Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Bagaimana Dunia Harus Menghadapi Parade Gila Trump

POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat telah mengubah panggung dunia menjadi panggung pertunjukannya. Bagi Donald Trump, batas antara kawan dan lawan, sekutu dan musuh, hanyalah ilusi, ia memperlakukan semuanya dengan cara yang sama yakni semena-mena. Dengan tameng “perang dagang”, ia menyerbu Tiongkok dan Uni Eropa, lalu melangkah ke Kanada, Teluk Meksiko, Terusan Panama, hingga menjamah Teluk Persia melalui propaganda “perubahan nama” dan proyek kolonialisme modern.

Trump bisa menarik diri dari satu konflik secepat ia melompat ke perang langsung. Contohnya sangat mencengangkan, sekitar 1.712 operasi militer terhadap Yaman hanya dalam waktu satu setengah bulan. Di satu sisi, ia menyerukan negosiasi dengan Iran, di sisi lain ia menyulut api sanksi, ancaman, dan provokasi. Ironisnya, media dunia, termasuk di Indonesia tanpa sadar menjadi megafon kampanyenya, memberitakan setiap gerak-geriknya seolah itu wahyu politik.

Lalu pertanyaannya: apa sebenarnya yang diinginkan Trump? Apakah ia benar-benar aktor utama? Benarkah klaim media Ibrani bahwa Trump berselisih dengan Netanyahu? Lebih penting dari itu semua, bagaimana seharusnya dunia menyikapi “teori gila” yang kini menjelma menjadi praktik kekuasaan global?

Seorang Raja dalam Cermin Delusi

Empat bulan kekuasaannya telah cukup untuk menunjukkan satu hal bahwa Trump adalah personifikasi narsisme patologis. Ia memandang dirinya sebagai raja terpilih Tuhan. Delusi ini mencapai puncaknya setelah ia selamat dari dugaan percobaan pembunuhan, diberitakan sebuah peluru menembus pangkal telinganya, dan ia dengan bangga memublikasikan foto dirinya dalam pakaian pop art! Bukti bahwa kita tengah berhadapan dengan seorang pemimpin delusional, yang melihat kekuasaan sebagai perpanjangan dari ego ilahinya.

Ini bukan sekadar opini liar. Ratusan psikolog ternama telah mengafirmasi kondisi mental Trump sebagai narsistik akut. Cukup lihat lukisan besar yang ia pajang di kantornya dengan adegan dramatis kegagalannya dibunuh. Dunia menjadi panggung teatrikal ego Trump.

Kebutuhan untuk Dikagumi dan Nafsu untuk Menghina

Narsisis seperti Trump memiliki karakteristik utama, seorang megalomania. Ia percaya dirinya jenius, luar biasa, dan tak tergantikan. Saat menyebut Biden “presiden terburuk”, ia langsung menasbihkan dirinya “presiden terbaik sepanjang sejarah”.

Ia mengejek demokrasi AS dengan menyebut Kanada sebagai “negara bagian ke-51”. Protes demi protes menggema di jalanan Amerika dengan teriakan lantang, “Kami tidak butuh raja!” Tapi raja itu tetap duduk di tahta, dikelilingi para penjilat di Gedung Putih yang berperan sebagai cermin pujian.

Trump tidak hanya haus pujian. Ia juga menunjukkan “lack of empathy”, ‘moral ketidakpedulian total terhadap penderitaan orang lain’. Sikap ini terlihat jelas dalam pertemuannya dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Tanpa rasa hormat, Trump mempermalukannya di hadapan dunia.

Karakteristik seperti “rasa berhak”, “eksploitasi”, “reaksi agresif terhadap kritik”, dan “upaya mempermalukan lawan” menjadikan Trump bukan hanya ancaman politik, tapi juga ancaman psikologis global.

Teori Orang Gila dan Ancaman sebagai Taktik

Trump tidak bercanda saat berbicara soal dominasi. Ia benar-benar ingin menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Namun di balik semua retorika bombastis, tersimpan strategi tua, yakni ajukan tuntutan tidak realistis disertai ancaman, lalu mundur sedikit agar terlihat “berkompromi”.

Tarif 250 persen untuk barang Tiongkok dikurangi menjadi 120 persen dan lawan pun merasa telah menang. Ini bukan negosiasi; ini tipu daya. Moto Trump adalah: “Ancam, takuti, mundur sedikit, dan menangkan poin”.

Pendekatannya serupa dengan yang diakui mantan Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley. Dalam konferensi di Charlotte (Oktober 2018), Haley menjelaskan bahwa pekerjaannya saat itu adalah menjalankan diplomasi berdasarkan “teori orang gila” yang pernah digunakan Nixon. “Trump tidak terduga dan ingin ditakuti,” katanya. Strategi ini berhasil: ancaman serangan AS ke Korea Utara membuat Tiongkok menyetujui sanksi keras di PBB.

Ilusi Konflik dengan Netanyahu

Klaim bahwa Trump berselisih dengan Netanyahu terkait Iran adalah penipuan belaka. Faktanya, semua posisi dan sanksi AS terhadap Iran berada dalam garis lurus dengan agenda Zionis. Retorika media Ibrani yang menyebut adanya perbedaan metode hanyalah siasat untuk menciptakan ilusi “oposisi internal”. Tujuannya jelas, ia ingin mempertahankan negosiasi sambil terus melanggengkan tekanan.

Bahkan ketika Trump menggunakan istilah palsu “Teluk Arab” alih-alih “Teluk Persia”, tak satu pun media yang berani memprotes, karena mereka telah diyakinkan bahwa Trump “berbeda” dari Netanyahu. Padahal, sejatinya mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Tak ada perpecahan, hanya strategi sandiwara kemunafikan.

Trump adalah Gejala dari Sistem

Trump bukan sekadar fenomena personal; ia adalah cerminan sistem yang gagal. Sebuah struktur kekuasaan yang mengakar pada narsisme, ilusi keagungan, dan taktik intimidasi. Dengan menerapkan teori psikopolitik seperti “teori orang gila”, Trump berupaya menjaga dunia dalam ketakutan dan ketidakpastian permanen, agar konsesi terus mengalir, dan harga kekuasaan tetap murah.

Dalam dunia seperti ini, garis antara sahabat dan musuh mengabur. Semua negara, semua pemimpin, menjadi alat tawar-menawar. Sementara media yang seharusnya kritis, justru ikut menari dalam simfoni kebohongan.

Maka dunia harus sadar, bahwa senyum Trump adalah kedok, ajakan damainya adalah perangkap, dan retorika komprominya adalah bentuk baru penjajahan. Tidak ada “niat baik” dalam diplomasi Trump, yang ada hanyalah ilusi yang dipoles dengan ancaman.

Satu-satunya cara untuk menghadapi parade gila ini adalah dengan keteguhan bermartabat, solidaritas internal, dan penolakan total terhadap logika tunduk dan menyerah. Karena dalam menghadapi kepribadian gila yang bersenjatakan belati tajam, satu-satunya yang waras adalah melakukan perlawanan. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *