Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Bukan Hanya Iron Dome yang Babak Belur, Anggaran Israel pun Tak Kalah Hancur

POROS PERLAWANAN — Jika ada satu hal yang tak bisa dibantah dari perang 12 hari antara Iran dan Israel, itu adalah hukum sederhana fisika geopolitik: setiap aksi pasti ada reaksi, dan tagihannya bakal datang dalam bentuk miliaran Dolar.

Selama lebih dari seminggu, langit Israel tidak lagi jadi simbol dominasi udara, tapi berubah menjadi panggung kehancuran finansial dan psikologis, di mana sirene menggantikan bunyi pasar dan rudal menggantikan retorika politik.

Menurut estimasi dari berbagai sumber, kerugian material yang ditanggung Israel berada di antara $11 hingga $17,8 miliar, atau sekitar 3,3% dari Produk Domestik Bruto mereka. Angka ini tidak sekadar statistik, tetapi cermin bahwa tidak ada sistem pertahanan yang benar-benar kedap terhadap konsekuensi.

Ekonomi dalam Status Darurat: Bunker Finansial Pecah

1. Dana $5 miliar langsung hangus di minggu pertama perang.

2. Ongkos $725 juta keluar per hari untuk mempertahankan sistem militer, termasuk Iron Dome yang legendaris, namun nyatanya tidak cukup legendaris untuk mencegat lebih dari 400 warhead Iran yang melesat dari segala arah.

3. Weizmann Institute, kebanggaan riset Israel, kehilangan $500 juta akibat serangan langsung yang menghancurkan laboratorium unggulannya.

4. Penutupan Fab Intel di Kiryat Gat, bukan hanya soal produksi chip, tapi juga reputasi Israel sebagai “Silicon Wadi” yang kini retak oleh realita rudal.

5. Tercatat 500.000 lebih warga Zionis meninggalkan Israel sejak Oktober, 80.000 di antaranya pascaserangan Iran. Kapital asing pun mulai hengkang, menyelamatkan diri dari peta risiko yang semakin tidak “start-up friendly”.

Dalam waktu 12 hari, negara yang kerap berbicara tentang “deterrence” ini justru menjadi pelajaran hidup tentang biaya kesombongan strategis.

Bloomberg: Angka Disulap, Tapi Kenyataan Meledak

Sementara itu, Bloomberg dalam artikelnya tanggal 26 Juni berjudul, “Iran Caused $3 Billion of Damage With Missile Strikes on Israel”, menampilkan angka yang lebih ramah investor: kerugian hanya $3 miliar. Versi ringan ini, disajikan dengan sentuhan diplomatik, tampaknya bertujuan menjaga pasar tetap tenang. Akan tetapi, bahkan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich mengakui angka riil bisa mencapai $12 miliar, sementara Gubernur Bank Israel mencoba meredam kepanikan dengan perkiraan setengahnya.

Bagaimanapun angka-angka kerugian itu mau disulap, tapi mari jujur: apa makna angka jika sekolah ditutup, rumah sakit terbakar, dan pusat riset luluh lantak?

Bloomberg lupa menambahkan bahwa:

1. Satu rudal Iran mampu membawa 500 kg bahan peledak, bukan pamflet resolusi PBB.

2. Separuh kekuatan rudal balistik Iran masih belum dipakai. Jadi jika ini baru “babak pertama”, babak kedua mungkin tidak akan pakai iklan jeda.

“Rudal balistik itu, ya ampun, menghancurkan banyak bangunan,” kata Trump pada Rabu 26 Juni, mengenai serangan Iran. Israel dan Iran “lelah, kehabisan tenaga,” tambahnya.

Saat Iron Dome Tak Bisa Menahan Utang

Israel kini harus menghadapi kenyataan:

1. Rasio utang terhadap PDB naik menjadi 75%

2. Anggaran pertahanan membengkak $857 juta, bukan untuk “menang”, tapi untuk bertahan.

3. Untuk menutupi lubang finansial, Tel Aviv “terpaksa” memotong anggaran kesehatan dan pendidikan sebesar $200 juta.

Sebuah ironi yang getir: demi menghancurkan sebuah negara berdaulat seperti Iran, Israel justru harus mengorbankan rakyatnya sendiri, bukan di medan perang, melainkan di ranjang rumah sakit dan ruang kelas yang sunyi.

Menyerang Asumsi, Bukan Hanya Infrastruktur

Kini menjadi jelas bahwa yang menghancurkan Israel bukan semata rudal, melainkan juga asumsi, bahwa mereka kebal dari respons; bahwa dominasi militer bisa menutupi kerentanan ekonomi; bahwa rakyat Palestina, Lebanon, Yaman, dan Iran akan terus diam sambil dihancurkan perlahan.

Inilah fakta tak terbantah: dunia telah berubah. Jadi, ketika Weizmann Institute runtuh, yang juga ikut runtuh adalah mitos bahwa Israel bisa menghancurkan tanpa dihancurkan.

Ini bukan kemenangan perang. Ini adalah kebangkitan kesadaran, bahwa Poros Perlawanan kini tidak hanya berbicara lewat mikrofon, tapi lewat target akurat, tekanan ekonomi, dan keberanian menyodorkan realitas baru.

Netral, atau Normalisasi Kekerasan?

Setelah semua ini, satu pertanyaan tersisa bagi dunia internasional: Apakah kita masih akan menuding serangan balasan Iran ini sebagai “provokasi”, sementara agresi sepihak Israel mesti terus diperlakukan sebagai “hak pertahanan diri”?

Karena jika tidak, maka kita tak sedang hidup dalam tatanan dunia, kita sedang menonton panggung kekuasaan, di mana hukum hanya berlaku untuk yang lemah, dan impunitas hanya bisa dibongkar dari bawah ke atas.

Tags: