Pesta Darah di Istana Riyadh: Saat al-Jolani dan MBS ‘Menikah’ di Bawah Restu Trump
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah adegan yang lebih layak difilmkan oleh Hollywood ketimbang dicatat dalam sejarah Arab, tiga tokoh berdiri di bawah kubah emas istana Riyadh: Donald Trump, sang dalang imperium; Mohammed bin Salman (MBS), sang pangeran penjagal; dan Abu Muhammad al-Jolani, juru sembelih bersertifikat CIA yang kini tampil berjas. Mereka tak sedang berbicara soal perdamaian, melainkan menyusun ulang peta pengkhianatan terhadap Palestina dan dunia Arab; di atas karpet Turki yang basah oleh darah anak-anak Gaza.
Di tengah gemerlap langit-langit istana yang menyerupai altar pesta pora, MBS berdiri di sisi kiri Trump, mengenakan jubah kebesaran raja-raja minyak. Namun sang juru foto dengan cermat menangkap momen ketika kepala MBS tampak dihiasi bintang-bintang Amerika, sebuah simbol budak yang bangga akan rantainya. Di sisi kanan, al-Jolani, yang biasanya bersembunyi di gua Idlib, kini berdasi, rambut klimis, dan tampak siap menandatangani kontrak baru. Bukan kontrak jihad, tapi kontrak Dolar dan drone.
Di tengah keduanya, Donald Trump berdiri dengan senyum merekah, khas ayah baptis mafia, puas karena dua anak didiknya kini bersatu bukan atas dasar iman atau keadilan, melainkan atas dasar keuntungan geopolitik dan ilusi perdamaian buatan. Trump tampak seperti modin nikah politik haram yang menyatukan penguasa minyak dan algojo Takfiri dalam satu ikatan kolonialisme baru.
Bendera-bendera di belakang mereka bukan sekadar kain. Itu adalah kain kafan pembungkus nurani Arab: bendera Saudi yang lebih tunduk pada wahyu Washington ketimbang Madinah, dan bendera oposisi Suriah yang dulu dikibarkan atas nama kebebasan, kini jadi panji lelang Damaskus ke penawar tertinggi.
Di istana Riyadh, pada Selasa 13 Mei, darah anak-anak Gaza telah mengering bersama parfum Paris yang disemprotkan MBS ke ruang tamu. Di sinilah cetak biru “Suriah Baru” digambar, bukan demi rakyat, tapi demi jalur pipa, lisensi tambang, dan pangkalan bayaran. Di sinilah Trump menabalkan al-Jolani, bukan lagi sebagai teroris, tapi sebagai “mitra strategis”—gelar eksklusif bagi mereka yang cukup haus darah dan cukup tunduk pada kompas Zionis.
Pengkhianatan ini bukan peristiwa diplomatik. Ini adalah resepsi pemakaman nurani Arab.
Ini bukan foto keluarga. Ini adalah penandatanganan kontrak.
Kontrak untuk menjual Palestina per meter persegi, dengan imbalan cek investasi dari neraka.
Kontrak untuk memeras darah rakyat Suriah, agar bisa dikemas dalam lisensi pembantaian resmi perusahaan tentara bayaran.
Kontrak untuk melelang kehormatan dunia Islam, demi secuil sisa makanan dari meja penjajah. [PP/MT]
