Surat Al-Jolani untuk Trump: Buka Jalan Menuju Suriah Abrahamik atau Kacung Baru Zionis?
POROS PERLAWANAN – Dalam salah satu ironi paling getir di kancah Timur Tengah pasca-2024, Pemimpin kelompok Haiat Tahrir al-Sham (HTS), Abu Mohammad al-Jolani, dilaporkan mengirimkan surat pribadi kepada Presiden AS, Donald Trump. Isinya bukan kecaman atas agresi militer AS-Israel terhadap Suriah, melainkan tawaran untuk menjadikan Suriah pasca-Assad sebagai calon peserta baru dalam Perjanjian Abraham. Sebuah proyek normalisasi yang diarsiteki Washington dan Tel Aviv.
Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Press TV pada Jumat 25 April, dalam artikel berjudul “Syria’s HTS seeks normalization with Israel, Jolani writes to Trump”. Surat tersebut dikirim melalui anggota Kongres AS Cory Mills, setelah pertemuan langsung antara Jolani dan Mills di Idlib.
Langkah ini menandai babak baru, sekaligus mengungkap wajah sejati Jolani, dari “jihadis reformis” yang sempat dipromosikan media Barat, kini berubah menjadi duta bagi proyek Abraham di jantung Levant.
Dari Republik Merdeka ke Kacung Zionis
Apa yang oleh Jolani dan para patronnya di Washington disebut sebagai “realisme politik baru”, sejatinya adalah bentuk mutakhir dari kapitulasi. Strategi ini bukan jalan keluar dari krisis, melainkan lorong gelap menuju penguasaan kolonial gaya baru. Delapan dekade perjuangan rakyat Suriah; dari Golan ke Quneitra, dari Daraa ke Aleppo, hendak digadaikan di bursa geopolitik demi selembar tiket masuk ke orbit Tel Aviv.
Bagi Zionis, legitimasi bukanlah kebutuhan moral, melainkan alat ekspansi. Hingga surat Jolani itu, yang ditulis dengan tinta pengkhianatan, bisa menjadi secarik kontrak untuk menjual kehormatan sebuah negeri.
Zionisme Tak Ingin Damai, Tapi Derasnya Darah
Sejak awal tahun ini, menyusul keruntuhan sebagian infrastruktur Pemerintahan Damaskus, mesin perang Zionis bergerak cepat. Serangan udara presisi menghantam instalasi militer Suriah. Tank-tank mereka melintasi Hermon. Di Golan, Benyamin Netanyahu menyatakan, “Kami akan bertindak sendiri.” Dan mereka memang bertindak: Quneitra dan Sweida terbakar, bukan hanya secara fisik, melainkan juga simbolik.
Dalam konteks ini, Jolani menyerukan “koeksistensi” dan “normalisasi”. Seolah penjajahan adalah salah paham. Seolah 500.000 jiwa yang gugur selama perang Suriah dapat ditebus dengan satu jabat tangan di bawah Bendera 3 Bintang.
Abraham, Nama yang Diculik, Janji yang Beracun
Proyek Abraham tidak pernah tentang perdamaian. Ia adalah perombakan paksa lanskap politik dan budaya regional sesuai peta strategis Israel. Jika Suriah terhisap ke dalam orbit ini, maka sabuk Perlawanan dari Gaza–Beirut–Damaskus akan koyak. Suriah akan bergeser dari benteng Perlawanan menjadi buffer zone bagi keamanan Zionis.
Jolani, dalam konteks ini, bukan pemimpin, melainkan manajer dan wali wilayah yang menjalankan mandat asing dalam kerangka kolonialisme baru. Di balik layar, tekanan pada elite kompromistis Lebanon terus meningkat; sementara di Irak dan Yaman, sanksi serta perang proksi dilancarkan untuk melumpuhkan sendi-sendi Poros Perlawanan.
Dari Mujahid Palsu ke Komprador Sejati
Surat kepada Trump jika itu benar dan bisa dipercaya, adalah puncak deklaratif dari proyek panjang kolonialisasi oposisi Suriah. Ini bukan sekadar lobi politik, melainkan pengakuan jujur: bahwa “oposisi” yang didanai dari Doha, dilatih di Amman, dan dipersenjatai oleh CIA serta Mossad, sejak awal adalah anak kandung dari desain imperium.
Dari meja Hotel Doha ke reruntuhan Idlib, seluruh jalur operasi itu kini terbuka lebar dan tujuannya jelas: normalisasi, bukan kebebasan; penundukan, bukan kemerdekaan.
Masih Adakah Bara dalam Debu Suriah?
Kini, dunia menatap Suriah dengan diam tegang. Akankah negeri yang pernah melahirkan sosok keras kepala seperti Hafez al-Assad dan pejuang-pejuang Hizbullah tunduk begitu saja? Atau masih tersisa bara dalam debu, yang menunggu waktu untuk kembali menyala?
Sejarah Asia Barat tidak menyimpan belas kasihan bagi para penjilat penjajah. Mereka yang menggadaikan Tanah Air atas nama “realisme geopolitik” selalu berakhir di buku sejarah sebagai peringatan, bukan panutan.
Pengkhianatan mungkin menunda kehancuran, tapi tak pernah menghindarkannya. Pada akhirnya, waktu akan menunjukkan: betapa murah harga sebuah negeri, jika dijual oleh seorang komprador bersorban seperti Jolani. [PP/MT]
