Iran Kembali Jadi Pusat Permainan Diplomasi: Oslo Siap Gantikan Muscat di Perundingan Nuklir
POROS PERLAWANAN – Iran kembali membuktikan dirinya sebagai aktor yang tidak bisa diabaikan dalam percaturan global. Setelah gempuran Militer AS–Israel di bulan Juni gagal mematahkan posisinya, Teheran justru bersiap memasuki babak baru perundingan nuklir — kali ini dengan Norwegia yang digadang-gadang menggantikan Oman sebagai mediator utama.
Sumber diplomatik yang dekat dengan lingkaran negosiasi mengungkapkan kepada Tehran Times bahwa Iran dan Amerika Serikat telah menyatakan kesiapan memulai pembicaraan tidak langsung. Bedanya, kali ini Teheran menegaskan bahwa kompensasi atas kerusakan akibat perang akan menjadi syarat mutlak, bukan sekadar klausul tambahan. Artinya, pembicaraan ini tak hanya soal nuklir, tetapi juga soal harga yang harus dibayar Washington atas serangan yang ikut meruntuhkan infrastruktur sipil dan militer Iran.
Dari Serangan ke Serangan Balik
Rencana putaran keenam perundingan pada Juni lalu hancur seketika ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke fasilitas nuklir dan militer Iran. Dalam hitungan hari, AS ikut masuk langsung ke medan tempur, mengirim pembom siluman B-2. Namun, bukannya terpojok, Iran meluncurkan serangan rudal balasan yang melumpuhkan sebagian infrastruktur strategis Israel dan bahkan menghantam Pangkalan Udara AS, Al Udeid di Qatar — jantung operasi militer Washington di Asia Barat.
Hasilnya, di akhir konflik, laporan intelijen Barat sendiri mengakui: stok rudal pertahanan udara Israel dan AS di Kawasan nyaris habis. Lebih dari 31.000 bangunan di Israel hancur atau rusak parah, sementara Iran mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya.
Norwegia Masuk Panggung
Kunjungan mendadak Wakil Menteri Luar Negeri Norwegia, Andreas Kravik, ke Teheran minggu ini menjadi sinyal kuat bahwa Oslo siap mengambil alih peran Muscat. Langkah ini bukan tanpa modal: Norwegia adalah salah satu sedikit negara Barat yang terbuka mengutuk perang Israel terhadap Iran, dan hubungan diplomatiknya dengan Teheran relatif stabil.
Tekanan Internal dan Kalkulasi Kekuatan
Meski peluang diplomasi terbuka, jalan Iran menuju meja perundingan tidak tanpa hambatan. Faksi konservatif, seperti Saeed Jalili — mantan negosiator nuklir yang berpengaruh — mengecam keras wacana negosiasi, menyamakan tawaran dialog dengan “penyembahan Anak Sapi Emas” dalam kisah kitab suci. Namun, elite politik dan militer Iran kompak pada satu hal: kesiapsiagaan total. Percepatan penguatan sistem pertahanan dan pembentukan Dewan Pertahanan baru menjadi bukti bahwa Iran tetap mengantisipasi potensi perang.
Garis Merah Teheran
Sejak era JCPOA 2015, Iran konsisten mempertahankan hak memperkaya uranium untuk tujuan sipil. Serangan AS–Israel tak mengubah posisi itu. Pesannya jelas: Iran mau berunding, tetapi dari posisi sejajar, bukan di bawah tekanan.
Analis meyakini jika Washington ingin hasil, ia harus menerima realitas bahwa Iran hari ini bukanlah negara yang mudah diintimidasi. Dari medan perang hingga meja diplomasi, Teheran menunjukkan bahwa mereka memegang kendali atas jalannya permainan.
