Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Pemimpin Ansharullah: Kapal AS sudah Lari dari Laut Yaman, Inggris Tinggal Tunggu Waktu dan Giliran

Pemimpin Ansharullah: USS Harry Truman Bergelung di dalam ‘Cangkang Pertahanan’

POROS PERLAWANAN – Pemimpin Gerakan Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, mengungkap perkembangan krusial dalam babak terbaru perlawanan terhadap agresi AS-Inggris di Laut Merah dan Semenanjung Arab. Dalam pidatonya yang disiarkan Al-Masirah pada Jumat, ia menegaskan bahwa serangan Amerika terhadap Yaman bukanlah operasi militer biasa, melainkan bagian integral dari proyek penjajahan Zionis di Kawasan.

“Agresi Amerika terhadap Yaman adalah kelanjutan langsung dari dukungan Washington terhadap Tel Aviv. Ini bukan perang dua negara, ini adalah satu front yang menghadap umat,” tegas al-Houthi.

Genosida Terang-Terangan, Dunia Diam Seribu Bahasa

Dalam konteks genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, al-Houthi menyoroti bahwa hampir 1.300 warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—menjadi korban baru dalam sepekan terakhir. Lebih dari 7.000 keluarga telah dihancurkan oleh rudal dan bom Zionis, dan lebih dari 1.400 tenaga medis telah dibunuh secara sistematis untuk melumpuhkan sistem kesehatan Palestina.

“Pemandangan anak-anak berebut sepotong roti adalah tamparan bagi kemanusiaan. Dunia membisu, tapi kami tidak akan tinggal diam,” ujarnya.

Lebanon dan Suriah, Satu Front, Satu Musuh

Menyoroti front utara, al-Houthi menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Lebanon semakin terang-terangan, dengan pembangunan posisi militer baru minggu ini. Ia menekankan bahwa hanya Perlawanan yang mampu mencegah kehancuran total.

“Jika bukan karena Perlawanan di Lebanon, Zionis sudah mencaplok negeri itu seperti mereka memperlakukan Gaza. Kami menghormati Hizbullah dan Sayyid Hasan Nasrallah—garda depan kehormatan umat.”

Mengenai Suriah, ia mencatat bahwa agresi Israel terus berlanjut di bawah bayang-bayang keheningan internasional, dan bahwa “damai” hanyalah kedok bagi pendudukan.

Mesir dan Terusan Suez Target Selanjutnya

Menyinggung pernyataan Donald Trump terkait Terusan Suez, al-Houthi menilai Mesir sebagai target strategis berikutnya dalam agenda Zionis-AS. Dalam proyek imperialis ini, tak satu pun negara Muslim dibiarkan lepas dari incaran, termasuk dua kota suci Islam.

“Tujuan akhir mereka adalah penguasaan atas Makkah dan Madinah. Mereka tak akan berhenti sebelum kiblat umat dikuasai.”

Armada Amerika Mundur, Inggris Menunggu Waktu

Secara khusus, al-Houthi mengungkap bahwa kapal-kapal induk AS mulai menarik diri dari kawasan Laut Merah setelah gagal menghadapi gelombang serangan drone dan rudal Yaman. Kapal induk USS Harry S. Truman telah diperintahkan meninggalkan Kawasan, menyusul jatuhnya jet tempur F-18 sebagai simbol kekacauan dan kekalahan.

“Amerika panik. Mereka tak berani lagi bertahan di zona operasi. Ini bukan soal kehilangan pesawat, ini soal kehilangan wibawa.”

Inggris, menurutnya, telah mengambil peran aktif dalam agresi terhadap Yaman dan kini hanya tinggal menunggu giliran menerima konsekuensinya.

Perlawanan adalah Takdir Umat

Di akhir pernyataannya, al-Houthi memperingatkan bahwa gelombang baru Zionisme tidak hanya membawa senjata, tetapi juga perang lunak dan infiltrasi budaya. Akibatnya, dunia Islam hari ini dihadapkan pada babak paling berbahaya dalam proyek pendudukan modern.

“Ketika 57 negara tak mampu mengirim satu kaleng susu ke Gaza, perlawanan adalah satu-satunya jalan. Yaman tidak akan menyerah. Kami berdiri bersama Palestina, Lebanon, Irak, dan Suriah. Bersama, kita adalah front tunggal menuju kemenangan.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *