Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Jajak Pendapat: Mayoritas Yahudi Israel Tak Terganggu Kelaparan Gaza

POROS PERLAWANAN – Bencana kelaparan di Gaza rupanya bukan masalah besar bagi mayoritas warga Yahudi Israel. Menurut jajak pendapat terbaru Institut Demokrasi Israel (IDI), 79% dari mereka mengaku tidak terganggu sama sekali atau hanya sedikit terganggu oleh penderitaan dan kelaparan yang melanda dua juta warga Palestina di wilayah yang diblokade itu.

Pertanyaan survei cukup sederhana: “Seberapa besar Anda terganggu oleh laporan kelaparan dan penderitaan di Gaza?”

Jawabannya? 55,6% mengatakan “tidak terganggu sama sekali”, dan 23,4% “tidak terlalu terganggu”. Hanya 21% yang merasa terusik.

Sebaliknya, warga Palestina yang memiliki kewarganegaraan Israel memberikan respons terbalik: 86% mengaku terganggu, dengan setengahnya menyatakan “sangat terganggu”.

Bukan karena Tidak Tahu

Ketidakpedulian ini bukan soal ketidaktahuan. Meski Perdana Menteri Benyamin Netanyahu masih mengeklaim “tidak ada kelaparan di Gaza”, berita tentang kelaparan ini telah muncul di saluran-saluran utama Israel. Bahkan Channel 14 sempat mengejek korban kelaparan, memajang foto anak kurus bersama ibunya sambil melontarkan komentar sadis seperti “wanita ini makan seekor kambing utuh” atau “makan anaknya sendiri”.

Publik Israel juga mengetahui kebijakan pemerintah mereka yang disengaja untuk membatasi bantuan kemanusiaan. Channel 13 baru-baru ini membocorkan transkrip rapat Kabinet Maret 2025, yang menunjukkan strategi sadar untuk menghentikan semua bantuan demi “memecah-belah Hamas”

Dari Penyangkalan ke Ketidakpedulian

Tahap perdebatan soal “apakah orang tahu” sudah lewat. Semua orang tahu, dan sebagian besar memilih untuk tidak peduli. Bahkan survei-survei sebelumnya memperkuat tren ini: pada Juni lalu, lebih dari 75% warga Yahudi Israel “sangat setuju” bahwa “tidak ada orang tak bersalah di Gaza”. Pada Februari, 82% mendukung rencana pembersihan etnis ala Trump.

Tentu, masih ada suara berbeda: organisasi HAM seperti B’tselem dan PHRI menyebut kebijakan Israel di Gaza sebagai genosida, dan penulis terkenal, David Grossman mengakuinya secara terbuka. Namun dengan mayoritas publik yang tampak nyaman membiarkan kelaparan massal berlangsung, prospek perubahan dari dalam tampak tipis.

Kesimpulan yang Pahit

Jajak pendapat ini, secara halus, adalah ukuran dukungan publik terhadap genosida — hanya saja kata itu tidak tercetak di kertas survei. Sementara warga Gaza berjuang untuk bertahan hidup di tengah blokade, mayoritas Yahudi Israel tampaknya lebih sibuk dengan urusan pribadi.

Bagi dunia luar, pesan ini jelas: menunggu “Israel yang berbeda” muncul di tengah kita, mungkin sama sia-sianya seperti menunggu roti tiba di meja makan Gaza. Sebab “Bukan masalah saya”, sudah menjadi kebijakan nasional mereka, baik rezim maupun warga yang mendukungnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *