Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Sullivan: JCPOA Lebih Efektif Menahan Program Nuklir Iran daripada Serangan Militer Berbiaya Mahal Tapi Gagal

POROS PERLAWANAN – Menurut laporan Kayhan pada Senin 21 Juli, mantan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan menegaskan bahwa perjanjian nuklir (JCPOA) jauh lebih berhasil dalam membatasi program nuklir Iran dibandingkan pendekatan militer yang mahal dan agresif oleh Amerika Serikat dan Israel.

“Kesepakatan nuklir (JCPOA) mampu menahan program nuklir Iran hingga 15 tahun dengan biaya minimal. Sementara itu, serangan militer mahal oleh Amerika dan Israel hanya mampu menundanya beberapa bulan,” tegas Sullivan dalam Forum Keamanan Aspen baru-baru ini.

Menurutnya, JCPOA memberikan keuntungan keamanan terbesar bagi Amerika dan Israel.

“Jika Anda ragu, tanyakan saja pada orang Israel. Mereka akan mengakui bahwa antara tahun 2015–2018, Iran mematuhi semua komitmennya: tidak memindahkan cadangan uranium, tidak memasang sentrifugal baru,” ujar Sullivan.

Ia juga menyatakan bahwa serangan militer terbaru AS terhadap wilayah Iran tidak diperlukan dan gagal mencapai tujuannya.

“Trump tidak seharusnya memilih jalan konfrontasi militer. Serangan itu melemahkan peluang diplomasi. Iran saat itu siap untuk menerima sebuah kesepakatan luar biasa, sebuah kesepakatan yang bisa membatasi program nuklirnya, bukan hanya untuk beberapa tahun, tetapi mungkin beberapa dekade,” lanjutnya.

“Menurut saya, pada akhirnya Presiden Trump pun akan kembali ke jalur diplomasi, karena itulah satu-satunya jalan menuju penyelesaian permanen terhadap ancaman nuklir Iran,” tuturnya.

National Interest: Negosiasi dengan Trump Sangat Berisiko

Sementara itu, majalah Amerika The National Interest menyebut bahwa masuk kembali ke jalur negosiasi dengan Trump sangat berisiko bagi Iran.

“Trump telah membuktikan dirinya tidak dapat dipercaya. Ia mudah berbohong, melanggar perjanjian, dan menggunakan pendekatan ‘pria gila’ untuk memperdaya lawan”, tulis majalah itu.

Majalah tersebut menilai bahwa meskipun Trump dikabarkan ingin mencapai kesepakatan baru, motif utamanya adalah menjaga tekanan terhadap Iran dan mempertahankan ancaman militer sebagai alat negosiasi.

“Washington masih ingin menjauh dari perang besar dan agenda perubahan rezim ala Israel, tetapi mereka tetap ingin mempertahankan ancaman kredibel terhadap Iran di atas meja.”

CIA: Iran Dikhianati di Meja Negosiasi

Analis senior dan mantan pejabat CIA, Larry Johnson, juga mengakui bahwa Iran telah dikhianati melalui jalur diplomasi.

“Saya percaya Iran akhirnya sadar bahwa mereka telah ditipu. Mereka mempercayai proses negosiasi sebagai saluran diplomasi yang sah, tetapi AS justru menggunakannya sebagai kedok untuk menghancurkan Iran.”

Blinken: Iran Siap Membatasi Pengayaan di Bawah 1%

Dalam wawancara dengan Christiane Amanpour, mantan Menlu AS Antony Blinken menyatakan bahwa sebelum gelombang serangan oleh Israel dan Amerika, Iran telah siap untuk membatasi tingkat pengayaan uraniumnya hingga di bawah 1%, dan bahkan bersedia membahas program rudal balistiknya, klaim yang disambut skeptis oleh banyak analis independen.

Foreign Affairs: Perang Tidak Menghentikan Program Nuklir Iran

Majalah Foreign Affairs baru-baru ini juga menulis: “Perang bukanlah jalan untuk menahan program nuklir Iran. Justru, tekanan militer telah gagal, dan diplomasi harus kembali menjadi prioritas.”

Mantan pejabat senior AS, lembaga intelijen, dan bahkan media utama Amerika kini mengakui bahwa:

– Serangan militer tidak mampu menghentikan kemajuan nuklir Iran.

– JCPOA dengan segala kekurangannya, merupakan pendekatan yang jauh lebih berhasil.

Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika bukan tanpa alasan, melainkan karena rekam jejak pengkhianatan dan manipulasi diplomatik yang berulang.

Di tengah konstelasi ini, satu fakta semakin jelas: Iran bukan negara yang dapat ditekan tanpa konsekuensi. Upaya untuk membendung kemajuannya dengan pendekatan koersif justru mendorongnya menjadi lebih mandiri, lebih tangguh, dan lebih strategis dari sebelumnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *