Qalibaf: Sebelum Kebijakan Iran Menghasilkan Kekuatan, Geografinya Sudah Lebih Dulu Menjadi Sumber Kekuatan (4)
POROS PERLAWANAN — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa kekuatan dan relevansi Iran di Kawasan tidak semata-mata berasal dari sistem politik atau kebijakannya, tetapi terlebih dahulu dari posisi geografis, sejarah peradaban, serta dimensi spiritual dan ideologis bangsa Iran.
“Pada masa lalu, sistem politik Iran bersifat tergantung dan tidak independen. Meski begitu, kekuatan asing, baik sekutu maupun mitra mereka, sudah mengidentifikasi geografi Iran sebagai elemen kunci menuju kemenangan. Mereka memandang posisi strategis Iran sebagai jembatan, bukan hanya secara militer, melainkan juga secara peradaban,” jelas Qalibaf.
Menurutnya, ketika letak geografis Iran dipadukan dengan sejarah panjang peradaban, rakyat yang meyakini prinsip Islam yang menentang penindasan, menjunjung kemerdekaan, kehormatan, pengetahuan, kekuasaan, serta memiliki kapasitas material dan spiritual besar, maka keseluruhannya menjadikan Iran sebagai kekuatan vital di Kawasan.
“Iran hari ini adalah negara yang bersatu dan solid.. dan dalam kerangka ideologi ekspansionis rezim Zionis, keberadaan Iran yang kuat dan mandiri seperti ini jelas tidak bisa diterima. Permusuhan mereka bersifat ideologis, bukan reaktif. Mereka, dengan dukungan penuh Amerika dan Barat, akan tetap memusuhi kita meskipun kita memilih untuk tidak berurusan dengan mereka. Karena faktanya, mereka yang secara aktif berurusan dengan kita.”
Geografi Mendahului Kebijakan
“Dengan kata lain,” lanjutnya, “sebelum kebijakan Iran menghasilkan kekuatan, geografinya sudah lebih dulu menjadi sumber kekuatan. Iran bukan hanya negara; ia adalah poros historis, geografis, dan spiritual di Kawasan.”
Qalibaf kemudian menyoroti bahwa meski terdapat perbedaan pandangan dan pendekatan politik di dalam negeri, namun ketika dihadapkan pada invasi asing, seperti serangan dari rezim Zionis dan intervensi langsung Amerika, semua elemen bangsa bersatu.
“Peradaban, keyakinan, geografi, kehormatan, dan seluruh jati diri Iran menyatu dalam lingkar kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Revolusi, dan bangsa ini berbicara dengan satu suara. Inilah kekuatan yang selalu menjadi kekhawatiran utama rezim Zionis.”
Sejarah yang Penuh Luka, Namun Tak Pernah Takluk
Qalibaf mengajak untuk menengok sejarah geopolitik Iran:
“Lihatlah dataran tinggi Iran di masa lalu, yang wilayahnya membentang hampir dua kali lipat dari luas Iran saat ini. Namun, akibat lemahnya sistem politik dan berbagai perang selama 200–300 tahun terakhir, sebagian besar wilayah itu lepas. Terakhir, pada tahun 1973, kita kehilangan Bahrain.”
Ia menekankan bahwa seluruh kehilangan wilayah itu terjadi di bawah sistem politik yang tidak independen. Namun perlawanan rakyat tetap ada, dan titik baliknya terjadi setelah kemenangan Revolusi Islam.
“Saat perang dipaksakan oleh rezim Ba’ath dan Saddam, seluruh dunia—baik Timur maupun Barat—mendukung musuh. Uni Soviet menyediakan desain dan tank, Amerika dan sekutunya membiayai, Prancis menyuplai jet Mirage, dan pasukan dari berbagai negara dikerahkan. Akan tetapi, sistem Wilayat al-Faqih dan Republik Islam mampu mempertahankan Tanah Air dan Islam.”
Qalibaf mengenang peristiwa di awal perang:
“Saya ingat Pemimpin Tertinggi, saat itu sebagai perwakilan Imam Khomeini (semoga Allah merahmatinya) di Dewan Pertahanan Tertinggi, turun langsung ke medan perang. Saat beliau ditanya: ‘Apakah kita berperang demi Islam atau demi Tanah Air?’ beliau menjawab tegas, ‘Pertanyaan itu salah. Islam dan Tanah Air bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya penting dan saling menguatkan.’”
Peneguhan Identitas Nasional dan Islam
“Pernyataan itu menegaskan bahwa sistem politik, keyakinan, dan Republik Islam bukan hanya membela teritori, melainkan juga menjaga sejarah, budaya, dan identitas peradaban Iran. Inilah yang menjelaskan mengapa bangsa ini selalu bersatu melawan musuh eksternal—dan mengapa musuh eksternal selalu khawatir akan kekuatan yang muncul dari persatuan ini.”
Iran Tidak Terkejut, Metode Operasional Israel Memang Sangat Brutal
Ketika pertanyaan utama diajukan kepada Qalibaf: Apakah Iran terkejut dengan serangan mendadak yang dilancarkan oleh Israel?
“Insiden yang terjadi pada malam pertama adalah peristiwa berskala besar,” jawab Qalibaf. “Dalam dua setengah jam pertama, dua hal signifikan terjadi. Namun, saya tidak akan mengatakan bahwa kami terkejut oleh pecahnya perang ini.”
Qalibaf menjelaskan bahwa sejak awal, aparat militer dan pertahanan Iran telah bersiaga. Dua tokoh militer penting, yang kini telah gugur sebagai syuhada, sudah berada di pos mereka masing-masing.
“Malam itu, Martir Salami berada di ruang komando, meskipun ia tidak berada di dalam bunker. Sementara itu, Martir Hajizadeh sudah berada di bunker komandonya, memimpin operasi. Ini menunjukkan bahwa kami menyadari kemungkinan adanya serangan,” jelasnya.
Jadi, apakah perang ini dapat diprediksi?
“Ya, mereka sudah mengetahui bahwa ada potensi besar terjadinya agresi musuh pada malam-malam tersebut. Terutama dalam beberapa minggu terakhir, situasi menunjukkan gejala yang sangat jelas bahwa sesuatu sedang dirancang oleh pihak lawan. Kami tidak terkejut dengan fakta bahwa perang terjadi, kami tahu bahwa kami sedang berdiri di tepi jurang eskalasi penuh.”
Apakah serangan awal Israel lebih mirip aksi terorisme daripada manuver militer konvensional?
“Serangan tersebut adalah perpaduan antara aksi teror dan tindakan militer,” tegas Qalibaf. “Namun yang mengejutkan bukanlah perang itu sendiri, melainkan metode operasional yang digunakan oleh rezim Zionis.. dan cara-cara ini sangat khas bagi mereka.”
Jadi, tidak ada keraguan di pihak Iran tentang siapa pelakunya dan apa niatnya?
“Tidak ada sedikit pun keraguan,” jawab Qalibaf lugas. “Hakikat rezim Zionis adalah teroris. Mereka tidak segan menindak siapa pun yang dianggap menghalangi ambisi mereka, baik individu, kelompok, organisasi, maupun negara. Mereka melakukannya dengan kejahatan terang-terangan, tanpa mengenal batas moral, hukum internasional, atau norma-norma kemanusiaan.”
“Bagi mereka, tidak ada garis merah. Inilah yang membedakan rezim Zionis: karakter fundamentalis, brutal, dan tanpa kendali etis,” tegas Qalibaf.
Bersambung…
