imam Khamenei menyoroti peran Imam Shadiq (a.s) dalam membangun basis keilmuan Islam di tengah tekanan politik Dinasti Abbasiyah. “Beliau mendidik 4.000 murid, bukan dalam satu kelas, tapi sepanjang hidupnya. Ini menunjukkan strategi dakwah yang cerdas,” jelasnya.
Beliau juga membantah keras riwayat-riwayat palsu yang menggambarkan Imam Shadiq (a.s) bersikap lemah di hadapan penguasa zalim. “Kisah Imam memohon maaf kepada Mansur adalah kebohongan. Para Imam tidak pernah merendahkan diri di hadapan tiran!” tegasnya.
Relevansi dengan Perlawanan Kontemporer
Imam Khamenei menegaskan bahwa semangat Perlawanan para Imam masih hidup hingga hari ini. “Pejuang di Gaza, Lebanon, dan siapa pun yang melawan kezaliman, sedang berjalan di garis yang sama dengan Imam Husain (a.s) dan Imam Shadiq (a.s),” ucapnya.
Pernyataan ini dinilai sebagai dukungan moral bagi Gerakan Perlawanan di Kawasan, terutama di tengah konflik terkini di Palestina.
Pidato Imam Khamenei kali ini tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga politis. Dengan menegaskan kembali prinsip “resistensi”, beliau mengukuhkan posisi Iran dan sekutunya sebagai Poros Perlawanan terhadap hegemoni global.
