Presiden Dewan Eropa Akui Situasi di Gaza Masih Sangat Buruk, Namun Enggan Kecam Kejahatan Zionis
POROS PERLAWANAN — Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat buruk akibat agresi militer terus-menerus yang dilancarkan oleh Rezim Pendudukan Israel.
Mengutip laporan Al Jazeera yang disiarkan oleh Kantor Berita Mehr, Costa menyampaikan pernyataan tersebut dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, pada Selasa 4 Juni, membahas perang Gaza dan dinamika regional.
“Saya telah menjalin kontak yang baik dan konstruktif dengan Presiden Mesir dan sekali lagi menyerukan diakhirinya pengepungan Israel terhadap Gaza,” ujar Costa.
Dalam sebuah unggahan di platform X (dulu Twitter), Costa menambahkan: “Situasi di Gaza masih sangat buruk. Kami menyerukan Israel untuk mencabut blokade kemanusiaan terhadap rakyat Palestina dan menghentikan operasi militernya.”
Ia juga menyatakan apresiasinya terhadap peran Mesir dan Qatar yang dianggap “tak kenal lelah” dalam mendorong kesepakatan gencatan senjata berdasarkan usulan Amerika Serikat. Menurutnya, “kembalinya gencatan senjata secara segera sangat penting, yang harus mengarah pada pembebasan semua tahanan Zionis dan penghentian permusuhan secara permanen”.
Dukungan Sepihak, Tanpa Kecaman atas Kejahatan Perang
Meskipun mengungkapkan keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan, Costa, seperti mayoritas pemimpin Uni Eropa lainnya, lebih menghindari untuk secara tegas mengutuk genosida yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Lebih jauh lagi, Uni Eropa secara keseluruhan, bersama Amerika Serikat, tercatat sebagai pendukung utama militer dan diplomatik Israel. Jerman, misalnya, diketahui memasok lebih dari 30% kebutuhan senjata Israel, termasuk yang digunakan dalam agresi militer brutal terhadap warga sipil Palestina.
Di tengah laporan PBB tentang kelaparan massal, kehancuran infrastruktur sipil, serta pembantaian sistematis terhadap ribuan warga, sikap pasif dan retoris pejabat-pejabat Eropa dianggap sebagai bentuk pembiaran terhadap kejahatan perang yang berlangsung di depan mata dunia.
