Kekerasan Berlanjut di Suriah Meski Gencatan Senjata Diumumkan, AS-Israel Kembali Diuntungkan
POROS PERLAWANAN – Meski Menteri Informasi Suriah yang juga dikenal sebagai tokoh utama dalam pemerintahan transisi yang kontroversial telah mengumumkan rincian gencatan senjata tiga tahap di Provinsi Sweida, kekerasan dan pembunuhan di jalanan tetap berlangsung. Rezim Abu Muhammad al-Jolani masih melakukan tindakan brutal di wilayah tersebut, menandakan bahwa krisis jauh dari selesai.
Mengutip laporan Al-Mayadeen pada Senin 21 Juli, Menteri Informasi rezim Jolani, Hamza al-Mustafa menyampaikan bahwa:
1. Tahap pertama gencatan senjata mencakup pengerahan pasukan keamanan di wilayah barat dan utara Sweida.
2. Tahap kedua akan membangun jalur kemanusiaan antara Daraa dan Sweida untuk evakuasi warga sipil.
3. Tahap ketiga mencakup reaktivasi lembaga-lembaga pemerintahan serta penyebaran bertahap pasukan keamanan di Sweida.
Sumber dari Kementerian Dalam Negeri Suriah menyebutkan bahwa pasukan Jolani akan ditempatkan di jalur-jalur utama dan dua penyeberangan, Haya Basri al-Sham dan Basri al-Harir akan dibuka untuk eksodus warga sipil. Pertukaran tahanan juga direncanakan setelah implementasi gencatan senjata dinyatakan berhasil.
Namun, terlepas dari pengumuman ini, laporan di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan dan bentrokan tetap terjadi antara kaum Druze, pasukan Jolani, dan sejumlah suku lokal lainnya. Gambar-gambar kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Jolani terus tersebar, memperlihatkan warga sipil yang dipaksa melompat dari apartemen, mayat-mayat bergelimpangan di jalan, dan adegan-adegan mengerikan lainnya.
Ironisnya, gambar-gambar ini muncul bersamaan dengan potret Abu Muhammad al-Jolani dalam balutan jas, lengkap dengan gestur-gestur teatrikal yang dianggap menggelikan oleh banyak pihak, sebuah kontras tragis yang sulit ditoleransi.
Perspektif Israel: Ketidakpercayaan terhadap Rezim Jolani
Dari Tel Aviv, Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz menyatakan ketidakpercayaan terhadap Abu Muhammad al-Jilani (alias Ahmad al-Sharaa), menyebutnya sebagai ancaman bagi stabilitas regional:
“Kelompok-kelompok yang hari ini menyerang kaum Druze, besok akan mengarahkan serangan ke Israel.”
Dalam kunjungan bersejarahnya ke Washington, Katz menyatakan bahwa ia dan Menteri Pertahanan AS telah membahas isu-isu strategis dan menyepakati langkah-langkah yang diklaim akan “menjamin kekuatan dan kemakmuran Israel”.
Sementara itu, di Wilayah Pendudukan, sekitar 2.000 anggota komunitas Druze yang tergabung dalam militer dan pasukan keamanan Israel menyatakan kesiapan mereka untuk membantu kaum Druze di Sweida. Kementerian Kesehatan Israel juga mengumumkan kesiapan mengirimkan bantuan medis ke wilayah konflik. Bagi pengamat yang jeli, dukungan ini dinilai bukan semata-mata kemanusiaan, melainkan bagian dari agenda geopolitik Israel di kawasan tersebut.
Strategi Zionis di Selatan Suriah
Menurut sejumlah analis, agresi Israel terhadap kota-kota dan provinsi di Suriah bertujuan melemahkan kekuatan Perlawanan di sekitar Palestina yang Diduduki. Tiga provinsi di selatan Suriah, Quneitra, Daraa, dan Sweida yang berbatasan langsung dengan Palestina yang Diduduki, menjadi target utama. Israel menghendaki wilayah perbatasan itu bebas dari kekuatan militer atau senjata strategis.
Setiap konflik antara suku-suku lokal atau antara kekuatan lama dan kekuatan baru di Suriah dipandang sebagai peluang intervensi oleh Israel. Tujuannya: mengondisikan sebagian wilayah Suriah agar tunduk, baik secara de jure maupun de facto, pada kepentingan Zionis. Jika ada penolakan dari rakyat Suriah atau Pemerintahan transisi yang baru, maka skenario selanjutnya mencakup infiltrasi, intervensi militer, dan bahkan ekspansi ke wilayah Sungai Efrat, perbatasan Irak, hingga ke proyek ambisius “Terusan Daud”.
Kerugian Besar di Pihak Rezim Jolani
Komandan pasukan keamanan internal Suriah yang berafiliasi dengan rezim Jolani mengonfirmasi bahwa lebih dari 200 anggota dari Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri tewas pada hari pertama serangan terhadap Sweida, dan lebih dari 400 orang terluka.
Komandan tersebut menyatakan bahwa beberapa kelompok lokal yang “keras kepala” telah membawa Sweida ke kondisi ini. Perselisihan antarkelompok Badui dan faksi-faksi lokal dinilai memaksa Pemerintah untuk melakukan intervensi bersenjata.
“Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk menaati perintah komando pusat dan menarik diri dari zona konflik,” tegasnya.
Pada kenyataannya, konflik antara rezim Jolani dan Israel adalah pertarungan antara dua entitas penindas yang saling bersaing atas wilayah dan pengaruh, tetapi yang menjadi korban utamanya tetaplah rakyat Suriah.
Pembangunan Rahasia Tiga Pangkalan Amerika
Dalam perkembangan terpisah, beberapa sumber informasi mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat telah mulai membangun tiga pangkalan baru di wilayah timur Suriah, tepatnya di sekitar Al-Hasakah dan Deir Ezzor, hingga ke pinggiran Al-Tanf.
Pembangunan ini dilakukan secara tertutup, tanpa pengumuman resmi, dan mencakup pembangunan landasan pacu bandara, yang menunjukkan indikasi proyek jangka panjang. Belum diketahui apakah pangkalan-pangkalan ini bersifat sementara atau permanen, namun kehadiran Amerika Serikat yang semakin menguat di Suriah menambah kompleksitas dan ancaman terhadap kedaulatan negara tersebut.
