Yaman Umumkan Penargetan Pelabuhan Haifa, Perluas Blokade terhadap Israel Usai Sukses ‘Lumpuhkan’ Pelabuhan Eilat
POROS PERLAWANAN – Pemerintah Yaman mengumumkan bahwa mereka kini telah mulai menargetkan pelabuhan Haifa, menyusul pengepungan sukses terhadap pelabuhan Umm al-Rishrash (Eilat). Dalam pernyataan resminya, Juru Bicara Militer Yaman, Yahya Saree, pada Selasa 20 Mei, menyebutkan bahwa langkah ini merupakan kelanjutan dari strategi blokade terhadap Israel yang telah berlangsung sejak akhir 2023.
“Dengan keyakinan kepada Tuhan dan mengikuti perintah pemimpin, kami telah memutuskan untuk memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Haifa yang Diduduki,” ujar Saree, seperti dikutip oleh surat kabar Kayhan.
Tahap Lanjutan Pengepungan
Langkah ini menjadi kelanjutan dari aksi militer Yaman yang dimulai pada 7 Oktober 2023, tak lama setelah operasi “Badai Al-Aqsa” oleh Hamas. Yaman secara resmi menyatakan keterlibatannya dalam mendukung perjuangan Palestina dan membuka front baru melawan Israel.
Sejak saat itu, Militer Yaman telah meluncurkan rudal dan drone ke Wilayah Pendudukan, serta menciptakan ketidakamanan di koridor maritim penting di Laut Merah. Sejak akhir Oktober 2023, mereka juga menerapkan blokade laut yang efektif, khususnya di kawasan strategis Bab al-Mandeb, dengan menyerang kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Israel.
Selain itu, pada akhir November dan awal Desember 2023, Yaman memperingatkan maskapai internasional untuk menghindari wilayah udara Palestina yang Diduduki. Ancaman ini direalisasikan lewat serangkaian serangan drone dan rudal ke bandara Ben Gurion di Tel Aviv. Pada Mei 2024, militer Yaman memperluas embargo udara dengan melarang semua penerbangan masuk dan keluar melalui langit Israel.
“Kami telah mengepung rezim yang dulu menguasai langit dan laut, dari jantung Sanaa hingga jantung Tel Aviv,” kata Saree.
Blokade Pelabuhan Haifa: “Keputusan Moral dan Kemanusiaan”
Menurut laporan ISNA yang mengutip saluran resmi Al-Masirah, Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan Yaman menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Haifa merupakan keputusan “kemanusiaan dan bermoral” untuk menghentikan agresi Israel dan membuka kembali jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Setiap perusahaan yang mengabaikan larangan ini dan tetap mengirim kapal ke Haifa akan masuk dalam daftar sanksi Yaman. Kapal-kapal tersebut tidak akan diizinkan melewati Laut Merah dan Samudra Pasifik,” bunyi pernyataan tersebut.
“Angkatan Bersenjata Yaman akan menganggap semua pihak yang terlibat sebagai bagian dari agresi dan pengepungan Gaza, dan akan menargetkan kapal yang memiliki hubungan dengan pelabuhan tersebut.”
Dukungan Palestina dan Dampak Ekonomi
Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) menyambut baik langkah ini, menyebutnya sebagai “perubahan besar dalam persamaan pencegahan” dan menunjukkan solidaritas nyata dari satu-satunya negara Arab yang aktif mendukung perjuangan Palestina secara militer.
Sementara itu, dampak dari blokade sebelumnya terhadap pelabuhan Eilat mulai terasa. Menurut data dari Biro Statistik Israel, volume impor melalui Laut Merah menurun hingga 85% pada kuartal pertama 2024. Pelabuhan Eilat dinyatakan praktis tidak beroperasi dan menjadi pelabuhan “terbengkalai”, menurut laporan media ekonomi Globes.
Blokade ini melumpuhkan industri petrokimia, rantai pasokan bahan bakar, dan impor kendaraan di wilayah selatan Israel. Di tingkat global, serangan Yaman terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel meningkatkan premi asuransi hingga lima kali lipat dan menaikkan biaya pengiriman barang dari Asia ke Eropa sebesar 300%, menurut laporan Forbes. Perusahaan pelayaran besar seperti Maersk, Hapag-Lloyd, dan MSC bahkan menghentikan penggunaan rute Laut Merah.
Jika blokade Haifa berhasil diberlakukan, maka Israel praktis kehilangan dua pelabuhan utama: Eilat dan Haifa. Satu-satunya akses laut yang tersisa adalah melalui pelabuhan Ashdod, yang berada sangat dekat dengan Jalur Gaza—sebuah wilayah yang berada dalam jangkauan langsung Kelompok Perlawanan Palestina.
Pengakuan AS atas Realitas Baru
Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Pertahanan AS mengakui kegagalan pendekatan militer terhadap Yaman dan menegaskan bahwa prioritas Washington adalah menghentikan serangan terhadap pengiriman di wilayah tersebut, bukan mengganti Pemerintahan Yaman.
“Kami tidak akan mengulangi kesalahan di Irak dan Afghanistan. Houthi memang belum sepenuhnya hancur, tapi AS juga harus memprioritaskan isu-isu strategis lainnya, seperti China dan Iran,” ujar pejabat tersebut.
Langkah militer Yaman yang semakin terorganisasi dan bereskalasi kini mulai menggoyang sistem logistik dan ekonomi Israel secara serius. Dengan meluasnya blokade ke pelabuhan Haifa, Israel menghadapi risiko kelumpuhan ekonomi total, yang dapat memaksa tekanan internasional, terutama dari negara-negara Barat untuk menghentikan agresi dan pengepungan terhadap Gaza.
