Laporan JINSA: Hanya 201 dari 574 Rudal Iran yang Berhasil Dicegat Israel
POROS PERLAWANAN – Laporan terbaru dari Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika (JINSA) mengungkap bahwa Israel dan sekutunya hanya berhasil mencegat 201 dari 574 rudal yang diluncurkan Iran dalam konfrontasi besar-besaran bulan lalu. Data ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas sistem pertahanan udara Israel dan keberlanjutan stok rudal pencegat Amerika Serikat.
Menurut laporan yang dikutip Kantor Berita Mehr pada Jumat 25 Juli, sebuah lembaga pemikir kebijakan luar negeri berbasis di Washington, JINSA menyebut bahwa Amerika Serikat mengerahkan 92 unit rudal pencegat THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang mewakili sekitar 14% dari total inventaris sistem tersebut, dalam satu pertempuran saja.
Stok Rudal AS Tergerus, Pemulihan Bisa Makan Waktu 3–8 Tahun
Laporan itu memperkirakan bahwa untuk mengisi ulang stok rudal THAAD yang telah digunakan, Washington akan membutuhkan waktu antara 3 hingga 8 tahun, dengan catatan bahwa produksi tahunan sangat terbatas, hanya sekitar 23 rudal pada tahun ini dan maksimal 37 rudal hingga akhir tahun fiskal 2026.
Setiap rudal THAAD bernilai sekitar $12,7 juta, dan proses produksinya lambat karena tingkat kompleksitas tinggi serta kapasitas manufaktur terbatas.
Efektivitas Sistem dan Kekhawatiran Global
Sementara rudal THAAD menyumbang sekitar 50% dari total rudal pencegat yang ditembakkan selama serangan. Data menunjukkan bahwa hanya 201 dari 574 rudal Iran yang berhasil dihentikan. Bahkan, laporan JINSA mencatat bahwa saat intensitas serangan meningkat, tingkat keberhasilan intersepsi menurun 1–4%, menyoroti keterbatasan sistem ini dalam menghadapi serangan berintensitas tinggi.
Menurut analisis tersebut, mayoritas rudal Iran menghantam wilayah yang tidak berpenghuni. Namun, fakta bahwa sistem pertahanan udara AS dan Israel terkuras dalam satu konflik regional telah memicu kekhawatiran di Pentagon terutama dalam konteks kesiapan menghadapi potensi krisis di Asia-Pasifik atau konflik serentak di wilayah lain.
Persaingan Stok: Ekspor Senjata vs Kebutuhan Domestik
Masalah semakin rumit dengan adanya kontrak ekspor besar-besaran ke negara-negara sekutu seperti Arab Saudi dan Qatar. Riyadh, misalnya, menerima tujuh sistem THAAD beserta 360 rudal dalam kesepakatan senilai $15 miliar. Sementara itu, Qatar akan memperoleh sistem sejenis dalam paket senilai $42 miliar.
Menurut Wakil Presiden Kebijakan Luar Negeri JINSA sekaligus penulis utama laporan tersebut, Ari Cicurel, penggunaan besar-besaran rudal pencegat dalam konflik terakhir harus dijadikan peringatan serius bagi Kongres AS untuk mempercepat pendanaan pengisian ulang sistem pertahanan strategis Amerika.
“Operasi ini adalah pesan kuat kepada Teheran, Moskow, dan Beijing bahwa AS akan membela sekutunya. Namun, ke depan, kami harus membangun kembali cadangan kami, bahkan melebihi level sebelumnya,” ujarnya.
Selama konflik tersebut, sistem Patriot juga digunakan untuk melindungi pangkalan udara Al-Udeid di Qatar, dengan sekitar 30 rudal ditembakkan. Meski lebih murah dan dapat diproduksi lebih cepat, Patriot tidak memiliki jangkauan strategis setara THAAD.
