AS Akui Kegagalan Trump Taklukkan Ansharullah di Laut Merah
POROS PERLAWANAN – Upaya Amerika Serikat untuk menaklukkan Gerakan Ansharullah di Yaman melalui serangan udara besar-besaran di Laut Merah telah memakan biaya miliaran Dolar, namun hasilnya nihil. Bahkan, menurut laporan eksklusif Foreign Policy yang dilansir Farsnews Agency pada Jumat 25 April, kampanye militer era Trump ini tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga membuka luka strategis baru dalam perencanaan militer Washington.
Dalam lima pekan operasi intensif, dua tujuan utama yang dicanangkan Pentagon tetap jauh dari jangkauan: menjamin keamanan pelayaran di Laut Merah dan menciptakan efek jera terhadap Ansharullah. Sebaliknya, lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut masih terpuruk, dan pasukan Perlawanan Yaman semakin intens menyerang sasaran-sasaran Israel dan aliansi Amerika di Kawasan.
Serangan Mahal, Hasil Kosong
Keith Johnson dari Foreign Policy mencatat bahwa meski lebih dari satu miliar Dolar dikucurkan, operasi tersebut gagal menyentuh akar persoalan. Bahkan, jatuhnya tarif pengiriman global membuat pelayaran dunia lebih fleksibel untuk memutar lewat Tanjung Harapan, melemahkan urgensi untuk memulihkan jalur Laut Merah—menjadikannya perang mahal demi simbolisme belaka.
Ironisnya, retorika Trump yang menjual perang ini sebagai “perlindungan terhadap perdagangan bebas” justru muncul di saat perang dagang yang ia picu sendiri telah menurunkan volume perdagangan global. Dalam kata lain: Washington membakar gudangnya sendiri, lalu menyalahkan api dari luar.
Minim Transparansi, Maksimal Propaganda
Pentagon, sebagaimana dicatat Foreign Policy, bungkam soal detail operasi. Tidak ada laporan resmi, kecuali potongan video helikopter yang lebih menyerupai trailer film blockbuster daripada transparansi publik. Di tengah kemerosotan moral tentara AS dan krisis legitimasi global, video ini hanya mempertegas satu hal: ketegangan antara ilusi kekuatan dan kenyataan lapangan.
Penggunaan berlebihan senjata presisi dalam operasi ini juga menimbulkan pertanyaan strategis mendalam. Persenjataan semacam ini seharusnya diprioritaskan untuk menghadapi skenario konflik besar, seperti potensi konfrontasi di Taiwan. Namun, kini ia dikuras untuk melawan pasukan gerilya Yaman yang bersenjatakan drone murah dan rudal rakitan.
Strategi yang Terbelah: Timur Tengah atau Indo-Pasifik?
Alessio Patalano dari King’s College London menggarisbawahi ironi strategis: “Bagaimana bisa AS menyebut Indo-Pasifik sebagai prioritas, tetapi terus menggelontorkan sumber daya ke kubangan Timur Tengah?”
Ini bukan sekadar kegagalan logistik, tapi disonansi strategis akut. Salah satu dokumen internal Pentagon bahkan mengakui bahwa serangan ini tidak ditujukan untuk menghancurkan Ansharullah, tetapi untuk “memulihkan efek jera”—suatu tujuan kabur yang membuktikan kekacauan dalam perumusan doktrin keamanan nasional AS.
Legitimasi Laut dan Masa Depan Armada AS
Wakil Presiden JD Vance sendiri mempertanyakan mengapa “keamanan pelayaran” didefinisikan sebagai kepentingan vital AS. Sementara itu, suara-suara publik dan pakar mulai bertanya lebih keras: Jika miliaran Dolar dan Angkatan Laut terbesar dunia tak mampu menundukkan pasukan rakyat di Yaman, untuk apa semua itu?
Patalano mengingatkan: “Jika publik mulai bertanya ‘apa gunanya Angkatan Laut kalau tidak bisa kalahkan Houthi?’, mereka benar.” Kekalahan simbolik ini bisa menjadi awal dari penurunan legitimasi armada AS secara global.
Serangan Trump ke Laut Merah menjadi studi kasus tentang kegagalan imperialisme modern: menggunakan kekuatan besar untuk melawan musuh yang memahami medan, sejarah, dan semangat rakyat. Dalam menghadapi Ansharullah, AS bukan hanya kehilangan miliaran Dolar, melainkan juga kehilangan arah.
