Raouche Rock Menyala: Rakyat Lebanon Berikrar Setia di Hadapan Wajah para Syuhada Perlawanan
POROS PERLAWANAN— Dilansir Al Mayadeen, pada malam yang dipenuhi haru dan tekad, Raouche Rock, batu karang abadi yang menjulang megah di pantai barat Beirut, berubah menjadi panggung perlawanan yang bersinar. Gambar dua tokoh syuhada agung, Sayyid Hasan Nasrallah dan Sayyid Hashim Safiuddin diproyeksikan ke permukaan batu tersebut, menjadi saksi bisu dari kesetiaan rakyat Lebanon terhadap jalan perjuangan dan darah syuhada.
Ribuan pendukung Perlawanan dari berbagai daerah membanjiri kawasan pesisir, menjadikan malam itu bukan sekadar peringatan, melainkan pernyataan bahwa perjuangan belum selesai, dan bendera perlawanan tidak akan diturunkan.
Acara ini menandai satu tahun gugurnya Sayyid Hasan Nasrallah pada 27 September 2024, dan mendekati haul kesyahidan Sayyid Hashim Safiuddin pada 3 Oktober tahun yang sama. Keduanya dikenang bukan hanya sebagai pemimpin Gerakan Perlawanan, melainkan sebagai lambang keteguhan, keikhlasan, dan pengorbanan suci bagi Tanah Air dan umat.
Diselenggarakan oleh Departemen Hubungan Media Hizbullah, peringatan ini dirancang penuh makna tampilan visual maritim, pencahayaan bendera Lebanon, dan sorotan wajah para syuhada menghiasi Raouche Rock, bukan sebagai objek wisata, melainkan sebagai monumen semangat perlawanan. Diiringi pekikan takbir dan nyanyian perjuangan, batu itu kini berdiri bukan hanya sebagai batu alam, melainkan batu saksi dari janji umat yang tak akan berkhianat.
Dalam puncak acara, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menyampaikan pidato yang mengguncang kesadaran dan menguatkan barisan. Ia memperingati pula kesyahidan Komandan Ibrahim Aqil dan para pejuang Pasukan Radwan, sekaligus menghormati peran penting Hajj Abdul Qader, sosok yang ia sebut sebagai “salah satu pilar utama jihad Islam modern di Lebanon”.
“Syahid Abdul Qader melawan invasi 1982, memimpin pelatihan mujahidin, dan berdiri di front terdepan dalam operasi Ansariya dan Perang 2006. Pengorbanannya adalah teladan bagi setiap pejuang yang mendambakan tanah merdeka,” ujar Syekh Naim.
Ia juga mengulas peran Komandan Aqil di medan Suriah, khususnya di Qusayr dan Qalamoun, serta perannya sebagai wakil setia Sayyid Nasrallah sejak 2008. “Kami belajar dari para syuhada bahwa kemenangan bukanlah hasil dari diplomasi yang lemah, melainkan dari pengorbanan dan tekad tak tergoyahkan,” tegasnya.
Dalam akhir pidatonya, Syekh Naim menegaskan bahwa Perlawanan tidak akan goyah meskipun digempur Israel dan Amerika. “Perlawanan ini adalah jalan para syuhada, jalan Sayyid Hasan Nasrallah, Sayyid Hashim Safiuddin, Abdul Qader, dan semua yang telah menulis sejarah dengan darahnya. Kami berdiri dari posisi kekuatan, bukan kelemahan. Kami tidak akan menerima apa pun selain pembebasan penuh.”
“Pendukung Perlawanan memegang senjata bukan karena cinta perang, tapi karena mereka telah merasakan buah dari kehormatan dan pembebasan. Dan selama penjajah masih menodai tanah kami, kami akan tetap berdiri.”
Malam itu, Raouche Rock bukan sekadar batu. Ia menjadi mercusuar cahaya bagi bangsa yang bertekad hidup merdeka atau mati sebagai syuhada.
