Araghchi: Di Bawah Bimbingan Pemimpin Tertinggi, Republik Islam Mampu Kelola Perang dan Paksa Musuh Ajukan Gencatan Senjata
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Sayyid Abbas Araghchi menyatakan bahwa berkat kebijaksanaan dan visi strategis Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Iran berhasil mengelola konfrontasi militer terbaru dan membalas agresi musuh dengan efektif, hingga memaksa mereka mengajukan gencatan senjata tanpa syarat.
Dalam pertemuan nasional para gubernur, seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Tasnim pada Senin 21 Juli, Araghchi menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara kepemimpinan visioner dan dedikasi penuh para pejabat negara.
“Dengan kebijaksanaan dan kecerdasan Pemimpin Tertinggi, serta kerja keras dan kesiapan penuh dari seluruh aparat pemerintahan, kita mampu mengelola perang dan memaksa musuh untuk mundur serta menerima gencatan senjata tanpa prasyarat,” ujar Araghchi. “Perang 12 hari telah memberikan pelajaran penting. Dengan mengevaluasi kekurangan dan memperkuat kelebihan, kita akan menjadikan Republik Islam ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.”
Diplomasi Berbasis Provinsi: Poros Baru Politik Luar Negeri Iran
Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri juga menyoroti pentingnya peran provinsi-provinsi, khususnya daerah perbatasan, dalam menjalankan diplomasi aktif dan konstruktif.
“Dalam sidang mosi tidak percaya sebelumnya, saya tegaskan bahwa provinsi-provinsi kita, terutama yang berbatasan langsung dengan negara lain, memiliki kapasitas dan legitimasi untuk menjalankan diplomasi yang efektif,” ungkapnya.
Araghchi mengumumkan rencana berkelanjutan untuk menggelar konferensi internasional di berbagai provinsi strategis sebagai bagian dari perluasan diplomasi terdesentralisasi. Konferensi pertama telah dilaksanakan di Shiraz, sementara konferensi kedua yang dijadwalkan di Masyhad tertunda karena konflik bersenjata baru-baru ini. Namun, penyelenggaraannya akan dilanjutkan dalam waktu dekat.
Prioritas Diplomatik: Negara-Negara Tetangga Kunci Solusi Kawasan
Dalam penutupan pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa prioritas utama kebijakan luar negeri Iran tetap berada pada lingkup Kawasan.
“Negara-negara tetangga memiliki potensi besar untuk menjadi solusi atas berbagai tantangan kita. Kami menempatkan hubungan regional sebagai poros utama diplomasi, dan Kementerian Luar Negeri sepenuhnya mendukung langkah-langkah diplomasi berbasis provinsi,” tandasnya.
Pernyataan ini mencerminkan arah strategis baru Iran yang semakin menitikberatkan pada resistensi terstruktur dan kerja sama regional, sembari mengurangi ketergantungan pada poros kekuatan global yang selama ini memonopoli peta diplomasi dunia.
