Film Dokumenter Oil Weapon: Sebuah Catatan Analitis dari Medan Perang Narasi
POROS PERLAWANAN — Film Dokumenter “Selah-e Naft” (Oil Weapon) membuka tabir sejarah yang terlupakan, bahwan Perang Narasi belum usai.
Di tengah gelombang disinformasi global dan pembalikan realitas, sebuah dokumenter baru berjudul “Selah-e Naft” mencoba menembus kabut narasi dominan yang telah lama menyelimuti sejarah Timur Tengah. Disutradarai oleh Mohammad Hadi Nemati, film ini memutar kembali rekaman sejarah embargo minyak pada 1973; bukan sekadar sebagai arsip, melainkan sebagai senjata balik melawan pelupaan yang disengaja.
Peluncuran film ini diselenggarakan di Palestine Cafe, Teheran pada Selasa 20 Mei, dan dihadiri oleh tokoh media serta intelektual dari berbagai negara seperti Irak, Lebanon, Rusia, Venezuela, Pakistan, Argentina, dan Tunisia. Acara ini bukan hanya pemutaran film, melainkan juga forum terbuka untuk merefleksikan narasi global yang kian dikendalikan oleh segelintir pihak berkepentingan.
Era “Pembalikan Kebenaran”
“Kita hidup di era inti realitas; era di mana kebenaran dibalikkan,” ujar mantan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Hamidreza Asefi, dalam pidato pembukaan yang langsung mengatur nada kritis malam itu.
Ia menyinggung isu Palestina sebagai manifestasi paling jelas dari kebingungan moral global. “Di Madrid tahun 1991, Netanyahu bicara soal kemerdekaan Palestina. Hari ini, bahkan hak dasar rakyat Palestina ia tolak mentah-mentah,” tambah Asefi.
Narasi telah berpindah tangan, bukan karena kebenaran berubah, tapi karena yang bersuara lebih nyaring kini mengendalikan cerita.
Menghidupkan Kembali Boikot 1973
Dokumenter “Selah-e Naft” merekonstruksi embargo minyak pada 1973 yang dilakukan negara-negara Arab terhadap Barat sebagai reaksi atas dukungan terhadap Israel dalam Perang Yom Kippur. Langkah itu mengguncang pasar global, memicu krisis energi, dan untuk sesaat memperlihatkan bahwa negara-negara produsen minyak punya daya tawar geopolitik yang kuat.
Namun, sebagaimana disampaikan Mustafa Shoghi dari Organisasi Seni Media Ouj: “Peristiwa sebesar itu nyaris hilang dari buku sejarah dan media populer. Film ini adalah pengingat bahwa minyak pernah menjadi senjata politik paling tajam dari Selatan terhadap Utara.”
Narasi vs Fakta
Film ini hadir pada masa ketika narasi kerap lebih kuat dari kenyataan. Asefi mengingatkan: “Hari ini, perang utama adalah perang narasi. Pihak yang menang bukan yang paling benar, tapi yang paling nyaring dan paling kaya.”
Di tengah medan itu, dokumenter seperti “Selah-e Naft” menjadi bentuk intervensi naratif. Bukan untuk menggantikan satu narasi dengan narasi lain, tapi untuk mengembalikan keseimbangan wacana. “Kita harus berani merekam ulang sejarah, dari sisi yang selama ini disensor atau diredam,” lanjut Asefi.
Lebih dari Sekadar Film
Produser Film, Ehsan Shadmani mengenang salah satu narasumber utama dokumenter ini, seorang pengacara asal Prancis yang telah wafat tahun lalu, Gilles Duvier. Duvier mengabdikan hidupnya membela hak anak-anak Palestina. Baginya, hukum dan kebenaran tidak bisa dipisahkan dari sejarah.
Film ini, kata Shadmani, tidak hanya menyajikan data dan rekaman arsip, tapi juga membawa penonton ke dalam analisis mendalam tentang bagaimana embargo minyak gagal mencapai dampak jangka panjang, dan mengapa narasi dominan berhasil menghapus peristiwa itu dari ingatan kolektif.
Melawan Lupa, Membangun Arsip Kritis
Bagi Asefi, film ini hanyalah satu dari sekian banyak upaya yang perlu dilakukan untuk membangun arsip sejarah yang adil. “Masih banyak peristiwa penting yang menunggu untuk diceritakan ulang, kudeta 1952, Perang Iran-Irak, isu pengayaan nuklir. Semua ini adalah bagian dari satu medan yang sama: perang narasi,” katanya.
Ia menekankan bahwa kerja budaya dan dokumentasi tidak akan langsung berdampak. “Dalam kerja seni, kita tidak bisa berharap hasil instan. Kadang butuh waktu bertahun-tahun agar sebuah karya benar-benar mengubah pandangan,” pungkasnya.
Suara dalam Keheningan
Sebagai produk dari Kampus Internasional Organisasi Seni Media Ouj, “Selah-e Naft” lebih dari sekadar karya sinema dokumenter. Ia adalah respons terukur, cermat, dan penuh komitmen terhadap dunia yang menormalisasi penyesatan fakta.
Dalam dunia di mana yang benar bisa dibungkam oleh yang lebih kuat, film ini menjadi suara kecil yang menolak untuk diam.
Dalam perang narasi yang panjang, setiap suara jujur adalah bentuk perlawanan. [PP/MT]
INFO FILM
Judul: Selah-e Naft (Oil Weapon) dalam bahasa Persia
Sutradara: Mohammad Hadi Nemati
Produser: Ehsan Shadmani
Produksi: Organisasi Seni Media Ouj
Tema: Embargo Minyak 1973, Perlawanan Narasi, Sejarah Timur Tengah
Bahasa: Persia (belum diterjemahkan ke bahasa lain)
Sumber rujukan:
1. IRNA: رونمایی از مستند «سلاح نفت» در جمع نخبگان سیاسی و رسانهای
2. https://www.instagram.com/reel/DJ07xpINcx5/
3. Cinemahouse: مستند «سلاح نفت» رونمایی شد
