Tentang Gaza dan Kelaparan yang Dijadikan Senjata
POROS PERLAWANAN— “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali’.” (Surah Al-Baqarah:155–156)
Ayat di atas seakan menjelma nyata di Gaza. Di tanah kecil yang padat di tepi Laut Mediterania itu, ujian hidup datang dalam bentuk paling telanjang: kelaparan. Bukan karena gagal panen atau bencana alam, melainkan akibat sebuah blokade panjang yang menjadikan makanan sebagai senjata perang. Gaza, yang dulu dikenal dengan pasar kurma dan kebun zaitun, kini berubah menjadi penjara terbuka.
Kota yang Dikepung
Hampir dua tahun penuh, Gaza hidup dalam cengkeraman blokade total. Tidak ada listrik yang stabil, tidak ada obat-obatan yang mencukupi, bahkan sebutir roti pun kini bernilai nyawa. Setiap truk bantuan yang masuk diperlakukan seperti trofi politik, setiap kantong gandum menjadi rebutan, dan setiap antrean panjang sering berakhir dengan suara tembakan.
Anak-anak Gaza tumbuh dengan perut kosong. Tubuh-tubuh kecil mereka menyusut, mata cekung mereka seperti lubang hitam yang menelan nurani dunia. Para ibu kehabisan air mata, menyaksikan bayi mereka meninggal bukan karena bom, tetapi karena susu tak lagi bisa mereka beli.
Kelaparan di Gaza bukan bencana alam. Kelaparan itu diciptakan dengan sengaja, dirancang dengan presisi. Sebuah eksperimen kejam yang menempatkan satu bangsa di bawah tekanan berlapis, sebuah blokade ekonomi, penghancuran infrastruktur, dan manipulasi psikologis melalui rasa lapar.
Normalisasi Kekejaman
Lebih mengejutkan daripada tragedinya adalah bagaimana dunia menyikapinya. Kematian massal, pembantaian, hingga runtuhnya rumah sakit seakan menjadi tayangan rutin. Media menyiarkan, dunia menonton, lalu kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Kebisuan lembaga internasional adalah ironi paling pahit. PBB, organisasi hak asasi manusia, hingga lembaga perdamaian dunia, semua terlihat seperti cangkang kosong. Kata-kata mereka nyaring, tetapi langkah mereka lumpuh. Gaza telah menjadi panggung di mana seluruh jargon kemanusiaan diuji, dan gagal total.
Kenyataan bahwa tragedi ini bisa berlangsung di abad ke-21, era yang membanggakan kecerdasan buatan, perjalanan antariksa, dan teknologi supercanggih, justru menunjukkan kontradiksi besar, bahwa kita berhasil menciptakan mesin pintar, tetapi gagal menjaga nurani manusia.
Sejarah yang Berulang
Bagi rakyat Palestina, kelaparan hanyalah bab terbaru dari sebuah naskah panjang. Sejak awal berdirinya “negara” haram Israel pada 1948, perampasan tanah, pengusiran massal, hingga pembantaian sudah menjadi bagian dari memori kolektif. Sejarah itu bukan semata catatan akademis; namun hidup di setiap keluarga yang kehilangan rumah, di setiap kunci tua yang diwariskan sebagai simbol hak kembali, di setiap makam tanpa nisan yang menyimpan cerita luka.
Apa yang terjadi hari ini adalah kelanjutan dari proyek kolonial yang disokong kekuatan besar dunia. Israel tidak berdiri sendiri. Israel berdiri di atas jaringan aliansi politik, ekonomi, dan militer yang kompleks. Dukungan tanpa syarat dari Amerika Serikat, pembiaran Eropa, serta sikap ambigu banyak negara Arab menjadikan Palestina sebagai korban dari permainan geopolitik yang lebih besar.
Ironisnya, sebagian pemimpin Barat bahkan terang-terangan mengakui bahwa Israel adalah pelaksana “pekerjaan kotor” mereka di Timur Tengah. Pernyataan seperti itu membuka tabir realitas, bahwa Gaza bukan hanya soal konflik lokal, melainkan bagian dari proyek global yang ingin menata ulang peta politik dengan cara-cara paling brutal.
Wajah Dunia yang Retak
Ini bukan tentang menyalahkan satu bangsa semata, tetapi tentang menyingkap kebisuan dunia. Ketika kelaparan digunakan sebagai senjata, dan dunia tetap memilih diam, maka seluruh umat manusia ikut bersalah.
Hari ini, Gaza adalah cermin. Gaza memperlihatkan kepada kita wajah peradaban yang retak, di mana dunia yang terbiasa dengan penderitaan, dunia yang kehilangan kepekaan, dunia yang lebih sibuk menghitung keuntungan ekonomi daripada menghargai hidup manusia.
Foto-foto anak-anak Gaza yang tinggal kulit dan tulang-belulang, bertebaran dan beredar luas di media sosial. Namun alih-alih membangkitkan aksi nyata, foto-foto itu lebih sering berakhir sebagai konsumsi visual, disukai, dibagikan, lalu dilupakan…. Normalisasi kekejaman inilah yang paling berbahaya, karena begitu dunia terbiasa dengan penderitaan, maka tidak ada lagi batas antara kemanusiaan dan kebiadaban.
Gaza sebagai Ujian Moral
Pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya, sampai kapan Gaza bisa bertahan? Melainkan juga, sampai kapan dunia bisa berpaling?
Tragedi Gaza bukan hanya tragedi Palestina, melainkan tragedi moral global. Tregedi yang menguji setiap individu, setiap bangsa, setiap lembaga, apakah kita masih memiliki nurani untuk berkata “cukup sudah”?
Jika perang biasanya merampas nyawa dengan peluru, maka di Gaza nyawa dirampas dengan roti yang tak pernah sampai. Jika kolonialisme biasanya hadir dengan tentara, maka di sini, Gaza hadir dengan rasa lapar yang dibuat sistematis.
Ini adalah genosida dalam bentuk paling sunyi, anak-anak mati bukan karena ledakan, melainkan karena lambung mereka kosong terlalu lama. Sementara dunia, yang seharusnya berteriak, justru memilih menonton dengan mata telanjang.
Sebuah Seruan Kemanusiaan
Gaza mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membawa kemajuan moral manusia. Kita bisa mengirim roket ke Mars, tetapi gagal mengirim hanya sekadar tepung ke Gaza. Kita bisa membangun kota cerdas, tetapi membiarkan satu kota mati kelaparan bersama-sama.
Kemanusiaan tidak bisa dinegosiasikan. Gaza adalah ujian sejarah, bukan hanya bagi Palestina, melainkan bagi seluruh umat manusia.
Namun di tengah gelapnya blokade, Gaza juga memancarkan cahaya kesabaran. Anak-anak yang tetap tersenyum meski perut kosong, keluarga yang kehilangan segalanya tetapi tetap berpegang pada doa, adalah bukti bahwa iman mampu bertahan bahkan di tengah kelaparan yang disengaja.
Seperti firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah (155–156), Gaza hari ini adalah wajah nyata dari ujian itu, bahwa penderitaan yang kejam, sekaligus kesaksian tentang ketabahan manusia. Di hadapan ujian ini, dunia dituntut memilih, menjadi saksi yang diam, atau berdiri bersama mereka yang sabar dan tegar, yang kelak tercatat berada di sisi kebenaran.
