Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Saat Rudal dari Sanaa Hantam Negev dan Sirene Meraung di Beersheba, Rezim Pendudukan Mulai Belajar Mengeja Kata ‘Balasan’

POROS PERLAWANAN — Pada Sabtu pagi 28 Juni, yang seharusnya tenang, sirene meraung-raung di Beersheba, Negev, dan Arad. Namun ini bukan sirene perayaan. Ini adalah alarm dari langit yang tak bisa dibungkam. Sebuah roket diluncurkan dari Yaman, dan untuk sesaat, kekuatan yang terbiasa menyerang tanpa perlawanan, kini belajar mengeja kata “balasan”.

Menurut laporan dari Al-Manar, tentara Israel mengonfirmasi bahwa rudal tersebut datang dari Yaman, sebuah negeri yang selama bertahun-tahun dikabarkan “hancur”, namun ternyata masih punya cukup kekuatan untuk mengirimkan peringatan melalui langit dari tempat yang jauh.

Yaman, yang selama ini dilabeli “medan perang internal”, rupanya memiliki satu hal yang tidak dimiliki banyak negara yang lebih kaya raya, yaitu memori panjang dan keberanian panjang umur. Di tengah kehancuran akibat blokade dan intervensi bertahun-tahun, mereka tanpa lelah mengirim pesan ke langit Wilayah Pendudukan, bahwa solidaritas bukan slogan, melainkan proyek jangka panjang.

Bagi Tel Aviv dan sekutunya, ini bukan ancaman militer besar. Namun dalam politik simbolik, ini adalah gempa berkekuatan 9.0 skala Richter. Karena ketika sebuah bangsa yang sedang dibakar justru bisa melempar api balik, maka narasi superioritas berubah jadi ilusi yang retak.

Ketika Israel Tahu Rasanya Dikejutkan

Sirene-sirene yang meraung hari itu bukan hanya karena deteksi rudal. Itu adalah pengingat bahwa kekebalan terhadap konsekuensi kini tinggal mitos. Biasanya, Israel dengan pongah menembakkan misil ke Rafah atau Jenin dan menonton dari ruang situasi. Kini, mereka menonton dengan cemas dari bunker.

Ledakan yang terdengar di Arad adalah suara pergeseran lanskap. Ini bukan tentang daya ledak roket, tapi daya ledak pesan, bahwa Wilayah Pendudukan tak lagi steril dari respons.

Ketika Sirene Menjadi Simbol Keseimbangan Baru

Roket itu mungkin gagal menembus sistem pertahanan. Namun ia sukses menembus narasi. Roket itu membelah propaganda lama bahwa Zionisme bisa bertingkah bebas tanpa takut dibalas. Namun kini, roket inilah yang membuat Beersheba merasakan apa yang dirasakan setiap malam oleh Gaza, Saada, atau Khan Younis, ditingkah bunyi alarm tanpa kepastian, langit yang tak bersahabat, dan dunia yang terlalu sunyi dalam diam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *