Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Kematian Pahlawan ‘No Other Land’ Awdah Hathaleen, Guncang Dunia: Tragedi Nyata dari Ramalan Film

Kematian Pahlawan ‘No Other Land’ Awdah Hathaleen, Guncang Dunia: Tragedi Nyata dari Ramalan Film

POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, dunia sinema dan aktivisme dikejutkan oleh kematian tragis aktivis Palestina sekaligus tokoh utama dalam film dokumenter peraih Oscar “No Other Land”, Awdah Hathaleen, yang ditembak mati oleh pemukim Israel pada Senin malam 28 Juli. Insiden tersebut terjadi di dekat desa Umm al-Khair, wilayah yang sejak lama menjadi simbol perjuangan warga Palestina menghadapi perampasan tanah dan kekerasan sistematis.

Hathaleen, 31 tahun, dikenal sebagai guru sekaligus suara moral dalam “No Other Land”, film yang menggambarkan kehidupan di bawah pendudukan dan penghapusan sistematis komunitas Palestina oleh pemukim Israel. Ironisnya, tema utama film tersebut kini menjadi kenyataan pahit, ketika suara kritisnya dibungkam secara brutal oleh kekuatan yang selama ini ia lawan.

Menurut saksi mata dan rekaman video yang beredar, penembakan dilakukan oleh pemukim ekstremis yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan masuk daftar hitam di Kanada, Inggris, dan Uni Eropa, Yinon Levi. Dia dilaporkan menembakkan pistol ke arah Hathaleen setelah menyerang lahan warga Palestina dengan alat berat. Hathaleen tertembak di bagian atas tubuh dan mengembuskan napas terakhir di Pusat Medis Soroka.

Reaksi pasukan Israel justru memperkuat kritik internasional terhadap sistem impunitas. Pasukan Pendudukan baru tiba setelah serangan berakhir, dan alih-alih menangkap pelaku, mereka justru menahan empat warga Palestina serta dua aktivis asing. Levi akhirnya ditangkap kemudian, namun insiden ini kembali menyoroti bahwa keadilan bagi warga Palestina di bawah pendudukan militer nyaris tidak pernah ditegakkan.

Pemukim dari pos terdepan Carmel bahkan merilis pernyataan yang membela tindakan tersebut dan menyerukan “penghapusan” bangunan milik warga Palestina, tanpa menyebut nama korban. Rekaman insiden menunjukkan Levi menembakkan pistol ke udara dengan buldoser besar di belakangnya, sebuah gambaran simbolis dari tema “No Other Land”: penggusuran paksa, pencurian tanah, dan kekerasan yang dilindungi negara.

Tokoh politik seperti Anggota Knesset, Gilad Kariv dari Partai Buruh menyalahkan pemerintah sayap kanan Israel atas meningkatnya kekerasan pemukim. Kelompok HAM Peace Now pun menilai bahwa teror pemukim tak hanya menghancurkan komunitas Palestina, tetapi juga merusak sistem hukum Israel sendiri.

Pembunuhan Hathaleen bukanlah kasus tunggal. Sejak awal 2024, kekerasan di Tepi Barat meningkat drastis. Hanya dalam beberapa hari terakhir, beberapa warga Palestina lainnya, termasuk Wadee Samara dan Muhammad Al-Jamal, juga tewas oleh tembakan pasukan Israel.

Kematian Hathaleen menjadi cerminan nyata dari tragedi yang selama ini diperingatkan melalui “No Other Land”. Ketika parlemen Israel baru saja menyetujui rancangan UU yang mengklaim “kedaulatan” atas Tepi Barat, suara-suara perlawanan seperti milik Hathaleen menjadi lebih penting dan lebih terancam daripada sebelumnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *