Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Qalibaf: Permusuhan Israel terhadap Iran Berakar Lebih Dalam dari Sekadar Rudal dan Nuklir (3)

POROS PERLAWANAN — Terlepas dari tiga tujuan strategis utama Israel dalam perang 12 hari yang mereka paksakan, yakni menggulingkan sistem pemerintahan Iran, serta menargetkan program nuklir dan kekuatan rudalnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menekankan bahwa fondasi permusuhan Israel terhadap Iran jauh lebih dalam dan kompleks.

“Permusuhan ini tidak hanya berkaitan dengan tiga aspek teknis tersebut. Kita sedang berada dalam sebuah tatanan Kawasan yang sedang mengalami reaktivasi patahan geopolitik,” ujarnya. “Motivasi dan pandangan strategis Israel terhadap Iran tidak berhenti pada upaya penggulingan Republik Islam semata. Tujuan sebenarnya adalah Iran itu sendiri.”

Menurut Qalibaf, kebencian rezim Zionis terhadap Iran bersifat struktural, melekat, dan tidak bersyarat pada kebijakan apa pun yang dijalankan oleh Pemerintahan Iran.

“Pertanyaannya adalah: mengapa Iran menjadi begitu relevan dan sekaligus menjadi target kebencian yang sedemikian besar, hingga Netanyahu menjadikan seluruh proyek dan pencapaian politiknya sebagai agenda anti-Iran?”

“Bahkan jika kita menganggap tidak ada hubungan antara Iran dan rezim Zionis, rezim Zionis tetap menganggap dirinya memiliki hubungan langsung, atau lebih tepatnya, konflik langsung, dengan kita.”

Ketika ditanya, “Siapa yang dimaksud dengan ‘kita’ dalam konteks ini?”

Qalibaf mengatakan, “Iran. Bukan hanya Republik Islam sebagai sistem politik, tetapi Iran sebagai entitas, sebagai bangsa, sebagai realitas geopolitik. Tentu saja kebijakan dan sikap politik kita penting, tapi yang lebih fundamental dari itu adalah letak geografis Iran itu sendiri.”

Qalibaf menegaskan bahwa konflik dengan Israel bukan sekadar soal ideologi atau kebijakan negara, tetapi lebih dalam dari itu: soal eksistensi dan posisi strategis Iran.

“Sebelum Israel mempermasalahkan politik kita, mereka sudah mempermasalahkan geografi kita.”

Sebagai analogi historis, ia menyinggung bagaimana posisi strategis Iran telah lama menjadi perhatian kekuatan global.

“Jika kita menilik kembali Perang Dunia I dan II, Iran saat itu menyatakan sikap netral. Namun tidak satu pun dari kekuatan besar yang terlibat dalam perang menghormati netralitas tersebut. Mereka semua tetap memasuki dan mengintervensi wilayah kita.”

Kesimpulan implisit dari Qalibaf: Iran bukan sekadar negara dengan ideologi yang ditentang oleh Zionisme. Iran adalah pusat geopolitik yang tak bisa diabaikan dalam tatanan Kawasan. Artinya, selama Iran tetap tegak dengan identitas dan kemandiriannya, ia akan selalu menjadi sasaran dari kekuatan-kekuatan hegemonik yang merasa terancam oleh keberadaannya.

Bersambung…

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *